<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852</id><updated>2012-02-03T21:29:54.521+07:00</updated><category term='FORUM'/><category term='LINGKUNGAN'/><category term='LAIN-LAIN'/><category term='ESAY'/><category term='KISAH'/><category term='SERAMBI SENJA'/><category term='NARASI'/><title type='text'>DUSUN SENJA NANOQ DA KANSAS</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>112</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7417263440442781560</id><published>2012-01-29T14:45:00.000+07:00</published><updated>2012-01-29T14:45:47.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Bali, Buruh, Bangkrut!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ADA yang menggelitik dari lontaran beberapa sumber media ini. Ketika ditanya, jika mereka punya borongan, proyek, atau sekedar pekerjaan insidentil yang harus menggunakan buruh, tenaga buruh mana yang akan mereka pilih, buruh lokal Bali atau dari luar?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban mereka seragam. Bahwa mereka akan menggunakan buruh luar, terutama dari Jawa. Alasannya, buruh dari Jawa upahnya lebih murah tetapi sanggup mengerjakan apa saja, dan, yang terpenting, kerjanya cepat. Beda dengan buruh lokal (Bali), sudah kerjanya lamban, banyak libur karena alasan upacara, ongkosnya juga lebih mahal. Di amping itu, buruh Bali sangat memilih pekerjaan. “Mana mau mereka mengerjakan galian got di jalan? Mana mau mereka disuruh memanjat tiang listrik? Mana mau mereka disuruh memanjat menara?” demikian beberapa orang pemborong.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan saat ini jika dicermati, tenaga buruh untuk memanen padi pun sudah banyak yang didatangkan dari Jawa. Mereka datang dengan lahir dan batin yang sangat siap untuk bekerja. Mereka rela berminggu-minggu mondok di bawah tenda-tenda darurat dari kain bekas di seantero areal sawah yang sedang dipanen. Sementara itu, para pengangguran lokal dengan santai sambil bersiul-siul lewat tak peduli.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah salah satu persoalan yang dihadapi Bali di seputar dunia perburuhan. Hampir seluruh  pekerjaan kasar dalam skala besar diserahkan begitu saja kepada buruh dari luar. Sementara itu para tenaga muda lokal yang merasa dirinya sebagai tuan rumah, merasa lebih nyaman dengan status mengganggurnya sembari berharap semoga ada investor yang membuat hotel berbintang, vila, lapangan golf, atau art shop di kampungnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika situasi sudah sangat mendesak harus bekerja, tenaga muda dan produktif lokal Bali buru-buru merayu orang tuanya, buru-buru rapat keluarga untuk berembug menjual tanah warisan. Bukan untuk apa-apa, tetapi mereka butuh biaya banyak untuk melamar pekerjaan menjadi PNS, atau menjadi polisi, atau buat sekolah diploma bidang kepariwisataan. Banyak sekali anak-anak muda Bali yang bersekolah di bidang kepariwisataan memaksa orang tuanya untuk menjual sawah atau kebun, karena mereka perlu biaya tinggi untuk training di luar negeri. Maka demikianlah, berbekal uang hasil menjual tanah warisan, anak-anak muda Bali dengan gagah dan perlente berangkat ke Singapur untuk training menjadi buruh hotel atau buruh kapal pesiar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah usai training di luar negeri, mereka pun kembali harus nganggur menunggu lowongan. Bagi mereka yang bernasib lebih baik, panggilan kerja dari sebuah kapal pesiar di Amerika, Hongkong atau Eropa datang lebih cepat. Tetapi karena uang hasil menjual warisan sudah keburu habis untuk training di luar negeri dan bekal selama menunggu panggilan, maka untuk berangkat memenuhi panggilan kerja di kapal pesiar di Amerika, orang tua mereka kembali harus meminjam uang di bank dengan jaminan sertifikat tanah warisan yang tersisa sepetak kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fenomena ini menunjukkan, betapa kondisi perburuhan di Bali sejatinya sangat konyol, kekanak-kanakan dan tak masuk akal. Pekerjaan nyata di halaman rumah sendiri tak sudi mereka lakukan karena dianggap kasar dan kotor, tetapi pekerjaan yang seolah-olah elit di negeri nun jauh di sana mereka kejar dengan ongkos yang tak masuk akal pula. Para buruh kasar dari luar Bali dengan rela dan iklas berjibaku dengan lumpur got, berjibaku dengan terik matahari dan guyuran hujan angin, lalu pulang ke kampung halamannya dengan perasaan legowo berikut uang nyata. Bahkan tidak mustahil di kampung halamannya mereka bisa membeli sepetak tanah atau membangun warung kecil untuk istrinya dari ongkos berburuh di Bali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, para buruh Bali yang berangkat ke luar negeri mendapat kenyatan bahwa sebesar-besar gaji yang mereka terima yang berbentuk dolar atau euro, tak kunjung cukup dikumpulkan untuk melunasi hutang dan menebus tanah warisan yang telah terjual.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika mau jujur, pergeseran dan pengalih-fungsian lahan di Bali juga ada kaitannya dengan dunia perburuhan. Penduduk lokal yang lebih memilih “pekerjaan bersih” di hotel-hotel berbintang di luar negeri, di kapal pesiar dan sejenisnya, dengan gembira mengalih-fungsikan sawah atau kebunnya kepada para investor luar untuk dijadikan hotel, vila atau pusat perbelanjaan baru. Maka bukanlah sesuatu yang mengada-ada, bila beberapa tahun ke depan Bali akan semakin bangkrut gara-gara persoalan buruh ini!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7417263440442781560?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7417263440442781560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2012/01/bali-buruh-bangkrut.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7417263440442781560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7417263440442781560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2012/01/bali-buruh-bangkrut.html' title='Bali, Buruh, Bangkrut!'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-3818870784735729884</id><published>2012-01-24T16:09:00.000+07:00</published><updated>2012-01-24T16:09:24.449+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Lumpuhnya Potensi Desa karena Tipuan Industri Pariwisata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENGINGKARAN atas kesejatian lokal dalam pembangunan Bali untuk memaksakannya menjadi elit itulah yang justru menciptakan kemiskinan demi kemiskinan dalam aspek sosial dan ekonomi serta budaya masyarakat Bali secara umum. Pencekokan ide-ide absurd yang justru memenjara Bali ke dalam eksotisme yang absurd pula selama ini, jelas-jelas mengerdilkan. “Sejauh ini Bali sudah dijadikan bonsai oleh para elit yang berkolaborasi dengan kapitalis rakus, baik itu elit lokal maupun pusat. Bali, memang tetap indah dan memesona, tetapi tak berdaya apa-apa. Seperti itulah bonsai,” lanjut aktivis Komunitas Kertas Budaya (Jembrana-Bali) ini dengan nada pesimis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama ini, eksotisme yang berhasil dibangun dengan rapi oleh para elit dan kapitalis atas Bali, telah menyedot sumber daya manusia di seluruh pedesaan Bali untuk pergi menyerahkan nasib mereka ke satu-satunya industri yang ada, yakni pariwisata, yang celakanya hanya dipusatkan di kawasan tertentu di Bali. Alangkah bangganya generasi muda pedesaan Bali jika bisa menjadi tukang kebun atau juru pel lantai dan toilet hotel, pelayan restoran bule, penjahit di garmen-garmen milik orang asing atau tukang jinjing papan selancar di kawasan Badung Selatan. Sementara itu di rumah, di desa-desa mereka, sepetak kebun dan sawah dibiarkan terbengkalai atau dijual kepada orang-orang kaya baru dari daerah tertentu yang telah menjual tanahnya untuk infrastruktur industri pariwisata. Yang meninggalkan sawah di desa terkadang masih beruntung karena orang tua mereka terpaksa menyewa orang lain untuk menggarap sawahnya. Terutama yang meninggalkan sepetak kebun di desanya, maka kebun itu pun akhirnya hanya menjadi hamparan semak belukar atau alang-alang liar. Potensi yang ada di desa pun pelan dan pasti menjadi lumpuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan alasan modernisasi pertanian, dulu, dari meja kerjanya di bilik-bilik gedung megah para elit mengiming-imingi petani di seantero pedesaan Bali agar menanami kebunnya dengan tanaman komoditi ekspor. Pohon kelapa, mangga, sawo, durian, &lt;i&gt;ceroring, kepundung&lt;/i&gt; dan sejenisnya ditebangi, diganti dengan vanili, cengkeh, coklat atau tanaman buah-buahan dari luar negeri. Karena indahnya iming-iming tersebut yang juga tanpa disertai sosialisasi memadai mengenai klasifikasi tanaman komiditi ekspor yang cocok, maka hanya sebagian kecil petani yang bisa merasakan hasilnya. Sementara yang ketiban sial karena tanahnya tidak cocok untuk cengkeh, tidak cocok untuk coklat dan seterusnya, tinggal gigit jari. Maka ketika turis butuh makan buah, dengan segeralah para kapitalis mengekspor jeruk dari China, apel dari New Zaeland, anggur dari Bangkok, beras dari Siam, kedelai dari Amerika, dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penduduk Bali yang kehidupan sehari-harinya dipenuhi ritual yang konsepnya senantiasa berselaras dengan alam semesta sehingga selalu memakai sarana ritual dari alam semesta juga, terpaksa membelinya dari luar pulau. Pisang sudah langka di Bali karena pohon pisang lokal ludes oleh hama busuk batang akibat imbas dari pembudidayaan membabi buta jenis pisang hasil silangan para alhi pertanian tempo hari. Buah-buahan untuk sesajen juga mau tak mau harus yang impor yang kini mudah dibeli di pasar umum hingga ke warung-warung pinggir jalan. Padahal harga buah-buahan tersebut jauh di atas dan tidak sebanding dengan hasil penjualan biji coklat, buah vanili, bunga cengkeh yang ternyata sepenuhnya berserah pada kemauan pasar global.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka begitulah, eksotisme Bali yang ada kini hanyalah eksotisme yang absurd, instan dan hambar, serta rapuh. Padahal, yang dulu menjadikan Bali bersinar, yang menjadikan Bali sebagai &lt;i&gt;Morning of the World&lt;/i&gt; (kata teman yang mengutip Nehru), adalah kehidupan yang ada di desa-desa yang merupakan kesejatian Bali itu sendiri. Bali dengan warganya yang tumbuh berkembang secara alamiah bersama sawah dan subak, bersama kebun-kebun jagung, kesela, palawija dan buah-buahan lokal semacam &lt;i&gt;kepundung, ceroring, katulampo, poh gandarasa, poh golek, poh gedang&lt;/i&gt;, duren, manggis, &lt;i&gt;biyu buluh, biyu raja, biyu ketip, biyu gedangsaba&lt;/i&gt;. Bukan Bali yang dikembangkan dengan instan mengikuti konsep aneka &lt;i&gt;fast food &lt;/i&gt;impor itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena kalau mau jujur, Bali sampai saat ini toh tetap saja membutuhkan jagung, &lt;i&gt;kesela&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;kesawi&lt;/i&gt;, undis, &lt;i&gt;kepundung&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;ceroring&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;katulampo&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;poh gandarasa&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;poh golek&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;poh gedang&lt;/i&gt;, duren, manggis, &lt;i&gt;biyu buluh&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;biyu raja&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;biyu ketip&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;biyu gedangsaba&lt;/i&gt; dalam kehidupan sehari-harinya. Dan betapa lucunya jika semua itu sekarang harus dibeli Bali dari luar sana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pemiskinan Sistematis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang terungkap di atas tadi adalah sekaligus merupakan proses pemiskinan yang berjalan secara sistematis di Bali. Karena sejatinya pula, sistematika pemiskinan itu sendiri bermuara pada ujung di mana (dalam hal ini) Bali akhirnya sepenuhnya bergantung pada kebaikan hati pihak luar. Kini Bali bergantung pada kebaikan hati petani-petani dari Jawa agar bisa mendapatkan bahan baku lokal untuk makan hingga menunaikan upacara adat dan agama. Bali bergantung pada kebaikan hati para kapitalis di pusat-pusat bisnis dan pariwisata agar generasi mudanya bisa ikut meburuh alias berkuli. Bali bergantung pada kebaikan hati cukong-cukong pasar global agar mau membeli cengkeh, biji coklat dan buah vanili para petaninya yang tak seberapa. Bali bergantung sepenuhnya pada kebaikan hati para tengkulak negara maju agar industri kerajinan masyarakatnya semacam ukir-ukiran cenderamata, patung, hingga sablonan kaos oblong bisa diekspor dengan harga setengah mati murahnya. Yah, daripada jadi sampah lapuk atau dimakan rayap, semuanya diiklaskan saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal tenaga kerja, ketergantungan Bali kepada pihak luar yang celakanya juga tak lain adalah para kapitalis, juga luar biasa besarnya. Soalnya sihir industri pariwitasa yang demikian glamour, telah membunuh keyakinan masyarakat untuk membekali dirinya dengan pendidikan yang baik dan sesuai. Hampir seluruh orang tua di Bali mendorong anaknya cukup bersekolah sampai SLTA saja. Sesudah itu pergilah ke pusat-pusat pariwisata untuk berkuli. Tak peduli entah hanya (seperti sudah disinggung tadi) jadi tukang kebun atau tukang pel lantai hotel, pelayan restoran, penjaga toko swalayan, penjahit di garmen-garmen, tukang kumpulin botol-botol miras di bar, tukang amplas dan semir patung, terserah. Yang penting dekat dengan turis, habis perkara!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenapa para orang tua di Bali memilih jalan tersebut untuk anak-anak mereka? Karena sekolah butuh biaya tinggi. Dan biaya tinggi itu sungguh tidak mampu ditebus dengan hasil pertanian yang telah lama dikesampingkan di Bali, tak mampu ditebus dengan penghasilan dari usaha-usaha kerajinan, tak mampu ditebus dengan penghasilan dari berkuli.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka manajemen atas perekonomian di Bali pun dikelola sepenuhnya oleh SDM dari luar yang tentu saja datang dengan nafsu kapitalistik bergelora menyamai badai El Nina dan Katrina di Samudera Pasifik. Pendapatan atau gaji besar lari ke luar, uang receh barulah dibagikan kepada tenaga kerja lokal. “Jika membicarakan semua ini, entah karena kita sekarang baru &lt;i&gt;ngeh&lt;/i&gt; atau karena sudah prustasi, tentulah tak habis-habisnya. Bahwa Bali memang miskin adanya. Dari semula miskin, lalu terus dibuat miskin, maka kemiskinan beranak-pinaklah ujungnya. Hanya satu solusinya, kemauan dan tekad para elit bersama-sama seluruh masyarakat di Bali untuk merombak total kebijakan pembangunan yang selama ini berorientasi borjuis, kembali kepada kesejatian dan kedaulatan lokal Bali itu sendiri!” Demikian beberapa gelintir pemikir muda Bali bergumam. Hanya gumam!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-3818870784735729884?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/3818870784735729884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2012/01/lumpuhnya-potensi-desa-karena-tipuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/3818870784735729884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/3818870784735729884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2012/01/lumpuhnya-potensi-desa-karena-tipuan.html' title='Lumpuhnya Potensi Desa karena Tipuan Industri Pariwisata'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8079127806967442588</id><published>2011-08-05T19:46:00.000+07:00</published><updated>2011-08-05T19:46:16.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Merdeka Sambil Melarat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya tidak memasang bendera di rumah. &lt;i&gt;Males&lt;/i&gt;, soalnya kian hari negeri ini kian amburadul,” ujar seorang warga di sebuah warung kopi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ucapan warga ini tentu saja mendapat reaksi beragam dari beberapa orang yang juga ada di warung itu. Ada yang cuma tertawa, ada yang mendebat tidak terima. “Persoalan amburadul atau tidak, itu tidak ada hubungan dengan ulang tahun kemerdekaan. Kita harus menghormati hari suci ini. Sama dengan hari raya dalam agama, Hari Ulang Tahun Kemerdekaan adalah juga hari suci bagi bangsa kita,” sengit orang itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mudah dapat ditebak kemudian sebuah perdebatan seru berlangsung di warung kopi di pojok perempatan dekat &lt;i&gt;bale banjar&lt;/i&gt; itu. Warga yang enggan memasang bendera tersebut membantah keras jika dirinya dikatakan tidak menghormati negara hanya gara-gara tidak memasang bendera di bulan Agustus. Dia mengatakan bahwa dengan tidak memasang bendera, tak sedikit pun rasa hormat dan taatnya kepada negara berkurang. “Rasa hormat dan ketaatan bernegara tidak bisa hanya diukur dari memasang bendera merah putih atau tidak memasangnya di bulan Agustus. Bagaimana kalau saya memasang bendera tetapi hati saya justru tidak tenteram dan tidak iklas?” tanyanya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perdebatan masih berlangsung lama di warung kopi itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ini bukanlah cerita fiksi. Bahwa persoalan kemerdekaan beserta kelanjutannya berupa kesuksesan pembangunan bagi negeri yang besar ini, ternyata belumlah berhenti untuk menjadi perdebatan. Selalu ada yang merasa tidak enak hati dengan istilah merdeka itu. Merdeka kok banyak yang tidak mampu beli beras? Merdeka kok sekolahkan anak saja mahal sekali? Merdeka kok cari pekerjaan saja sulit setengah mati? Merdeka kok biaya berobat tak terjangkau rakyat kecil? Merdeka kok ada perbedaan mencolok antara kaya raya dan miskin sampai mati? Merdeka kok ada intimidasi?  Merdeka kok bangkrut? Merdeka kok anu...? Dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa pun boleh menilai dan mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut kurang bermutu, naif, tidak cerdas, bahkan konyol. Tetapi siapa pun juga tetap punya hak untuk melontarkan pertanyaan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sambil Melarat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak Republik ini merdeka, seluruh rakyat Indonesia memiliki satu tujuan yakni meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Demikian pula dengan pemerintah, bahwa setiap pemerintahan yang berkuasa di negeri ini memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, berarti sejak dulu hingga sekarang rakyat dan pemerintah Indonesia telah memiliki tujuan yang sama, yakni peningkatan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaanya, kenapa sampai saat ini kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia itu tidak juga terwujud padahal hal itu merupakan tujuan bersama antara rakyat dan pemerintah?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walau kedengaran sangat naif, pertanyaan ini sangat mendasar. Sebab, realitas yang ada dengan gamblang menunjukkan kepada kita semua, bahwa yang bernama kesejahteraan bersama itu hingga detik ini masih hanya sebatas fatamorgana. Yang jelas-jelas ada hanyalah “kesejahteraan tidak bersama”. Pemerintah boleh saja setiap semester mengaku telah berhasil mengurangi kemiskinan sekian persen atau sekian digit dari sebelumnya, tetapi ketimpangan ekonomi toh tak beranjak dari kehidupan bersama sehari-hari. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di ulang tahun kemerdekaan yang ke-66 ini misalnya, seharusnya kita rayakan dengan rasa bahagia. Tetapi ternyata tidak ada yang bahagia. Karena berbagai masalah menumpuk di dalam negeri. Katakanlah yang paling mendasar adalah soal sembako. Ulang tahun proklamasi kemerdekaan tahun ini ternyata disambut oleh melonjaknya harga beras untuk rakyat, yakni dari Rp. 7000 menjadi Rp. 8000 hingga Rp. 8.500. Lalu minyak goreng, bumbu, serta daging pun harganya ikut menyiksa rakyat. Beras mahal, tetapi tidak memberi keuntungan apa-apa bagi para petani sawah. Harga daging sapi mahal, tapi para peternak sapi rugi besar karena harga sapi anjlok ke titik nadir. Tidak ada yang bahagia memang!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Runyamnya lagi, untuk menolong rakyat mengimbangi kenaikan harga ini, pemerintah tak punya inovasi. Taruhlah misalnya ketika beras dan sembako lainnya mahal, pemerintah bisa mengimbanginya dengan memberikan pelayanan publik yang murah dan baik bagi masyarakat. Misalnya pemerintah bisa menurunkan biaya transportasi untuk rakyat. Dengan demikian rakyat tidak perlu harus membawa sepeda motor, rakyat tidak perlu nyicil kendaraan karena pemerintah sudah menyediakan transpotasi yang murah dan baik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tengah keruwetan hidup seperti sekarang ini, pemerintah malah kian sibuk beropini, membela-bela diri dan terhanyut dalam kegenitan politik. “Pemerintah bisanya hanya membuat program yang aneh-aneh, tapi semua tak menyentuh hajat hidup masyarakat kebanyakan,” celetuk seorang pedagang nasi rames di pinggir jalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang dikatakan pedagang nasi rames itu mungkin terlalu sederhana. Seperti juga perdebatan beberapa warga di warung kopi tadi, ternyata berujung pada sesuatu yang sangat sederhana. “Sudahlah, sampean nggak perlu maksa saya memasang bendera. Bukan karena apa-apa kok, tapi karena bendera yang saya punya ternyata sudah robek dimakan usia. Dan saya tidak mampu membeli bendera baru lagi. Saya merdeka. Sungguh saya menghargai dan menghormati kemerdekaan negeri ini, tapi sambil miskin. Saya merdeka sambil melarat! Apa saya salah lagi?” demikian warga yang enggan memasang bendera itu di ujung berdebatan lantas ngloyor pergi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #990000; font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8079127806967442588?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8079127806967442588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2011/08/merdeka-sambil-melarat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8079127806967442588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8079127806967442588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2011/08/merdeka-sambil-melarat.html' title='Merdeka Sambil Melarat'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-593451438715244325</id><published>2011-05-26T15:56:00.000+07:00</published><updated>2011-05-26T15:56:13.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Matematika</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;SEBULAN&lt;/b&gt; terakhir ini saya melakukan survei tidak resmi terhadap berbagai kalangan. Saya menyodorkan sebuah soal “matematika sederhana” kepada para siswa, orang tua atau wali murid, para pemilik warung dan warga masyarakat umum lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;3 + 3 x 2 = … Inilah soal yang selalu saya sodorkan kepada orang-orang yang saya jadikan responden atau obyek survei ilegal tersebut. Soal ini tidak saja saya sodorkan kepada orang-orang di sekitar rumah saya, tetapi di berbagai tempat di mana pun sebulan ini saya berada. Di desa-desa, di sebuah rumah warga, di beberapa sekolah, di suatu perusahaan, di warung-warung kecil, di sebuah toko swalayan, bahkan juga di kamar tidur saya, pokoknya di berbagai lokasi. Para responden saya itu terdiri dari para siswa, ibu rumah tangga, para ayah, kuli, pejabat, aparat, tukang tagih cicilan, pemilik toko, seniman, supir angkutan umum, wartawan, dan kalangan lainnya kecuali guru sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari 100 lebih orang-orang yang telah menjawab soal tersebut, saya mendapatkan dua jawaban yang berbeda. Kelompok pertama menjawab 12, kelompok kedua menjawab 9. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;12 adalah jawaban yang paling banyak saya dapatkan, yang jika diprosentasekan mencapai 90 persen lebih. Jawaban itu pun juga saya dapatkan dari beberapa siswa SMA dan SMK. Hanya beberapa gelintir orang yang menjawab 9, yaitu sekelompok siswa SMP dan istri saya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, jawaban yang benar menurut Matematika adalah 9. Jadi, angka 12 yang menjadi jawaban mayoritas responden otomatis salah. Maka saya pun jadi terbayang dengan berbagai kemungkinan bahkan fakta di kehidupan sehari-hari warga masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya bayangkan berapa banyak siswa-siswi tingkat SD yang mungkin saja meminta tolong kepada bapak, ibu, kakak, paman, bibi atau kakeknya, secara tak sengaja mendapatkan jawaban salah atas sebuah soal Matematika sederhana tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Juga termasuk diri saya sendiri. Andai saja pada suatu hari saya tidak pernah menonton sebuah acara “Belajar Matematika” dari sebuah stasiun televisi yang tak terlalu menarik perhatian publik, saya pun akan ngotot bahwa hasil dari&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;3 + 3 x 2 adalah 12. Karena saya tidak pernah tahu bahwa di dalam Matematika ternyata ada kaidah yang bernama “KABATAKU” alias “kali bagi tambah kurang”.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saya tidak pernah tahu, bahwa di dalam hukum Matematika, “kali” dan “bagi” derajatnya lebih tinggi daripada “tambah” dan “kurang” sehingga “kali” dan “bagi” harus lebih didahulukan dalam suatu penyelesaian soal. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaannya, sejauh ini sudah berapa persenkah warga masyarakat yang tahu tentang ‘kabataku’ itu? “Apa peduli saya? Apa pentingnya buat saya? Bagi saya, 3 ditambah 3 sama dengan 6, lalu kalau dikalikan 2 maka jawabannya ya 12. Di warung saya utulah yang berlaku!” seru seorang ibu pemilik warung dengan sengit kepada saya. Ampun, bu…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #990000; font-size: x-small;"&gt;nanoq da &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kansas&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-593451438715244325?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/593451438715244325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2011/05/matematika.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/593451438715244325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/593451438715244325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2011/05/matematika.html' title='Matematika'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-2329318276260380045</id><published>2010-11-03T20:43:00.000+07:00</published><updated>2010-11-03T20:43:32.542+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Negeri Kalang Kabut</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Serentetan bencana alam dahsyat kembali menimpa negeri dalam waktu yang hampir bersamaan. Lahar dingin “menghapus” &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Wasior dari peta Papua. Banjir bandang merendam &lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; Tangerang dan sebagian Jakarta Raya serta hampir seluruh &lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; atau kawasan di Jawa dan &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Gempa dan tsunami menyapu kepulauan Mentawai di Sumatera Barat. Letusan Gunung Merapi di DIY membakar desa-desa berikut isinya. Tak lama sebelumnya, tanah longsor juga merengggut kehidupan anak-anak bangsa di berbagai daerah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Duka yang kesekian melanda negeri tercinta. Ratusan, bahkan hingga ribuan anak negeri meregang nyawa. Rumah dan harta benda lenyap dalam seketika. Banyak sanak saudara menjadi almarhum tanpa bisa diduga sebelumnya. Dan seraya menangis pilu, warga masyarakat yang terlanda musibah berbaku daya untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan, berbaku upaya untuk mencari sesiapa yang masih hilang, berbaku duka mengubur jasad yang meninggal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di manakah pemerintah? O, tentu saja sedang sangat sibuk. Bencana adalah kejadian yang tak pernah bisa diprediksi dengan tepat kapan atau di mana akan terjadi. Maka ketika bencana itu benar-benar datang, sebagian waktu pun harus dihabiskan untuk berkoordinasi terlebih dahulu. Lebih-lebih bencana yang datang di tempat jauh semacam Wasior di Irian dan Kepulauan Mentawai yang masih minim akses, pemerintah sungguh dibuat menjelma menjadi gadis manja yang dibangunkan mendadak dari tengah mimpi indah di taman firdaus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Segala sesuatu menjadi tak siap. Segala sesuatu menjadi serba kekurangan. Dapat dibayangkan, betapa warga masyarakat di Mentawai merintih tak terperi dalam keporakporandaan, tetapi tak ada pertolongan dan tindakan yang memadai datang terulur dari pemerintah hingga berjam-jam lamanya. Alasan kesulitan akses transportasi menjadi begitu klise. Alasan ketiadaan infrastruktur yang memungkinkan menjadi begitu nyinyir. Berbagai alibi dan argumen jadi begitu memedihkan sekaligus memuakkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka ketika televisi itu menyiarkan gambar-gambar berikut suara-suara rintihan dari balik segala reruntuhan dan segala keporakporandaan, tidaklah salah jika berbagai kegeraman juga berkobar dari dada para pamirsa. Kenapa begitu lambannya pemerintah kita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sudah jelas satu-satunya akses normal ke Mentawai hanya berupa angkutan laut. Sudah jelas angkutan laut tidak berdaya mengatasi cuaca yang terjadi saat itu. Tetapi kenapa pemerintah negeri ini tidak punya spontanitas yang baik untuk mencari alternatif?&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kenapa misalnya ratusan pesawat helikopter milik Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Darat dan Kepolisian tidak segera dikerahkan? Kenapa tetap saja ngotot dengan kapal laut yang tak berdaya dan tak bisa ngebut sembari harus menunggu cuaca dan ombak yang lebih baik? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bahwa gugusan Sumatera juga adalah kerajaan bagi raja-raja kelapa sawit yang punya kekayaan, kekuatan dan kekuasaan melimpah. Banyak sekali penguasa kelapa sawit Sumatera yang punya helikopter sendiri. Tapi kenapa mereka bergeming tanpa respon yang manusiawi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang paling memuakkan adalah jika mengingat serta membayangkan keberadaan puluhan organisasi partai politik di negeri ini. Ketika dulu ada bencana berdekatan dengan penyelenggaraan pemilu, betapa masyarakat luas disuguhi pemandangan banyaknya para relawan dan petinggi parpol yang turun memberi bantuan. Betapa banyaknya posko-posko parpol yang berdiri dengan sangat segera di kawanan terjadinya bencana. Dan betapa pula besarnya ekspos kebaikan, kepedulian serta keberpihakan berbagai parpol kepada para korban bencana. Betapa seolah-olah berbagai parpol tersebut ada memang untuk rakyat, bukan untuk kepentingan lainnya. Tetapi dalam kasus Wasior, Tangerang, Mentawai dan Merapi, para tenaga relawan dan posko bantuan dari parpol juga begitu lambat bahkan mungkin tak ada sama sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, gerakan kepedulian yang dilakukan oleh masyarakt luas dalam bentuk pengumpulan berbagai jenis bantuan terus mengalir. Tetapi yang membuat kecewa para penyumbang kemudian adalah, ternyata berbagai sumbangan tersebut harus menumpuk cukup lama di tempat penampungan. Lagi-lagi ada alasan tidak bisa didistribusikan karena keterbatasan angkutan. Astaga!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #990000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;nanoq da &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kansas&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-2329318276260380045?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/2329318276260380045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/11/negeri-kalang-kabut.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2329318276260380045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2329318276260380045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/11/negeri-kalang-kabut.html' title='Negeri Kalang Kabut'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-917788902572191975</id><published>2010-09-11T11:55:00.000+07:00</published><updated>2010-09-11T11:55:49.251+07:00</updated><title type='text'>"Sang Pencerah", Kisah Seru Sosok Pembaharu</title><content type='html'>&lt;a href="http://indonesiaseni.com/film/peristiwa-film/qsang-pencerahq-kisah-seru-sosok-pembaharu.html"&gt;"Sang Pencerah", Kisah Seru Sosok Pembaharu&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-917788902572191975?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://indonesiaseni.com/film/peristiwa-film/qsang-pencerahq-kisah-seru-sosok-pembaharu.html' title='&quot;Sang Pencerah&quot;, Kisah Seru Sosok Pembaharu'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/917788902572191975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/09/sang-pencerah-kisah-seru-sosok.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/917788902572191975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/917788902572191975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/09/sang-pencerah-kisah-seru-sosok.html' title='&quot;Sang Pencerah&quot;, Kisah Seru Sosok Pembaharu'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-2893262202148930618</id><published>2010-09-09T20:50:00.000+07:00</published><updated>2010-09-09T20:50:28.566+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Yang Kepepet, Hisap Saja Darahnya!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari sudah memasuki petang. Dengan menembus gerimis yang turun sejak siang, Komang Sekar memasuki halaman rumah megah di pinggir kota itu. Agak gemetar tangannya menekan bel yang terpasang di bagian kanan kosen pintu berukir itu. Bukan gemetar karena seringai seekor doberman hitam kecoklatan yang mengintip dari dalam kandang di pojok halaman rumah mewah itu, tetapi pikiran Komang Sekar memang sedang sangat kalut. Suaminya yang pengojek sekarat di rumah sakit karena kecelakaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pintu dibuka oleh seorang pembantu rumah tangga yang tampak tertekan. “Tunggu sebentar,” demikian pembantu itu tanpa mempersilahkan Komang Sekar untuk masuk atau duduk. Pintu kembali ditutup. Komang Sekar, ibu dua anak itu, kembali termangu menunggu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekitar lima menit kemudian, pembantu tadi kembali membukakan pintu. “Disuruh masuk sama ibu,” ujarnya. Komang Sekar lalu mengikutinya memasuki rumah yang selalu tampak sepi itu. Di teras samping dekat bangunan menyerupai gudang, Komang Sekar kembali menunggu. Sambil menunggu, ia mengambil sesuatu dari balik kutangnya. Sesuatu yang dibungkus sapu tangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perempuan yang disebut “ibu” oleh pembantu tadi keluar. “Besok-besok kalau ke sini jangan salikaon (petang) begini. Jam-jam begini ibu sangat capek. Ada perlu apa?” tanya ibu tengah baya berperawakan gemuk itu. Kepalanya masih terlilit handuk. Nampaknya ia baru selesai mandi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maaf, bu. Saya perlu bantuan. Suami saya kecelakaan dan sekarang di rumah sakit. Saya mau pinjam uang satu juta saja,” jawab Komang Sekar dengan perasaan serba salah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aduh, sudah salikaon begini mana boleh ibu mengeluarkan uang? Besok pagi saja ya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maaf, bu. Saya perlu sekali. Saya harus membayar obat sekarang. Tolonglah saya,” Komang Sekar menghiba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak baik mengeluarkan uang malam-malam. Tapi untuk menolong, ya, tidak apa-apalah. Kamu punya jaminan apa?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ini,” Komang Sekar membuka dan menyodorkan bungkusan sapu tangan tadi. Seuntai kalung dan sebuah gelang emas di dalamnya. “Ini semua lima gram, bu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wah, barang segini mana bisa dapat satu juta? Kamu ada-ada saja,” si ibu gemuk menimang-nimang kalung dan gelang itu sambil menyipitkan mata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Berapa saya bisa pinjam?” Komang Sekar putus asa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Lima ratus saja ya,” si ibu gemuk berpura-pura mengembalikan bungkusan itu ke tangan Komang Sekar. Komang Sekar kaget.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aduh, bu, tolonglah saya. Delapan ratus saja juga boleh. Saya harus menebus obat ke apotik malam ini juga,” Komag Sekar memelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ya sudah. Ibu kasi enam ratus. Soalnya ini sudah malam. Ibu seharusnya tidak boleh mengeluarkan uang, tapi karena harus menolong kamu, ya sudahlah,” si ibu gemuk lalu masuk rumah. Komang Sekar kembali menunggu. Air matanya menggenang di pelupuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si ibu gemuk keluar lagi. “Ini enam ratus. Bunganya sepuluh persen sebulan. Itu sudah biasa. Kalau kamu terlambat bayar, bunganya langsung menjadi pokok. Enam bulan barang tidak ditebus, itu berarti hilang. Tolong tandatangani kwitansi ini dulu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tujuh ratus lima puluh saja tidak bisa, bu?” Komang Sekar masih mencoba menghiba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak bisa. Kalau kamu tidak mau, ya tidak usah. Cari di tempat lain saja!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baik, bu. Saya terima,” Komang Sekar lalu menandatangani kwitansi. Si Ibu gemuk menyodorkan setumpuk uang pacahan sepuluh ribu, dua puluh ribu dan dua lembar seratus ribuan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ingat, jangan terlambat bayar bunganya bia kamu tidak kualahan nanti,” si ibu gemuk menasihati. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih, bu,”  Komang Sekar pamit. Kali ini air matanya benar-benar tumpah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di depan pintu gerbang rumah megah itu Komang Sekar nyaris bertabrakan dengan seorang bapak yang baru datang membawa sebuah televisi 21 inci. Rupanya lelaki itu juga sedang kepepet!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah sepenggal kisah nyata seputar perilaku rentenir yang ada di dalam kehidupan masyarakat kebanyakan. Memang, teramat ganjil rasanya di jaman serba maju seperti sekarang ini kita masih bicara soal rentenir, ijon, lintah darat, dan entah apa lagi istilahnya. Terutama tentu saja karena saat ini dalam setiap wacana, kita senantiasa mengedepankan hak azasi manusia, rasa keadilan, kesejahteraan bersama, pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan warga miskin, serta berbagai istilah lain yang secara artikulasi sangatlah mulia dan jauh dari kesan atau pengertian penindasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi fakta menyodorkan kepada kita, betapa praktek ijon dan keberadaan para lintah darat itu demikian menggurita di sekitar kita. Keberadaan mereka bahkan begitu kuat mencengkeram di tengah kehidupan warga masyarakat kecil yang tak berdaya menghadapi berbagai situasi krisis. Para rentenir yang secara materi punya kemampuan mumpuni, mempertahankan hegemoninya dengan memanfaatkan ketakberdayaan orang lain.   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ironisnya, tidak sedikit para pelaku lintah darat ini adalah orang-orang yang secara sosial merupakan warga kelas menengah ke atas yang sepatutnya menjadi panutan masyarakat. Tidak sedikit dari mereka adalah sosok-sosok yang dikenal sebagai pegawai negeri sipil (PNS), guru-guru, serta istri pejabat. Dalam hal ini, tentu mereka adalah orang-orang yang memiliki kadar intelektualitas yang baik, yang seharusnya memiliki kepekaan sosial untuk membantu orang lain mengatasi masalah tanpa harus memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk mencari keuntungan diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi begitulah situasi dan kondisi yang sekarang berkembang di dalam relasi sosial masyarakat negeri ramah tamah ini. Hubungan antarwarga mampu dengan yang kurang mampu telah menjelma menjadi praktek transaksional antara masalah dengan sebuah solusi. Dan yang membuat miris, setiap sebuah solusi yang ditawarkan oleh mereka yang lebih mampu selalu jauh lebih mahal daripada masalah “kecil” yang dihadapi oleh warga yang sedang tak berdaya. Pendek kata, relasi sosial yang kini berkembang di tengah kehidupan masyarakat yang dulu terkenal kesantunannya ini adalah: yang kepepet, hisap saja darahnya!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-2893262202148930618?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/2893262202148930618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/09/yang-kepepet-hisap-saja-darahnya.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2893262202148930618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2893262202148930618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/09/yang-kepepet-hisap-saja-darahnya.html' title='Yang Kepepet, Hisap Saja Darahnya!'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5519899211601750185</id><published>2010-08-17T12:47:00.000+07:00</published><updated>2010-08-17T12:47:58.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>65 Tahun Indonesia Merdeka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dirgahayu Republik Indonesia! Ini tahun ke 65, kita, seluruh rakyat Indonesia mengumandangkan kalimat suci ini dengan segala antusias dan harapan! Rumah, kantor, pertokoan, jalan raya dan gang-gang sempit berhiaskan segala pernak-pernik bernuansa merah putih. Di tengah alun-alun kota, alun-alun kecamatan dan alun-alun desa, bendera merah putih pun dipancang dengan tiang tinggi menjulang menantang langit. Dan tepat tanggal 17 Agustus pukul 10.00, seluruh televisi dan radio juga mengumandangkan lagu Indonesia Raya disusul pidato Presiden yang dibacakan oleh Presiden sendiri di ibu kota negeri, dan oleh para pemimpin daerah di setiap alun-alun provinsi, kabupaten dan kecamatan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pidato adalah selalu berupa sebuah wejangan. Sebuah nasihat dan tentu saja sekaligus sebuah kesempatan untuk menciptakan citra. Maka dalam setiap pidato ulang tahun kemerdekaan, kita, rakyat Indonesia selalu mendengar cerita tentang pencapaian-pencapaian yang sudah diraih dalam pembangunan negeri, tentang prestasi pemerintah yang dinilai oleh pemerintah sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan pidato kemerdekaan juga adalah pemaparan tentang rencana serta cita-cita ke depan bangsa yang uniknya dari tahun nol kemerdekaan hingga hari ini selalu sama. Yakni, kehidupan yang lebih adil dan lebih sejahtera bagi seluruh anak negeri. Sebuah rencana dan cita-cita abadi yang harus kita emban bersama pemerintah.     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, sebuah cita-cita dan sebuah rencana di dalam sebuah pidato seringkali menjadi sebuah egosentris. Kendati sekarang bangsa ini konon sudah meninggalkan budaya sentralistik, toh cita-cita dan rencana bersama yang menjadi cita-cita nasional tersebut, dalam implementasinya selalu hanya mencerminkan keinginan  dan kemauan penguasa yang sedang memegang mandat dari rakyat itu sendiri. Sementara rakyat yang memberikan mandat, justru malah tertinggal dari cita-cita dan rencana besar tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ruwet. Ribet, dan menjelimet memang. Tetapi itulah sebuah negara. Itulah resiko sebuah negara yang telah memproklamirkan kemerdekaannya. Kemerdekaan bukan berarti bebas dari berbagai persoalan. Kemerdekaan justru hanya bebas dari satu persoalan saja, yakni tidak terjajah lagi. Selebihnya adalah persoalan abadi yang menjadi keniscayaan untuk bersama. Miskin, lapar, terbelakang, diskriminasi, marjinalisasi, korupsi, krisis utang, kolusi, nepotisme, adalah sesuatu yang niscaya abadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam masalah yang paling kontekstual, di Ulang Tahun ke 65 Kemerdekaan ini, kita, bangsa Indonesia sedang dibuat nelangsa oleh berbagai kejadian buruk dan bencana. Korupsi yang jumlahnya sampai trilyunan, tindak kekerasan oleh oknum dan kalangan tertentu yang semakin melecehkan kewibawaan pemerintah, kenaikan harga sembilan bahan pokok yang tak terkendali akibat kebijakan kenaikan TDL, kemunculan berbagai wabah penyakit yang selalu terlambat dideteksi dan ditangani, pemilihan kepala daerah yang sama sekali tidak mencerminkan demokrasi yang sehat, ledakan tabung dan kompor gas yang merenggut nyawa serta harta benda warga masyarakat, bencana banjir yang semakin sulit diredam, dan masih banyak lagi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengutip apa yang pernah dikatakan oleh Sosiolog sekaligus Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), Ignas Kleden, bahwa sebuah pemerintah tidak dapat memecahkan semua soal dalam masa pemerintahannya, tetapi harus ada masalah yang dipastikan untuk ditangani, dengan memberi kita prospek penyelesaiannya, tidak hanya secara normatif tetapi juga secara strategis dan operasional. Maka dalam ulang tahun kemerdekaan ini tidaklah juga terlalu berlebihan bila rakyat bertanya, masalah apakah yang sudah dipastikan untuk ditangani secara strategis dan operasional oleh pemerintah negeri yang merdeka ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangkali pada saat ini rakyat juga tidak butuh jawaban dengan kata-kata diplomatis dalam sebuah pidato, tetapi rakyat barangkali masih akan tetap bersabar menanti datangnya jawaban berupa perubahan kondisi yang secara konkret lebih baik daripada apa yang dirasakan sekarang. Dan bisa jadi juga, pertanyaan ini tidak perlu dijawab oleh perubahan apapun, karena yang penting sekarang kita, bangsa ini telah merdeka, kendati kita merdeka sambil miskin! Dirgahayu Indonesia! Kami semua mencitaimu!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5519899211601750185?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5519899211601750185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/08/65-tahun-indonesia-merdeka.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5519899211601750185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5519899211601750185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/08/65-tahun-indonesia-merdeka.html' title='65 Tahun Indonesia Merdeka'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-2896137729056118190</id><published>2010-08-11T19:50:00.000+07:00</published><updated>2010-08-11T19:50:09.212+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Wakil Rakyat yang Pembolos</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Coba arsitektur gedung DPR yang bentuknya mirip kura-kura diganti dengan design ala Plaza Indonesia, dijamin pasti anggota dewan rajin ngantor.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian sebuah “status” tertulis di dinding akun seorang facebooker.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja “status” itu mendapat tanggapan cukup banyak. Ada yang sekedar berkomentar “setujuuuuuuuuuuu!!!!”, ada pula yang berkomenter seperti ini: “Ya, biar orang-orang miring yang berkantor di gedung yang katanya miring itu tidak miring lagi otaknya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah sarkasme kembali tertuju kepada fenomena perilaku sebagian kecil para wakil rakyat. Dan tentu saja ini tidak bisa disalahkan begitu saja. Barangkali memang sudah banyak rakyat yang kesal dengan perilaku beberapa oknum wakil rakyat yang tidak sepenuhnya bisa dan mampu mengemban amanat rakyat yang telah diberikan kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang rakyat pun semakin jelas tahu, bahwa perkara membolos ternyata bukanlah hanya merupakan perilaku kenakalan remaja sekolahan. Dan perkara bolos-membolos yang satu ini, sudah tentulah jauh lebih berbahaya daripada membolos yang dilakukan sesekali oleh para pelajar remaja di ruang kelas SMA. Membolos dari pelajaran sekolah, barangkali bisa membuat seorang siswa tidak naik kelas atau tidak lulus ujian. Tetapi jika wakil rakyat suka membolos dari agenda-agenda sidang di gedung DPR, sangat bisa jadi membuat sebuah negara tidak lulus menghadapi berbagai persoalan yang menerpa rakyatnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan yang patut dipertanyakan pula, bukankah membolos dari tugas negara itu sama dengan melakukan korupsi karena oknum-oknum pelakunya itu telah memakan gaji buta? Maka dari itu pula, perlu dipikirkan untuk menghukum para pembolos di gedung DPR itu dengan undang-undang antikorupsi. Sudah begitu banyak uang negara yang mereka makan dengan tanpa menghasilkan apa-apa bagi rakyat dan negara!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-2896137729056118190?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/2896137729056118190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/08/wakil-rakyat-yang-pembolos.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2896137729056118190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2896137729056118190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/08/wakil-rakyat-yang-pembolos.html' title='Wakil Rakyat yang Pembolos'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4396477436634923734</id><published>2010-08-05T14:31:00.000+07:00</published><updated>2010-08-05T14:31:41.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Logika, Etika dan Estetika</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah kesempatan temu wicara sejumlah seniman dan budayawan dengan Presiden SBY minggu lalu di Istana Kepresidenan Tampaksiring, Presiden dengan sangat jernih dan masuk akal memaparkan bahwa sejatinya bangsa ini hanya memerlukan tiga hal saja untuk bisa mencapai tatanan kehidupan yang ideal secara bersama-sama, yang dalam bahasa ringkas bisa didefinisikan sebagai kehidupan yang harmoni.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga hal itu adalah, bahwa di dalam berperilaku, setiap warga negara semestinyalah selalu berpijak pada logika, etika serta estetika. Hanya itu. Hanya itulah yang sejatinya menjadi intisari dari moral bangsa Indonesia untuk menemukan identitas serta karakter bangsa yang senantiasa menjadi cita-cita bersama sejak negeri ini diwujudkan oleh para founding father, kemudian dilanjutkan oleh para pemimpin bangsa mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati hingga sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi sayangnya, dalam banyak situasi kita sering lupa atau bahkan sengaja mengabaikan ketiga nilai tersebut. Ini terjadi karena sengaja atau tidak, kita ini seringkali mengkotak-kotakkan diri ke dalam dikotomi-dikotomi yang bermuara pada berbagai kepentingan pragmatis. Dalam suatu saat, kita lebih menonjolkan logika, maka yang terjadi kemudian hanyalah sebuah ukuran yang berhenti pada “salah” atau “benar”. Lalu di kesempatan lain, kita hanya menonjolkan serta menuntut etika. Maka yang lahir kemudian hanyalah sebuah ukuran yang berhenti pada kata “patut” atau “tidak patut”, “pantas” atau “tidak pantas”. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, satu hal lagi yakni estetika, justru hanya berhenti pada pemahaman yang sempit dan dangkal, bahkan dianggap tidak penting. Estetika, hanya dimaknai sebagai unsur bawaan suatu karya seni atau kesenian. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah yang harus dikoreksi bersama-sama. Estetika, adalah juga bagian yang tidak dapat dipisahkan dari satu kesatuan yang utuh bagi pikiran, perkataan serta perilaku setiap anak manusia, setiap anak bangsa yang sudah pasti mencintai dan menghormati negerinya sendiri. Logika, etika dan estetika, adalah ruh dari satu kesatuan tunggal kehidupan yang harmoni.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya harmoni di dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa, pada saat itulah sebuah bangsa baru dapat dikatakan mengada. Bahkan demokrasi itu sendiri tiada lain adalah anak kandung dari sebuah kehidupan yang harmoni. Demokrasi tanpa logika, adalah sesuatu yang absurd. Demokrasi tanpa etika, adalah sesuatu yang tidak wajar. Dan, demokrasi tanpa estetika, entah apa namanya kecuali sesuatu yang tak berjiwa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Estetika adalah nilai yang melampaui logika dan etika, sekaligus menyempurnakan keduanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berangkat dari titik inilah kemudian, negara harus senantiasa menciptakan ruang dan kesempatan agar estetika senantiasa berdaya untuk tumbuh dan berkembang secara alamiah di setiap individu anak-anak bangsa, di setiap pemikiran, perkataan dan perilaku anak-anak bangsa, agar sejarah bangsa terjaga dalam harmoni, bukan disharmoni.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka demikianlah, pendidikan karakter yang saat ini menjadi wacana hangat di kalangan pemegang kebijakan negeri, sudah seyogyanyalah tidak berhenti pada pengertian “benar-salah”, “pantas-tidak pantas”. Tetapi lebih dari itu, mengacu pada ungkapan Mendiknas, Mohammad Nuh, bahwa bangsa ini harus bersama-sama membangun karakter-budaya yang menumbuhkan kepenasaran intelektual sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan. Di situlah kehidupan yang harmoni itu berada!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4396477436634923734?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4396477436634923734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/08/logika-etika-dan-estetika.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4396477436634923734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4396477436634923734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/08/logika-etika-dan-estetika.html' title='Logika, Etika dan Estetika'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4225435845406556490</id><published>2010-07-19T14:48:00.000+07:00</published><updated>2010-07-19T14:48:41.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Rakyat Kecil Carilah Hutang!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai kelanjutan dari sebuah tradisi nasional, pertengahan tahun ini pemerintah Pusat kembali membagi-bagikan “Gaji ke-13” bagi seluruh pegawai negeri sipil (PNS). Lumayanlah, di tengah lonjakan harga-harga sembako dan berbagai barang lainnya akibat dari kebijakan kenaikan tarif dasar listrik, gaji ke-13 hadir menjadi penolong bagi sekian juta PNS yang pertengahan tahun ini pula harus mempersiapkan putra-putri mereka untuk memasuki kelas baru atau sekoah baru. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, rakyat kebanyakan tidak ada yang memberinya gaji ke-13. Petani sawah malah rata-rata merugi akibat padinya dirusak hujan berlebihan. Petani kebun tak berdaya karena harga-harga hasil kebun anjlok jauh dari normal. Harga sekilo coklat setengah kering cuma 10 ribu rupiah. Padahal biji coklat saat ini sedang langka gara-gara pohonnya ditebangi petani karena adanya Gerakan Nasional Rehabilitasi Tanaman Coklat yang implementasinya kacau-balau itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara berbagai buah-buahan lainnya belum pada musim, kecuali kedondong dan kawista barangkali. Tetapi seorang warga di desa menuturkan ternyata buah kedondong nyaris tak ada harganya. “Kemarin saya menjual dua karung kedondong cuma mendapat uang 12 ribu rupiah. Gila! Ini benar-benar gila!” Sengit warga tersebut. Dan buah kawista, siapa yang mau membeli buah kawista?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka di tengah-tengah kenaikan harga sembako, kenaikan TDL, kenaikan harga gas, kenaikan pajak bumi dan bangunan, kenaikan harga buku, kenaikan harga baju, celana dan sepatu siswa, kenaikan harga obat sakit kepala, masyarakat pun berlomba-lomba mencari hutang. Ada yang cari hutang ke koperasi, ada yang ke bank swasta, ada yang ke bank negeri, ada yang ke pegadaian, ada yang ke rentenir. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah para pengelola negeri tahu hal ini? Pasti tahulah. Tetapi mana mereka punya waktu untuk menolong rakyat? Bukankah mereka sedang begitu sibuknya mengurus pengamanan para koruptor, sibuk mengurus para pengemplamg pajak, sibuk mengurus kepornoan Ariel dan Luna Maya, sibuk mengurus rekening gendut para jendral, sibuk mengurus nonton bareng piala dunia, sibuk mengurus studi banding ke luar negeri, sibuk mengurus putra-putri mereka yang merengek minta sekolah di luar negeri, sibuk mengurus perang di Jalur Gaza, sibuk mengurus... ah pokoknya banyak gitu deh...  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka jalan satu-satunya demikianlah; yang merasa jadi rakyat kecil mari rame-rame cari hutang biar bisa beli beras, biar bisa sekolahkan anak, biar bisa nyicil hutang yang kemarin!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4225435845406556490?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4225435845406556490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/07/rakyat-kecil-carilah-hutang.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4225435845406556490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4225435845406556490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/07/rakyat-kecil-carilah-hutang.html' title='Rakyat Kecil Carilah Hutang!'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7827117694693446280</id><published>2010-06-17T13:09:00.000+07:00</published><updated>2010-06-17T13:09:06.305+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>perempuan yang kukenal dari angin</title><content type='html'>&lt;i&gt;- buat tiaz dan wendra&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubayangkan engkau jadi perempuan&lt;br /&gt;berdiri di tengah hujan&lt;br /&gt;berbaju basah dengan kutang merah muda&lt;br /&gt;menembus katun putih yang menyamarkan&lt;br /&gt;sempurna tubuhmu&lt;br /&gt;: ke mana? – aku berteriak dari seberang&lt;br /&gt;tapi angin selalu membawamu&lt;br /&gt;ke arah yang tidak mudah ditebak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mengetuk pintu kamar kos yang terkunci &lt;br /&gt;dari dalam.              termangu – berharap jawabmu&lt;br /&gt;tapi jalanan telah begitu sepi&lt;br /&gt;orang-orang enggan bertegur sapa&lt;br /&gt;hanya kecemasan yang selalu menjadi besar&lt;br /&gt;melampaui setiap kesempatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu aku bayangkan engkau&lt;br /&gt;jadi perempuan bersepatu kaca&lt;br /&gt;berdiri di bawah warna lampu hias&lt;br /&gt;pohon natal raksasa&lt;br /&gt;yang dipajang entah siapa di pintu utama&lt;br /&gt;lantai bawah sebuah mall&lt;br /&gt;: di mana? – aku bertanya lagi&lt;br /&gt;dari seberang rak kaset dan kepingan-kepingan video&lt;br /&gt;lagu-lagu bernuansa desember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi alangkah gemuruhnya waktu&lt;br /&gt;pertanyaanku tak pernah engkau tangkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka aku jelmakan saja engkau&lt;br /&gt;di dalam mimpi-mimpi singkatku&lt;br /&gt;karena selalu aku hanya tertidur menjelang pagi&lt;br /&gt;dan tak punya tempat lagi untuk membayangkanmu&lt;br /&gt;menjadi perempuan di tengah hujan&lt;br /&gt;dengan kutang merah muda menembus katun basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“peluklah!” – ujarmu pada mimpi itu&lt;br /&gt;“mari!” sambutku di mimpi yang lain&lt;br /&gt;dan demikianlah waktu mengajari kita&lt;br /&gt;menanam cinta&lt;br /&gt;melampaui kepedihan demi kepedihan&lt;br /&gt;yang tercecer di jalanan basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #cc0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7827117694693446280?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7827117694693446280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/06/perempuan-yang-kukenal-dari-angin.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7827117694693446280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7827117694693446280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/06/perempuan-yang-kukenal-dari-angin.html' title='perempuan yang kukenal dari angin'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-6052051443109724614</id><published>2010-06-08T15:26:00.000+07:00</published><updated>2010-06-08T15:26:38.744+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Standar Sekolah Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan ini media-media nasional gencar menyoroti keberadaan RSBI atau Rintisan Sekolah Bestandar Internasional yang bermunculan di Tanah Air. RSBI ini merupakan ide dan gagasan para pemegang kebijakan di sekolah-sekolah negeri, baik tingkat SMP maupun SMA di berbagai kota. Alasan utama dan paling sederhana atas gagasan tersebut tentu saja demi peningkatan mutu pendidikan agar bisa menyamai sekolah-sekolah di luar negeri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika saja hal ini kemudian tidak malah menjadi beban yang terlalu besar bagi masyarakat utamanya orang tua siswa, tentu saja tidak ada masalah. Mau dibuat berstandar kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, internasional atau pun berstandar antar galaksi (kalau ada), masyarakat pastilah mendukung. Sebab kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan saat ini sangatlah besar. Dalam dunia pendidikan ini, kesepahaman masyarakat sudah menyatu dalam satu titik, bahwa pendidikan untuk generasi ke depan memang harus lebih baik dan lebih bermutu!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi ketika sampai pada titik yang lain, yakni biaya pendidikan itu sendiri, masyarakat pun terpaksa harus kembali ke titik nol alias mengaku tak berdaya. Ini pun bukan sesuatu yang mengada-ada. Sebab faktanya, ekonomi masyarakat kebanyakan di negeri ini, sampai saat ini, ternyata belumlah mencapai standar apapun. Jangankan standar nasional, untuk mencapai standar kabupaten saja masih jauh. Coba saja kita lihat pendapatan umum masyarakat kita, coba kita lihat upah buruh di negeri ini, bahkan untuk bisa sesuai dengan standar kabupaten saja sulitnya setengah mati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu, gagasan dan keberadaan sekolah berstandar nasional maupun internasional masih menjadi keraguan kita bersama. Sejauh ini masih sangat sulit rasanya kita percaya mutu pendidikan bisa ditingkatkan hanya dengan meningkatkan status sekolah secara administratif. Padalah kenyataannya pula, apapun status yang disandang oleh sekolah-sekolah di negeri ini memang hanya sebatas status atau standar administratif alias hanya berhenti pada label atau cap. Sementara itu isi di dalamnya, kita sama-sama tahu bahwa kondisi sebagian besar sekolah-sekolah negeri kita saat ini tak lebih baik dari sebuah tempat kursus massal. Hal ini dengan mudah dapat dilihat dari kondisi yang sangat sangat sangat buruk atas keberadaan laboratorium, perpustakaan serta fasiltas-fasilitas pendukung lainnya yang seharusnya dimiliki setiap sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menyandingkan kondisi ekonomi masyarakat yang masih morat-marit dan kondisi sekolah yang masih amburadul ditambah kondisi intelektual para tenaga pendidik yang masih separuh primitif,  seharusnya kita malu memasang label berstandar internasional pada sekolah kita!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-6052051443109724614?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/6052051443109724614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/06/standar-sekolah-kita.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6052051443109724614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6052051443109724614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/06/standar-sekolah-kita.html' title='Standar Sekolah Kita'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7694978082886091517</id><published>2010-05-24T12:30:00.000+07:00</published><updated>2010-05-24T12:30:15.119+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERAMBI SENJA'/><title type='text'>"Bila Ibed (Bukan) Orang Bali"</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/S_oOq3i8UaI/AAAAAAAAAxc/bdVnoZaWcYk/s1600/cover-fix.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/S_oOq3i8UaI/AAAAAAAAAxc/bdVnoZaWcYk/s320/cover-fix.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara segelintir anak muda Bali yang mau tega kepada dirinya sendiri untuk bekerja keras belajar menuliskan buah pikirnya ke dalam entah itu catatan-catatan lepas, esai, bahkan puisi dan cerita pendek, adalah Ibed Surgana Yuga. Ibed yang keturunan keluarga brahmana di Jembrana, Bali, sejak kelas dua SMA mulai “terganggu pikirannya” atas berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya. Maka sebagaimana proses kreatif yang umum terjadi pada anak-anak muda berbakat, mulai saat itu pulalah Ibed keluar dari kebiasaan – yang oleh banyak orang juga dengan ngawur diistilahkan sebagai “tradisi” – yang berlaku di sekitarnya, yakni kebiasaan bertutur (agar kedengaran sedikit agak sopan daripada menyebutnya kebiasaan bergunjing). Ya, di usia belia itu, Ibed mulai belajar tidak hanya sekedar bertutur, tetapi menuliskan pikiran, perasaan, gagasan, unek-unek bahkan impian-impiannya, ke dalam catatan-catatan kecil di bilik tas sekolahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti juga umumnya yang terjadi pada anak-anak berbakat lainnya, ketika tamat SMA dan kemudian berkesempatan memilih perguruan tinggi, Ibed tidak sertamerta mencari jalan mudah untuk “menyelamatkan” masa depannya, untuk menyelamatkan dirinya kelak di kemudian hari. Keputusan yang diambilnya, bukan saja tidak masuk akal dari konteks kecenderungan teman-teman sekolahnya di kampung halaman, tetapi terutama sangat absurd di mata keluarganya. Ibed, memilih kuliah di ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Teater.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Yogyakartalah kemudian Ibed merasakan “baru bisa” memandang Bali, kampung halamannya. Di Yogyakarta pula kemudian Ibed harus jujur kepada terutama dirinya sendiri, bahwa ternyata dia “bukan orang Bali”. Setidaknya itu anggapan teman-temannya di Jawa, karena Ibed ternyata tidak bisa ngigel (menari), atau, matanya tidak bisa nyeledet seperti penari-penari Bali itu. Dan di Yogyakarta Ibed harus iklas menyimpan wingit ke-brahmana¬-annya di dalam lemari di kamar kos, karena ternyata hanya dengan menjadi “manusia biasa”-lah ……… &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menyadari dirinya ternyata “bukan orang Bali”, bisa jadi membuatnya bisa lebih jujur dan iklas atas Bali itu sendiri, dalam setiap catatan yang ditulisnya. Kalau kemudian catatan-catatan tersebut dikirimkannya ke kampung halaman, sebagai kolom ke sebuah media mingguan yang kebetulan terbit di kampungnya, sikap tersebut rasanya sudah pada tempatnya mendapat apresiasi. Setidaknya, Ibed telah bersikap dan berlaku adil terhadap kampungnya, terhadap Bali dan dirinya. Karena apapun isi catatan yang sengaja dibuka untuk siapa saja termasuk orang-orang di kampungnya itu, adalah sebuah kerendahan hati bagi penulisnya untuk disikapi sebagaimana adanya oleh siapapun juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seluruh catatan yang terangkum dalam buku ini telah dimuat dalam kolom “Bali Diaspora” Tabloid Mingguan Independen News yang terbit di Jembrana, kampung halaman penulisnya. Sekiranya catatan-catatan kecil di buku ini semakin memberi kita keyakinan untuk lebih mengerti Bali, untuk lebih mencintai Bali apa adanya, sejujur dan seiklas penulisnya!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;dusun senja suatu senja&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7694978082886091517?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7694978082886091517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/05/bila-ibed-bukan-orang-bali.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7694978082886091517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7694978082886091517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/05/bila-ibed-bukan-orang-bali.html' title='&quot;Bila Ibed (Bukan) Orang Bali&quot;'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/S_oOq3i8UaI/AAAAAAAAAxc/bdVnoZaWcYk/s72-c/cover-fix.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5281877670569966159</id><published>2010-03-29T08:40:00.000+07:00</published><updated>2010-03-29T08:40:55.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Bali, Buruh, Bangkrut!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada yang menggelitik dari lontaran beberapa sahabat. Ketika ditanya, jika mereka punya borongan, proyek, atau sekedar pekerjaan insidentil yang harus menggunakan buruh, tenaga buruh mana yang akan mereka pilih, buruh lokal Bali atau dari luar?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawaban mereka seragam. Bahwa mereka akan menggunakan buruh luar, terutama dari Jawa. Alasannya, buruh dari Jawa upahnya lebih murah tetapi sanggup mengerjakan apa saja, dan, yang terpenting, kerjanya cepat. Beda dengan buruh lokal (Bali), sudah kerjanya lamban, banyak libur karena alasan upara, ongkosnya juga lebih mahal. Di amping itu, buruh Bali sangat memilih pekerjaan. “Mana mau mereka mengerjakan galian got di jalan? Mana mau mereka disuruh memanjat tiang listrik? Mana mau mereka disuruh memanjat menara?” demikian beberapa orang pemborong.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan saat ini jika dicermati, tenaga buruh untuk memanen padi pun sudah banyak yang diimpor dari Jawa. Mereka datang dengan lahir dan batin yang sangat siap untuk bekerja. Mereka rela berminggu-minggu mondok di bawah tenda-tenda darurat dari kain bekas di seantero areal sawah yang sedang dipanen. Sementara itu, para pengangguran lokal dengan santai sambil bersiul-siul lewat tak peduli.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah salah satu persoalan yang dihadapi Bali di seputar dunia perburuhan. Hampir seluruh  pekerjaan kasar dalam skala besar diserahkan begitu saja kepada buruh dari luar. Sementara itu para tenaga muda lokal yang merasa dirinya sebagai tuan rumah, merasa lebih nyaman dengan status mengganggurnya sembari berharap semoga ada investor yang membuat hotel berbintang, vila, lapangan golf, atau art shop di kampungnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika situasi sudah sangat mendesak harus bekerja, tenaga muda dan produktif lokal Bali buru-buru merayu orang tuanya, buru-buru rapat keluarga untuk berembug menjual tanah warisan. Bukan untuk apa-apa, tetapi mereka butuh biaya banyak untuk melamar pekerjaan menjadi PNS, atau menjadi polisi, atau buat sekolah diploma bidang kepariwisataan. Banyak sekali anak-anak muda Bali yang bersekolah di bidang kepariwisataan memaksa orang tuanya untuk menjual sawah atau kebun, karena mereka perlu biaya tinggi untuk training di luar negeri. Maka demikianlah, berbekal uang hasil menjual tanah warisan, anak-anak muda Bali dengan gagah dan perlente berangkat ke Singapur untuk training menjadi buruh hotel atau buruh kapal pesiar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah usai training di luar negeri, mereka pun kembali harus nganggur menunggu lowongan. Bagi mereka yang bernasib lebih baik, panggilan kerja dari sebuah kapal pesiar di Amerika, Hongkong atau Eropa datang lebih cepat. Tetapi karena uang hasil menjual warisan sudah keburu habis untuk training di luar negeri dan bekal selama menunggu panggilan, maka untuk berangkat memenuhi panggilan kerja di kapal pesiar di Amerika, orang tua mereka kembali harus meminjam uang di bank dengan jaminan sertifikat tanah warisan yang tersisa sepetak kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fenomena ini menunjukkan, betapa kondisi perburuhan di Bali sejatinya sangat konyol, kekanak-kanakan dan tak masuk akal. Pekerjaan nyata di halaman rumah sendiri tak sudi mereka lakukan karena dianggap kasar dan kotor, tetapi pekerjaan yang seolah-olah elit di negeri nun jauh di sana mereka kejar dengan ongkos yang tak masuk akal pula. Para buruh kasar dari luar Bali dengan rela dan iklas berjibaku dengan lumpur got, berjibaku dengan trik matahari dan guyuran hujan angin, lalu pulang ke kampung halamannya dengan perasaan legowo berikut uang nyata. Bahkan tidak mustahil di kampung halamannya mereka bisa membeli sepetak tanah atau membangun warung kecil untuk istrinya dari ongkos berburuh di Bali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, para buruh Bali yang berangkat ke luar negeri mendapat kenyatan bahwa sebesar-besar gaji yang mereka terima yang berbentuk dolar atau euro, tak kunjung cukup dikumpulkan untuk melunasi hutang dan menebus tanah warisan yang telah terjual.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika mau jujur, pergeseran dan pengalih-fungsian lahan di Bali juga ada kaitannya dengan dunia perburuhan. Penduduk lokal yang lebih memilih “pekerjaan bersih” di hotel-hotel berbintang di luar negeri, di kapal pesiar dan sejenisnya, dengan gembira mengalih-fungsikan sawah atau kebunnya kepada para investor luar untuk dijadikan hotel, vila atau pusat perbelanjaan baru. Maka bukanlah sesuatu yang mengada-ada, bila beberapa tahun ke depan Bali akan semakin bangkrut gara-gara persoalan buruh ini!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #990000; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Nanoq da Kansas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5281877670569966159?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5281877670569966159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/03/bali-buruh-bangkrut.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5281877670569966159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5281877670569966159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/03/bali-buruh-bangkrut.html' title='Bali, Buruh, Bangkrut!'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5374598805569741731</id><published>2010-03-01T12:29:00.000+07:00</published><updated>2010-03-01T12:29:13.038+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Wajib untuk Miskin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;KEMISKINAN&lt;/b&gt; dan miskin itu penting. Maka keduanya perlu ada. Sebab jika tidak ada kemiskinan dan orang atau warga masyarakat miskin, maka keberadaan sebuah negara dan pemerintahnya akan kurang bermakna. Karena kemiskinan dan orang miskin adalah sumber masalah. Mulai dari kriminalisme, premanisme, prostitusi, kekerasan antar-kelompok, buta hurup, keterbelakangan dan seterusnya, kebanyakan berpangkal dari kemiskinan dengan para pelakunya adalah orang-orang miskin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka di atas semua inilah negara dan pemerintah mendapatkan peranannya. Di atas semua inilah negara dan pemerintah menjadi bermakna dan lebih punya greget. Yakni, mengemban tugas untuk mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan warga masyarakat yang miskin tersebut. Dengan kata lain, karena adanya kemiskinan dan orang-orang miskinlah negara dan pemerintah ada gunanya!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemiskinan dan orang-orang miskin itu penting. Maka keduanya perlu dipelihara. Sebab kemiskinan dan warga masyarakat miskin adalah arena untuk bermain politik. Arena dimana para elit dan para pelakon politik berakrobat dengan segala argumen, segala gagasan dan segala ide-ide absurd untuk mencari muka, mencari pengaruh dan mencari celah untuk berkuasa. Tanpa kemiskinan dan warga masyarakat miskin, para elit dan pelakon politik akan kehabisan bahan ketika seolah-olah berjuang untuk menuju kedudukan dan kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemiskinan dan miskin itu penting. Maka keduanya harus dibiarkan ada. Sebab kemiskinan dan warga masyarakat miskin adalah komoditi yang sangat laris untuk dijual. Sangat berpeluang untuk dijadikan proposal mencari dana ke donatur-donatur luar negeri bagi para pejuang kemanusiaan yang bernama LSM, maupun institusi-institusi dan instansi pemerintah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemiskinan dan miskin itu penting. Maka keduanya harus dibiarkan tetap ada, agar pemerintah dan pemimpin-pemimpin serta para penguasa yang akan datang juga ada pekerjaan. Agar mereka tidak makan gaji buta, agar mereka tidak ongkang-ongkang saja di atas kursi empuk sembari menepuk-nepuk dada mengatakan pembangunan yang dilakukannya berhasil dengan sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemiskinan dan miskin itu penting agar peradaban politik tetap berjalan. Oleh sebab itu maka harus ada yang diwajibkan untuk tetap miskin!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5374598805569741731?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5374598805569741731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/03/wajib-untuk-miskin.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5374598805569741731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5374598805569741731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2010/03/wajib-untuk-miskin.html' title='Wajib untuk Miskin'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4579409142717934264</id><published>2009-11-30T15:58:00.000+07:00</published><updated>2009-11-30T15:58:30.918+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Pendidikan Di Titik Nol</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Fakta menyodorkan, dunia pendidikan Indonesia hingga hari ini belum juga menemukan bentuk idealnya. Proses pendidikan hingga saat ini masih berada dalam proses eksperimentasi yang konyolnya justru sering mengorbankan esensi dari pendidikan itu sendiri. Proses belajar-mengajar di sekolah bahkan seringkali masih dikorbankan oleh kepentingan-kepentingan lain semisal politik atau kepentingan ekonomi. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ketika&lt;/b&gt; bicara pendidikan, tentulah tidak selesai hanya dari sisi luar secara fisik semata. Esensi pendidikan justru berada di “dalam”, mulai dari dalam kompleks gedung sekolah, dalam kelas, hingga apa yang ada di dalam diri para tenaga pendidik alias guru, apa yang ada di dalam diri para peserta didik alias para siswa, serta apa yang ada di dalam benak masyarakat untuk merespon keberadaan dan keberlangsungan pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang tidak kasat mata inilah yang sejatinya justru jauh lebih esensi dari segala fasilitas yang selama ini dijadikan nomor satu dalam keberlangsungan pendidikan kita. Sekedar contoh, sebuah sekolah boleh saja memiliki fasilitas gedung mewah dengan sistem belajar-mengajar terkomputerisasi atau serba menggunakan IT. Tetapi jika semua itu pada akhirnya tidak menghasilkan output yang mampu merespon dinamika kehidupan riil yang ada di masyarakat, sebuah pendidikan tetaplah sia-sia. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu yang disebut dinamika kehidupan masyarakat tidaklah pernah berhenti dan mau menunggu untuk menyesuaikan diri dengan output sekolah. Dalam konteks negatif, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dekadensi moral dan berbagai krisis sosial dan politik, terus menerus bergulir melampaui nilai-nilai moral standar yang dicekokkan kepada peserta didik di dalam kelas. Maka betapa tak berdayanya para siswa dan generasi muda tamatan sekolah kita hingga saat ini ketika mereka harus terjun ke masyarakat. Bahkan secara ekstrem, banyak siswa dan mahasiswa yang takut tamat karena belakanagan mereka menyadari betapa tak berdayanya pengetahuan dan keterampilan mereka ketika berada di luar sekolah atau kampus. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks positif, berbagai kemajuan yang terjadi di luar gedung sekolah juga selalu membuat terkesiap generasi muda setamat sekolah atau kuliah. Mereka terkaget-kaget dengan berbagai fakta “kemajuan” yang tak pernah mereka terima dalam kelas. Pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, dan jenis-jenis eksak lainnya yang mereka terima di kelas, ternyata tak berarti apa-apa bahkan ketika mereka menghadapi kenyataan di sebuah toko mainan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelajaran Sejarah, Sosiologi, Tata Negara dan sejenisnya yang diberikan guru dan yang ada di buku-buku pelajaran, ternyata tak berari apa-apa ketika berhadapan dengan dinamika sosial budaya masyarakat di luar kelas. Tak mampu mendorong responsibilitas generasi muda atas berbagai fenomena kemajuan jaman. Satu contoh sederhana, ketika pelajaran Sejarah dan Tata Negara di kelas masih berkutat dengan hapalan nama-nama pahlawan, nama-nama menteri, fungsi lembaga-lembaga tertinggi negara, di luar kelas mereka telah dilakukan berbagai amandemen undang-undang ketatanegaraan oleh para elit dan penguasa. Pada tataran praktek, maka apa yang baku yang ada dalam buku pelajaran ilmu-ilmu sosial dan ketatanegaraan di kelas pun sudah menjadi sesuatu yang ketinggalan atawa kedaluwarsa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Doktrinasi dalam pendidikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Praktek doktrinasi dalam dunia pendidikan kita saat ini pun masih berlaku. Parahnya, doktrinasi itu justru datang dari lembaga-lembaga di luar dunia pendidikan seperti lembaga kekuasaan, lembaga politik dan lembaga ekonomi. Sejak berlakunya otonomi daerah di mana manajeman pendidikan di daerah digabung ke dalam jajaran birokrasi pemerintahan, manajeman pendidikan tidak lagi murni berada di bawah departemen tetapi berubah status menjadi “dinas”, otoritas lembaga ini pun terhapus secara fungsional. Dinas pendidikan hanya berfungsi untuk menjalankan perintah dari kekuasaan. Manajeman pendidikan di daerah-daerah kehilangan inisiatif sekaligus kehilangan hak manajemannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak era otonomi daerah diberlakukan di tanah air tercinta yang katanya demokratis ini, sekolah pun tiba-tiba diklaim sebagai “wilayah jajahan politis” birokrasi kekuasaan. Maka tidak sedikit sekarang kepala sekolah yang menjadi penuh ketakutan di wilayahnya sendiri. Takut karena ada hantu yang bernama kekuasaan yang bisa saja datang tiba-tiba dengan otoritas kekuasaannya. Tidak sedikit kepala sekolah dan guru-guru yang menderita “phobia kekuasaan”. Runyamnya, ada kepala sekolah yang ketakutannya berlebihan, sampai-sampai menyusun program kerja sekolah saja tidak bisa. Bukan tidak bisa sebenarnya, tetapi berhati-hati secara berlebihan karena takut disalahkan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Partisipasi yang mati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di era otonomi daerah ini, partisipasi masyarakat kepada dunia pendidikan juga mengalami degradasi yang parah, bahkan terbunuh tanpa alasan. Dari media massa, begitu seringnya kita disuguhi berita tentang robohnya sebuah sekolah, tentang hancurnya fasilitas sekolah semacam laboratorium, perpustakaan dan sejenisnya karena sudah kedaluwarsa, tentang mahalnya buku-buku pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang tidak seharusnya terjadi di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, bisa terjadi tiada lain adalah akibat dari matinya partisipasi masyarakat kepada dunia pendidikan. Karena pemerintah (daerah) terlanjur memposisikan diri sebagai pengatur segala hal di wilayah pendidikan, maka masyarakat pun menjadi apatis. Melihat gedung sekolah sudah tua dan bocor, melihat perpustakaan sekolah kosong melompong tak punya buku, masyarakat tak peduli. Mereka berpikir semua itu toh sudah dipikirkan pemerintah. Pihak sekolah pun tak berani berbuat banyak misalnya meminta sumbangan kepada para wali murid dan masyarakat di sekitarnya, karena takut dikatakan melakukan pungutan liar. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika mau jujur melihat kondisi dunia pendidikan yang ada saat ini, sudah sepatutnya semua pihak terutama pemerintah untuk melakukan evaluasi. Setidaknya, ego untuk tampil menjadi sentral dengan memasuki segala sisi dunia pendidikan, sudah harus diakhiri. Sudah sering disinggung dalam berbagai forum, bahwa dunia pendidikan itu ibarat mata air. Jika mata air itu direcoki dengan arogansi pemerintah berikut aspek-aspek yang mengikutinya seperti aspek politik, ekonomi (dengan dalih efisiensi), dan aspek-aspek lainnya, maka mata air itu pun akan menjadi keruh. Maka dari itu pula, dengan mudah dapat ditebak, generasi macam apa yang akan lahir dari sistem pendidikan yang keruh dan carut-marut?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4579409142717934264?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4579409142717934264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/pendidikan-di-titik-nol.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4579409142717934264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4579409142717934264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/pendidikan-di-titik-nol.html' title='Pendidikan Di Titik Nol'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4855472158180523775</id><published>2009-11-18T14:34:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T14:34:38.976+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Sejarah dan Pahlawan Mereka Hari Ini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Coba sebutkan, siapa saja nama-nama pahlawan kita?” Saya bertanya kepada segerombolan anak kelas empat sekolah dasar di sebuah tempat penyewaan play station. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Antasari, Crist Jhon dan Mbah Marijan!” Jawab seorang anak dengan mantap.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“SBY dan Valentino Rossi juga!” Celetuk seorang anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pangeran Diponegoro, Ibu Kita Kartini, Megawati dan Pak Winasa!” Sahut seorang anak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ya, bagus bagus! Menurut kalian, siapa sih orang yang disebut pahlawan itu?” saya bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Orang yang berjasa!” Jawab beberapa anak hampir serentak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Berjasa bagimana?” &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agak lama mereka tak menjawab sambil saling pandang satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ayo..., berjasa bagaimana?”  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Berjasa menyelamatkan orang lain!” Seorang anak yang duduk paling pojok menjawab tanpa berpaling kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Berjasa mengusir penjajah!” Jawab anak yang paling dekat dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau begitu, coba sebutkan siapa yang disebut penjajah?” &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mahluk luar angkasa, virus komputer, teroris, dan... dan... apa lagi ya?” Seorang anak menggaruk-garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dementor!” seorang anak berteriak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aduh, siapa itu Dementor?” Saya bingung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Itu lho Om, hantu hitam yang suka menghisap nyawa orang di film Harry Potter. Hehehe... Om gak gaul sih....”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“O ya ya ya...,” saya jadi agak malu. “Nah adik-adik, kalau orang-orang yang dulu mengusir penjajah dari negeri kita, namanya apa?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Veteran Om.....,” jawab mereka serempak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah obrolan singkat dengan anak-anak di penyewaan play station itu, agak lama saya tak bisa tidur. Bukannya saya sedih, marah atau jengkel dengan pengetahuan sejarah yang begitu amburadul di kalangan anak-anak tersebut, tetapi saya justru merasa geli yang tak berkesudahan. Saya merasa betapa lucunya sekarang kondisi negeri ini. Betapa konyolnya kita semua, bahkan hanya untuk mengingatkan anak-anak kita tentang para pahlawan bangsa saja kita tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika harus mencari-cari kambing hitam dalam konteks ini, siapakah yang harus dipersalahkan? Apakah pelajaran sejarah di sekolah? Apakah para guru sejarah? Apakah kurikulum pendidikan yang berlaku sekarang?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kira kita semua tidak sedang pada posisi mencari siapa untuk dipersoalkan atau dipersalahkan. Obrolan antara saya dengan segerombolan anak-anak kelas empat SD tadi semata-mata adalah cermin dari kondisi intelektual, sosial hingga psikologis anak-anak kita saat ini. Sebab saya tidak percaya bahwa kurikulum di sekolah menghapus atau mengganti pelajaran sejarah. Saya tidak percaya anak-anak yang ada di play statition itu tidak tahu atau setidaknya tidak pernah mendengar nama-nama seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Bung Tomo, Pattimura, Tjut Nya Dien, Ngurah Rai, Jendral Soedirman, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang saya tidak percaya adalah, adanya komunikasi yang baik antara generasi tua (baca: para guru sekolah, para orang tua di rumah dan pemerintah yang ada saat ini) tentang sejarah bangsa ini. Sepengetahuan saya, bahkan sejak masa-masa saya masih bersekolah dulu, komunikasi tentang sejarah bangsa antara saya (kami para siswa) dengan guru sejarah hanyalah sebatas komunikasi “tugas”. Para guru bertugas menyuruh para siswa membuka halaman sekian dari buku pelajaran sejarah, sementara kami para siswa bertugas menghapal nama-nama dari halaman sekian pelajaran sejarah tersebut. Jika saya (kami para siswa) berhasil menghapal sederet nama yang ada dalam buku pelajaran sejarah tersebut, maka kami akan dihadiahi nilai yang ditulis tinta biru atau hitam, sementara kalau ada beberapa anak yang tidak berhasil mengahapal maka akan dihadiahi nilai dengan warna tinta merah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa artinya, pelajaran sejarah yang berlaku pada setiap kurikulum pendidikan kita, telah diperlakukan tidak lebih baik dari berita-berita yang tertulis di koran-koran. Untung saja tulian-tulisan sejarah tersebut diformat dalam bentuk buku pelajaran, sebab kalau ditulis dalam format lembaran kertas besar seperti koran misalnya, saya jamin setelah pelajaran di kelas selesai maka artikel pelajaran sejarah itu juga akan segera menjadi pembungkus kacang, pembungkus baju atau pembungkus martabak telor.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa Hikmah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali lagi ini adalah masalah komunikasi! Bahwa komunikasi pelajaran sejarah dalam proses belajar-mengajar bangsa kita di sekolah amatlah buruk!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, di luar kelas, dari halte-halte angkutan kota, warung kopi, mall-mall, ruang tamu hingga ke kamar tidur anak-anak kita di rumah, komunikasi tentang kepahlawanan model baru dengan bergemuruhnya berlangsung melalui televisi, video CD, berbagai macam game, MP3, MP4 dan sejenisnya. Hebatnya, komunikasi untuk hal ini berlangsung dengan begitu bagus dan intensnya, baik dari sisi kemasan atau penyajian, sisi bahasa atau pengungkapan, hingga visualisasi (gambar-gambar ilustrasi). Dengan komunikasi nan begitu baik serta sangat kosisten, maka tidaklah aneh jika kemudian para “pahlawan kekinian” menjadi benar-benar melekat dalam benak keseharian anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak salah jika anak-anak mengatakan bahwa para pahlawan adalah mereka yang berjasa. Diponegoro, Jendral Soedirman dan yang lainnya sudah pasti adalah orang-orang yang teramat berjasa bagi negara dan bangsa ini. Tetapi itu terjadi dulu sekali bahkan di saat kakek dan ayah anak-anak sekarang ini belum lahir. Jadi tidaklah salah pula jika mereka tidak ikut merasakan jasa para pahlawan dulu. Sementara itu buku pelajaran sejarah di sekolah kehadirannya hanya sebatas sebagai pembawa berita dari masa lampau tanpa pernah menyertakan penjelasan yang lebih masuk akal tentang bagaimana seseorang akhirnya berjasa dan menjadi pahlawan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komuniksi antara buku pelajaran sejarah, guru sejarah dan para murid tidak mampu menghidupkan imaji apapun tentang sebuah kepahlawanan. Tidak mampu menghadirkan seorang pahlawan pun dari masa lampau agar anak-anak kita sekarang dapat memahami kemudian merasa bersyukur atas kepahlawanan mereka. Semua berhenti pada sebuah tugas, yakni tugas menghapal!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam seremoni-seremoni kenegaraan pun, pemerintah maupun warga banga ini tidak pernah mau berupaya lebih baik bagaimana caranya mengenang, mengapresiasi dan menghormati para pahlawan secara lebih iklas. Segala seremoni peringatan suatu kepahlawanan, entah apel bendera, entah kegiatan-kegiatan lainnya, hanya selesai pada teks pidato dangkal para inspektur upacara dan slogan pada spanduk yang wajib dipasang di setiap gerbang kantor pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dengan Semangat Hari Pahlawan Kita Tingkatkan Semangat Pengabdian Kepada Nusa dan Bangsa”, demikian sebuah contoh spanduk yang lazim dipasang di pintu gerbang kantor-kantor pemerintahan. Entah apa maksudnya, kita, masyarakat dan terutama anak-anak tidak mampu menangkap pesan dan hikmah apapun dari bunyi sepanduk semacam itu. Buktinya, pengabdian yang ada toh tetap segitu aja. Bahkan yang lebih parah, setelah usai apel bendera peringatan Hari Pahlawan atau Hari Kemerdekaan, pemerintah lantas buru-buru mengumumkan rencana kenaikan gaji para pegawai negeri dan tunjangan para pejabat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harusnya Lebih Kreatif&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak hal yang lebih kreatif yang seharusnya bisa dilakukan untuk lebih memaknai Peringatan Hari Pahlawan. Dan waktu untuk itu pun cukup banyak. Taruhlah misalnya setiap sekolah setingkat SMP dan SMA menyelenggarakan diskusi tentang kepahlawanan pada setiap peringatan Hari Pahlawan. Dengan melakukan diskusi mendalam soal para pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan, memperdebatkan situasi dan kondisi pada masa-masa perjuangan mereka dulu dengan kondisi kekinian dan lain sebagainya, maka akan terjadi saling pengertian yang lebih iklas, ingatan yang lebih tebal serta penghayatan yang lebih sublim pada generasi muda saat ini tentang para pahlawan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk tingkat sekolah dasar, para guru seharusnya bisa mengajak para siswanya berbagi cerita tentang perjuangan para pahlawan dengan pola yang lebih sederhana tetapi mendalam dan detail. Bisa saja setiap kelas diajak membuat semacam fragmen perjuangan seorang pahlawan, kemudian sesudahnya seluruh siswa diajak mengpresiasinya. Ini lebih efektif daripada mengajak para siswa menghayal hanya dengan membaca halaman sekian dari buku sejarah atau memelototi jejeran poster para pahlawan yang dipasang di dinding kelas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau di jaman sekarang di mana kita semua suka sekali pada kelatahan-kelatahan dan eforia tanpa juntrungan, para guru, pemerintah dan siapa saja bisa saja mengajak para siswa untuk memasang nada dering lagu-lagu pahlawan di perangkat telepon seluler mereka pada setiap peringatan Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan dan hari-hari besar nasional lainnya. Hal ini sangat mungkin dilakukan, melihat bagaimana antusiasnya anak-anak dan remaja untuk melakukan aksi solidaritas pada moment-moment tertentu. Lihat saja misalnya ketika terjadi penangkapan para biksu di Myanmar baru-baru ini, hampir setiap remaja di Indonesia ikut menunjukkan solidaritas dengan memasang pita tertentu pada baju atau di lengan mereka. Atau ketika terjadi pembantaian warga sipil dan anak-anak di Palestina belum lama ini, para elit bangsa ini toh tanpa malu-malu mengajak siapa saja untuk melakukan aksi solidaritas untuk menentang dan mengutuk kebiadaban itu. Dan yang terakhir, bukankah baru saja warga bangsa ini mengumpulkan sejuta tanda tangan untuk mendukung “pahlawan” KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan sekali-kali kita langsung menyalahkan anak-anak dan para remaja saat ini yang gagap pengetahuan soal pahlawan bangsa mereka. Karena kondisi dan situasi yang dibuat oleh para generasi di atas merekalah yang menciptakan kegagapan itu. Para generasi tua yang hidup saat ini terlalu rajin dan agresif menciptakan pahlawan-pahlawan instan untuk dicekokkan pada anak-anak dan remaja. Sementara itu anak-anak dan remaja kita yang sebenarnya sudah muak oleh perilaku generasi tua yang begitu masyuk berpolitik saat ini dengan diam-diam mencari pahlawan mereka sendiri, bahkan membawanya ke dalam kamar tidur hingga ke dalam dompet mereka masing-masing. Maka tidaklah pula terlalu keliru bila segerombolan anak kelas empat sekolah dasar menganggap Valentino Rossi adalah pahlawan mereka, kerena Rossi berjasa menghibur mereka dengan perjuangan gigihnya di sirkuit MotoGP. Itu misalnya!   &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;Nanoq da Kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Nopember 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4855472158180523775?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4855472158180523775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/sejarah-dan-pahlawan-mereka-hari-ini.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4855472158180523775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4855472158180523775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/sejarah-dan-pahlawan-mereka-hari-ini.html' title='Sejarah dan Pahlawan Mereka Hari Ini'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-487296891415554196</id><published>2009-11-14T10:46:00.000+07:00</published><updated>2009-11-14T10:46:22.733+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>BOLA HITAM PUTIH YANG TERUS BERGULIR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;AKU&lt;/b&gt; terima berita kematiannya tadi pagi. Seorang utusan datang, bicara dengan suara patah-patah dan mimik yang sedih sekali. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ini menjadi berita luar biasa bagiku. Bagaimana tidak? Selama ini, selama kami menjalin persahabatan, tak pernah sekalipun dia menyinggung-nyinggung soal kematian. Di dalam setiap pertemuan dan kebersamaan selama ini, dia selalu nampak gagah, bersemangat dengan gagasan-gagasan besar serta berapi-api jika menghadapi setiap hal. Dia selalu meledak-ledak jika bicara. Dan seingatku, tak pernah dia mengajakku bicara soal maut, soal upacara-upacara perkabungan, tentang tanah perkuburan yang lengang, atau tangis sebuah keluarga yang sedang kehilangan salah seorang kecintaannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak pernah dia mengajakku menyinggung-nyinggung soal penyakit, soal umur yang kian menyusut atau soal tenaga yang kian hari kian menipis. Sekali lagi, dia adalah seorang yang luar biasa. Jadi berita ini pun mau tak mau menjadi berita yang luar biasa pula bagiku. Bahwa dia sekarang mati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi hari ini aku tidak ke kantor. Aku segera bersiap-siap untuk melayat. Aku menolak ketika istriku minta ikut. Padahal dia telah menyiapkan sekardus besar barang-barang yang hendak dibawanya ke sana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena aku berpikir akan ikut mengantarnya ke kuburan, maka aku sengaja memilih pakaianku yang berwarna hitam. Kemeja hitam, jas hitam, celana hitam, topi hitam, kacamata hitam dan syal hitam aku lilitkan di leher. Tapi ketika memilih sepatu, aku tertegun. Ternyata tak satu pun sepatuku ada yang berwarna hitam. Putih semua. Hanya sepasang kaos kakiku ada yang berwarna hitam. Aku terhenyak. Tiba-tiba aku merasa nelangsa dan menyesali diriku tentang hal ini. Kenapa aku bisa tak memiliki sepatu hitam walau sepasang pun. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Edan!” aku mengumpat kecil diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sudahlah. Kita bisa menyuruh supir ke toko sepatu sekarang untuk membeli sepatu hitam,” hibur istriku. Aku diam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya aku memutuskan untuk tidak memakai sepatu saja. Aku juga tidak berangkat dengan mobil. Aku berjalan kaki dan bertelanjang kaki. Dan ini akhirnya juga melegakan perasaanku. Dengan bertelanjang kaki begini sekonyong-konyong aku dapat mengenang masa kecil kami. Mengenang masa muda kami, mengenang seluruh waktu ketika kami masih sama-sama hidup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengenang masa-masa kami bersekolah dulu. Waktu itu kami tak pernah memakai sepatu. Belum ada sepatu yang dijual di toko-toko seperti sekarang ini. Dan toko-toko sepatu juga belum ada waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku juga mengenang ketika dulu setiap sore kami bermain sepakbola di tanah kosong sebelah rumah seorang tetangga. Waktu itu kami pun tak pernah memakai sepatu. Di tengah-tengah sinar matahari sore yang cerah, di tengah-tengah sore yang diguyur hujan dan angin kencang, kami bermain sepakbola dengan kaki telanjang. Tak peduli dan tak pernah jera kami pada kaki kami yang habis terluka oleh batu-batu tajam dan potongan-potongan ranting-ranting pohon. Tak pernah kami jera oleh tusukan-tusukan duri atau pecahan-pecahan beling yang berserakan di tanah kosong itu. Bahkan pernah pula kesepuluh jari kaki kami mengelupas kukunya karena keasyikan bermain sepakbola itu. Dengan jari-jari kaki tak berkuku, kami terus menendang-nendang, menyepak, menangkap dan mengejar bola hitam putih yang bergulir. Sampai jari-jari kami berdarah semua, barulah kami berhenti, pulang dan tidur. Untunglah pada malam harinya ketika kami tertidur, jari-jari itu tumbuh kuku lagi. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya. Masa-masa seperti itu adalah saat-saat yang paling edan bagi kami. Masa-masa di mana sakit dan kegembiraan secara bersamaan benar-benar dapat kami rasakan tanpa harus menangis, tertawa terbahak-bahak, atau mengadu kepada siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, setelah kami sama-sama besar kesukaan bermain sepakbola itu terpaksa tidak dapat terus kami pelihara. Sebenarnya bisa saja. Tapi kami agak malu melakukannya. Mula-mula alu pada istri, mertua dan para ipar, lalu malu pula pada anak-anak serta cucu-cucu kami. Dan karena beberapa hal, kami juga tidak bisa terlalu sering bertemu di sore hari. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan sekarang dia telah mati. Aku terima berita itu tadi pagi. Luar biasa. Nyaris aku tak mempercayainya. Masa orang seperti dia bisa mati? &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba di rumahnya, ternyata orang-orang sudah siap untuk berangkat ke kuburan. Peti kayu berwarna coklat tua yang membekap tubuh sahabatku itu telah mereka angkat. Orang-orang berbadan besar dan kekar menempatkan peti itu di atas pundaknya. Lalu mereka melangkah perlahan-lahan diapit barisan orang-orang yang menyanyikan lagu-lagu kematian. Di belakangnya wajah-wajah duka mengiringi dengan dengus napas yang dekat sekali dengan isak tertahan. Lelaki dan perempuan semua berjalan menunduk. Segala pemandangan yang ada di sepanjang pinggir jalan menuju kuburan itu seakan telah menjadi tabu untuk dinikmati. Hanya barisan anak-anak yang berjalan paling belakang, masih tetap dengan kebengalannya. Anak-anak itu berjalan biasa saja, saling colek dengan temannya, ada yang memekik dan menangis karena kena sikut teman sebelahnya, ada yang tertawa dan bersorak entah karena apa. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan karena aku sendiri agak bingung mau masuk rombongan yang mana, maka aku memilih sendirian saja. Berjalan di belakang gerombolan anak-anak yang kacau balau itu. O, tidak! Aku tidak sendirian. Sebab ternyata seorang gadis remaja juga berjalan di sebelahku. Gadis itu murung sekali. Aku mengira bahwa aku tak akan mungkin dapat menghiburnya. Maka aku diamkan saja dia. Dan karena aku tidak bisa bernyanyi seperti orang-orang di depan, aku lalu membaca puisi. Tapi ini pun kulakukan di dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari telah sore ketika prosesi pemakaman itu selesai. Matahari condong ke barat dengan sinarnya yang lembut menyinari gundukan tanah dengan taburan bunga-bunga berwarna-warni itu. Angin berhembus sepoi membawa harum yang khas. Satu per satu orang-orang pulang, dan aku melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku baru saja membuka pakaian di kamar ketika istriku yang sedang membuat kopi di dapur mengatakan ada orang mengetuk pintu di depan. Aku buru-buryu menyongsongnya. Dan ketika daun pintu itu aku buka, aku takjub. Aku terpesona. Ternyata dia telah berdiri di depanku. Tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih, dengan sorot mata yang masih berapi-api. Dia mengulurkan tangan padaku. Dan bagai tak pernah bertemu berabad-abad kami serentak berangkulan. Terharu dan gemas bercampur menjadi satu. Sampai-sampai kami tak bisa berkata-kata. Hatiku memang selalu benar: dia tak mungkin bisa mati! &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian masih dengan berangkulan kami keluar rumah. Kami berlari meloncati pagar halaman di depan rumah. Sinar matahari tinggal sedikit lagi. Kami bergegas. Lalu kami bermain sepakbola lagi di tanah kosong di sebelah rumah seorang tetangga. Kami rayakan pertemuan kami. Kami menendang, menangkap, menyepak dan mengejar bola hitam putih yang terus bergulir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Negara – Bali, suatu senja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #cc0000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;NANOQ DA KANSAS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-487296891415554196?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/487296891415554196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/bola-hitam-putih-yang-terus-bergulir.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/487296891415554196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/487296891415554196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/bola-hitam-putih-yang-terus-bergulir.html' title='BOLA HITAM PUTIH YANG TERUS BERGULIR'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1276211328526554021</id><published>2009-11-11T13:20:00.000+07:00</published><updated>2009-11-11T13:20:49.753+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Kembali ke Bumi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga bulan terakhir, Agustus – Oktober yang lalu, saya meninggalkan bumi. Saya pergi, menyelinap dan suntuk di dalam sebuah dunia antah-berantah, sebuah dunia yang sejuk tenteram, sebuah dunia yang mirip dengan rahim ibu dimana segalanya terasa hangat, nyaman, tanpa masalah, bahkan tanpa mesti ada perhitungan-perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, sepanjang tiga bulan kemarin, saya pergi meninggalkan bumi, masuk ke dalam sebuah dunia bernama kesenian. Sepanjang tiga bulan kemarin itu, dapat dikatakan bahwa saya berada pada sisi paling asyik dari rangkaian prosesi kehidupan. Saya mengumpulkan orang-orang: sebagian anak-anak muda perkotaan dengan segala aksen urbannya, sebagian lagi masyarakat pedesaan dengan alur kehidupan mereka yang apa adanya. Lalu kami bekerja dengan sebuah alat yang bernama cinta, menciptakan sesuatu yang sedapat-dapatnya membuat hati senang. Ya, berkesenian adalah bekerja dengan cinta untuk membuat hati senang, membuat sejuk siapa saja, termasuk Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang tiga bulan kemarin kami tidak menginjak bumi. Tanpa menonton televisi, tanpa membaca surat kabar, tanpa mendengarkan radio, tidak berurusan dengan pemerintah, tidak berurusan dengan politik, bahkan tidak berurusan dengan menu makanan. Kami melayang, tenggelam, mengambang, meluncur, menyerupai partikel-partikel atom pada wilayah tanpa dimensi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi sebuah pekerjaan, sebagaimana juga kehidupan, tentulah ada ujungnya. Pada akhirnya kami menyudahi pekerjaan selama tiga bulan itu. Saya dan orang-orang kembali ke bumi, kembali kepada tempat dan kondisi dimana kami semestinya. Kami kembali menonton televisi, kembali membaca surat kabar, mendengarkan radio dan berurusan dengan menu makanan di dapur masing-masing. Ya, saya dan siapa saja, hari ini harus iklas berada pada sebuah kekacauan yang indah bernama: indonesia!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #990000; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1276211328526554021?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1276211328526554021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/kembali-ke-bumi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1276211328526554021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1276211328526554021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/11/kembali-ke-bumi.html' title='Kembali ke Bumi'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5363151860127384219</id><published>2009-09-25T13:04:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T13:04:05.307+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Silaturahmi Indonesia Kecil di Parade Budaya Nusantara - Jembrana 2009</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbdY1oz9I/AAAAAAAAAuE/TQQ7bLl1JPs/s1600-h/Foto+%281%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbdY1oz9I/AAAAAAAAAuE/TQQ7bLl1JPs/s320/Foto+%281%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbpEi_9pI/AAAAAAAAAuU/wKJcj3a3pR0/s1600-h/Foto+%283%29.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbpEi_9pI/AAAAAAAAAuU/wKJcj3a3pR0/s320/Foto+%283%29.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbugPDkMI/AAAAAAAAAuc/31B9_f5CcLQ/s1600-h/Foto+%284%29.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbugPDkMI/AAAAAAAAAuc/31B9_f5CcLQ/s320/Foto+%284%29.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbiRxyBrI/AAAAAAAAAuM/SuYivhnJ_VQ/s1600-h/Foto+%282%29.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbiRxyBrI/AAAAAAAAAuM/SuYivhnJ_VQ/s320/Foto+%282%29.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/Srxb0MILN6I/AAAAAAAAAuk/eRwEkaYFoEw/s1600-h/Foto+%285%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/Srxb0MILN6I/AAAAAAAAAuk/eRwEkaYFoEw/s320/Foto+%285%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping merayakan pluralitas dalam semangat persatuan dan kebersamaan sebagai satu bangsa, Parade Budaya Nusantara yang digelar 1 September lalu serangkaian 114 Tahun Kota Negara – Ibu Kota Kabupaten Jembrana, Bali, juga menciptakan atmosfir yang tak kalah sakralnya, yaitu hangatnya kembali tali silaturahmi anak-anak bangsa. Silaturahmi, sima krama atau apapun istilahnya, di situlah sejatinya semangat yang senantiasa ada, senantiasa membangun serta membesarkan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di hamparan sinar matahari senja itu, di kota kecil di ujung barat Pulau Dewata, sebuah taman sari kehidupan bangsa bernama Indonesia Raya mempertegas kembali jatidirinya. Seperti namanya, Indonesia Raya, bahwa sungguh agung dan indah bangsa ini. Keindahan yang tidak hanya muncul dari sapuan warna-warni busana, tari, hiasan kepala, gelang atau kalung hasil ciptaan para seniman daerah, tetapi juga keindahan yang tumbuh dari ramah-tamah jiwa anak-anak bangsa. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di bawah matahari senja di Kota Negara saat itu, semangat untuk senantiasa bersama, baku cinta baku sapa, urun karya urun pemikiran, sunguh mengharubiru. Dan begitulah silaturahmi anak-anak bangsa. Dan kita semua berharap, persaudaraan ini terus semakin kuat mengawal sejarah bangsa hingga ke masa depan. Mengawal dan mengindahkan ciptaan Tuhan yang dengan bahagia kita tempati bersama. Dengan bahagia kita beri nama Indonesia. Dan Jembrana, beserta kabupaten-kabupaten lain di seluruh negeri, tentulah juga adalah Indonesia-Indonesia Kecil yang senantiasa berbahagia!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/Srxb0MILN6I/AAAAAAAAAuk/eRwEkaYFoEw/s1600-h/Foto+%285%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;nanoq da kansas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5363151860127384219?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5363151860127384219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/09/silaturahmi-indonesia-kecil-di-parade.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5363151860127384219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5363151860127384219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/09/silaturahmi-indonesia-kecil-di-parade.html' title='Silaturahmi Indonesia Kecil di Parade Budaya Nusantara - Jembrana 2009'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SrxbdY1oz9I/AAAAAAAAAuE/TQQ7bLl1JPs/s72-c/Foto+%281%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4123702275281233969</id><published>2009-09-04T13:19:00.003+07:00</published><updated>2009-09-04T14:12:53.369+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Hari Minggu Dilarang Sakit*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SAKIT, demikian seseorang menyebut Godam belum lama ini. Celakanya, yang mengatakan itu adalah orang yang sedang ingin diajaknya berbagi hati. Hati yang – entah apa sebabnya – sedang ndak beres-beres amat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengatakan itu adalah seorang gadis cantik bernama Nita, yang hhh, sudah beberapa tahun membuat Godam tak enak tidur. Membuat Godam jatuh hati, jatuh cinta, serta saban malam menghayalkan sebuah kehidupan bahagia berdua, lalu punya anak-anak yang lucu-lucu dan seterusnya dan seterusnya. Pendek kata, yang mengatakan Godam sakit itu adalah seorang gadis yang benar-benar istimewa baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Godam dibilang sakit pertama-tama karena dia bertanya: apa maksud hidup ini? Dari pertanyaan itu Godam mendapat sebuah jawaban panjang berliku yang diakhiri: tabahlah!&lt;br /&gt;Puih, hidup katanya adalah ketabahan.&lt;br /&gt;“Tabah? Apa itu tabah?” tanya Godam.&lt;br /&gt;“Karena hidup ini pinjaman,” jawab Nita.&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;“Kita dipinjemi hidup oleh yang membuat hidup itu sendiri. Jadi syukurlah kamu ndak dikasi hidup sebagai bekicot misalnya, tetapi jadi manusia. Tetapi, dikasi hidup sebagai manusia kita juga mesti menerima konsekwensinya. Sakit, lapar, kenyang, ngantuk, ndak punya uang, jatuh cinta, patah hati, kena gosip, kena rasa iri, sedih, senang, susah, dan seterusnya sampai kita mati. Di antara semua konsekwensi itu kita hanya bisa berusaha untuk mencari jalan keluar agar bisa merasa lebih nyaman. Hanya berusaha, berihtiar, selebihnya tidak. Kemudian di antara berusaha dan hasil berusaha itulah kita mesti mengalami lagi berbagai hal yang tak selalu menyenangkan. Tetapi kita tak boleh menyerah begitu saja. Tak boleh putus asa, prustasi dan lain sebagainya. Itulah yang disebut tabah. Soalnya kita toh tidak punya kemampuan apa-apa lagi alias tidak sempurna.”&lt;br /&gt;“Jadi kita harus tabah?”&lt;br /&gt;“Pake tanya lagi, kamu budek ya?”&lt;br /&gt;“Lho, kok sewot? Apa sewot juga konsekwensi hidup?”&lt;br /&gt;“Tentu saja.”&lt;br /&gt;“Berarti tabah itu juga konsekwensi hidup dong. Jadi kalau kamu bilang maksud hidup ini adalah ketabahan, salah dong.”&lt;br /&gt;“Ya memang. Lalu kamu minta jawaban gimana?”&lt;br /&gt;“Ndak tahu.”&lt;br /&gt;Nita, mahasiswi ekonomi semester dua itu lalu membanting kakinya. Mungkin kesal.&lt;br /&gt;“Kamu sakit!” ketusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godam bergeming. Gundukan tanah yang dikelilingi berbagai bunga perdu di taman kota itu pun kian gelap. Senja yang hangat kini beranjak petang. Orang-orang yang tadi cukup ramai, kini tinggal beberapa saja. Dagang bakso, es kelapa muda, rujak dorong dan sate ayam yang berderet di pinggir sudut timur taman pun tampak sudah mulai berkemas pulang. Godam menengadah ke arah selatan. Lampu-lampu merkuri penerang jalan sudah mulai menyala. Segerombolan burung seriti hinggap dengan riuh cericitnya di pelepah pohon palem di pinggir kolam. Di sebelah palem itu, di tengah-tengah kolam dengan air mancur, tegak menjulang patung Bima dalam belitan naga. Otot-otot Sang Bima tampak menonjol penuh tenaga melawan seekor naga besar yang dengan beringas hendak menelan dirinya. Gagah sekali. Sang Bima dan Sang Naga tampak sama-sama gagah. “Adakah patung itu juga lambang sebuah ketabahan? Ah, memangnya patung bisa berpikir?” Godam menggerutu sendiri dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;BEBERAPA hari kemudian ayah Godam meninggal. Godam kembali bertanya kepada Nita yang hari itu berbaju merah muda. Godam bertanya, bagaimana ya orang kok bisa mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nita yang hari itu berbaju merah muda merenung cukup lama sebelum menjawab. Lalu setengah putus asa dia berujar akhirnya: Bagaimana kita tahu soal kematian, sementara hidup saja ndak dapat dipahami sepenuhnya. Bahwa kematian, sudahlah, itu hanya soal istilah. Bahwa ketika mahluk hidup berhenti bernafas, jantungnya berhenti berdetak, paru-parunya berhenti bergerak, darahnya berhenti mengalir di dalam tubuh, otaknya berhenti bekerja, segala-galanya berhenti, saat itulah dia disebut mati. “Jadi kalau kamu tanya bagaimana orang kok bisa mati, ya karena jantungnya berhenti berdetak, paru-parunya berhenti mengibas, darahnya berhenti mengalir dan seterusnya. Bukankah begitu?”&lt;br /&gt;“Maksudku, kok tidak bisa diperbaiki, gitu,” Godam masih penasaran.&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Misalnya saat orang jantungnya berhenti berdetak, kok ndak bisa diperbaiki biar berdetak lagi atau diganti dengan jantung lain misalnya.”&lt;br /&gt;“Lho, kan sudah? Kan sudah banyak orang yang diganti jantungnya? Kan sudah banyak orang yang paru-parunya dibetulin? Kan sudah banyak orang yang ginjalnya rusak lantas diganti?”&lt;br /&gt;“Ya. Ayahku juga sudah sempat dioperasi ususnya. Kata dokter, ususnya kena kanker ganas. Harus dipotong...,” Godam tak melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;“Nah itulah salah satu contoh lagi bahwa organ tubuh kita yang rusak masih bisa diperbaiki.”&lt;br /&gt;“Tapi kok tetap saja mati?”&lt;br /&gt;“Badah, itulah kuasa yang memberi hidup ini. Hidup ini adalah pinjeman. Kalau yang memberi pinjeman mau mengambilnya lagi, ya, awak mau bilang apa lagi?”&lt;br /&gt;“Yeee, kapan kita meminjamnya?  Aku ndak merasa!” Godam sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nita yang hari itu berbaju merah muda berhenti bicara. Lama ditatapnya Godam. Lalu telapak tangannya terulur dan meraba jidat Godam. “Kamu sakit. Obatnya habis ya?” tanyanya. Godam bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;TAK lama berselang, Godam kembali bertemu Nita di ..., entah di manalah. Untuk hal ini, tempat tiba-tiba menjadi tak penting untuk bernama. Sebuah tempat, mungkin bisa saja kantor, dapur, kamar mandi, jalan raya, pasar, toko, pantai, lemari baju, rak buku, halaman rumah, perpustakaan, lapangan sepak bola, telepon umum..., biarlah tetap dengan namanya sendiri-sendiri. Tetapi untuk hal ini, biarlah nama-nama itu tak disebut saja, karena sesungguhnya – hal ini – memang tak mesti membutuhkan tempat tertentu, yang khusus, walau sementara ini mungkin oleh banyak orang memang dianggap penting setidaknya sebagai saksi bisu. Tetapi bagi Godam, dan juga Nita, biarlah mereka tidak seperti banyak orang itu, tidak ikut mempermasalahkan sebuah nama untuk sebuah tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godam berkata setengah berbisik, – sebuah kalimat pendek yang sebenarnya sudah disimpannya bahkan berabad-abad – menurut perasaannya. “Aku jatuh cinta padamu. Maukah kamu juga jatuh cinta padaku, Nita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu kaget setengah mati. Lama memandang mata Godam.&lt;br /&gt;“Please, kamu kenapa, Godam?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Memang kenapa?”&lt;br /&gt;“Kok kamu semudah itu mengatakan jatuh cinta?”&lt;br /&gt;“Soalnya aku memang jatuh cinta padamu. Soalnya aku memang ingin yang mudah-mudah saja. Soalnya, apapun yang kita telah coba lakukan dengan penuh pertimbangan, perhitungan, pemikiran, sublimasi, pengendapan dan lain sebagainya itu, toh pada hakekatnya akan berakhir dengan mudah. Seperti..., seperti..., ya seperti segala hal. Harga-harga misalnya, betapa mudah dia naik tanpa meminta persetujuan para pembeli. Seperti hukum itu misalnya, betapa mudah dia berubah perangai tergantung siapa yang memakainya atau untuk siapa dia dipakaikan. Seperti politik itu juga misalnya, betapa mudah dia berubah arah, berkompromi tanpa harus mengingat sejarah, tanpa harus mengingat berapa harga korban yang telah ditelan demi mempertahankan ideologi yang diberhalakan sebelumnya. Juga seperti kematian itu, mudah sekali terjadinya. Lihatlah di jalanan, orang dengan mudah mati hanya gara-gara tabrakan. Di mana-mana orang mati dengan mudah hanya dengan dibacok, ditembak, gantung diri, minum racun, sakit jantung, stroke, kanker, thypus, AIDS, kolera, demam berdarah, TBC, kencing manis ...”&lt;br /&gt;“Kamu sakit ya? Aduh, ke dokter yuk!” Nita menarik tangan Godam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah persoalan, Godam menurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan ke dokter itu pikiran Godam terus berputar oleh pertanyaan-pertanyaan. Kenapa di setiap ujung pembicaraan yang begitu serius dirinya selalu disebut sakit oleh Nita? Kenapa ketika berpikir dan kerkata-kata apa adanya sesuai dengan yang ada di lubuk hati, dirinya selalu disebut sakit? Kalau misalnya semua orang punya cara berpikir, berkata-kata dan bertingkah laku seperti dirinya, akankah semua orang itu juga disebut sakit? Apakah sakit itu sesungguhnya? Apakah dirinya itu jangan-jangan sebuah penyakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat dokter praktek Godam tertawa. Ternyata itu hari Minggu dan dokternya tutup. Jadi, hari minggu dilarang sakit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Suatu hari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0); font-style: italic;"&gt;* Judul terinspirasi dari cerpen “Dilarang Membunuh Di Hari Sabtu” karya Satmoko Budi Santoso.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4123702275281233969?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4123702275281233969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/09/hari-minggu-dilarang-sakit.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4123702275281233969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4123702275281233969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/09/hari-minggu-dilarang-sakit.html' title='Hari Minggu Dilarang Sakit*'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4512140068382311615</id><published>2009-08-28T12:51:00.002+07:00</published><updated>2009-08-28T12:58:21.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Gotong-Royong, Pertahanan Tradisi Setengah Hati?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;Gotong-royong secara sederhana adalah berarti kerjasama. Begitu banyak sisi kehidupan yang berlandaskan gotong-royong. Bahkan sebuah bangsa yang akhirnya terbentuk, adalah hasil dari sebuah gotong-royong skala besar dalam aspek nan kompleks. Dalam sebuah negara, sebuah bangsa bersatu-padu bahu-membahu menyumbangkan jiwa dan raganya, pemikiran dan karyanya bahkan impiannya, menjadi sebuah tujuan bersama yang secara garis besar antara lain; mempertahankan kedaulatan wilayah, meningkatkan kesejahteraan bersama serta membentuk identitas kolektif. Gotong-royong dalam konsep sebuah negara-bangsa berujung pada menanggung semua resiko yang terjadi secara kolektif dan adil. Pendek kata, gotong-royong dalam konsep negara-bangsa adalah sebuah kebersamaan di dalam kesejahteraan maupun di dalam penderitaan secara berkeadilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FILOSOFI&lt;/span&gt; dan semangat gotong-royong inilah yang sejak dulu diusung rakyat Indonesia dalam berbangsa. Bahwa gotong-royong pada akhirnya adalah perilaku dan budaya hidup tradisional yang sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia. Keluhuran nilai-nilai gotong-royonglah yang telah mampu menyelamatkan negara-bangsa ini dari berbagai masalah, mulai dari melepaskan diri atas penjajahan sampai pada menemukan jalan keluar dari berbagai krisis di jaman modern. Negara-bangsa yang kini terwariskan kepada kita semua di Indonesia saat ini, adalah hasil dari sebuah gotong-royong tak henti-henti dari para pendiri bangsa dan seluruh lapisan warga bangsa sampai di akhir hayat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pergeseran Perilaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, ketika negara-bangsa Indonesia telah maju seperti sekarang ini, perilaku, filosofi serta semangat gotong-royong justru dibiarkan memudar. Setidaknya, gotong-royong kini berubah menjadi sebuah pengertian yang sangat sempit, hanya sampai pada kulit tetapi tidak berisi apa-apa. Dalam praktek keseharian, bangsa ini sekarang jelas-jelas hanyalah merupakan sebuah kumpulan dari warga yang sangat individualistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, kini semua seolah bisa diselesaikan dengan uang. Jadi yang terpenting sekarang adalah bagaimana tiap-tiap orang bisa mengumpulkan materi semampu-mampunya, lalu setiap persoalan diatasi dan diselesaikan dengan transaksi dan negosiasi yang berujung pada uang. Pembangunan berbagai sarana publik, pembangunan berbagai tempat ibadah, pemeliharaan lingkungan, semua diselesaikan dengan tawar-tawaran ongkos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini betapa sulitnya mengumpulkan warga masyarakat untuk bekerja bakti membersihkan got misalnya. Setiap orang punya alasan tidak punya waktu karena mereka harus bekerja. Mereka jauh lebih merasa bahagia membayar iyuran untuk membeli alat pemotong rumput dan mengupah seseorang untuk membersihkan got daripada turun bersama-sama mengerjakan hal tersebut secara bergotong-royong. Semangat komunal yang melandasi prinsip dan perilaku gotong-royong terkalahkan oleh ideologi baru bahwa “waktu adalah uang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran perilaku ini pun mendapat legitimasi dari berbagai lembaga kemasyarakatan yang ada maupun dari pemerintah sebagai pasilitator serta pengelola bangsa dengan segala aspek sosialnya. Dalam bidang keagamaan misalnya, lembaga agama yang ada di masyarakat selalu mengambil jalan pintas di dalam setiap usaha yang membutuhkan mobilisasi umat. Pembangunan pura, masjid serta rumah ibadah lainnya kini seratus persen menggunakan jasa para pemborong dan buruh. Sementara umat sebagai pemilik rumah ibadah tinggal menerima beres. Mereka mengabaikan prores bagaimana tempat tersebut diwujudkan. Proses, cukup dibeli dengan sejumlah iyuran dalam bentuk mata uang. Demikian juga dengan bangunan-bangunan fisik sarana publik lainnya. Bale banjar, bale tempek, pos kamling, semua diadakan dengan sejumlah iyuran tanpa disertai sentuhan keringat bersama secara fisik maupun emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, dengan alasan demi mempercepat pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah dengan sengaja atau pun seolah-olah tidak sengaja, semakin sering mengenyampingkan aspek gotong-royong di tengah kehidupan masyarakat. Salah satu contoh paling kasat mata adalah berbagai program dengan pola padat karya yang digelontorkan pemerintah. Dari sisi finansial, program ini memang membantu sesaat yaitu memberikan penghasilan kepada masyarakat terutama pada masa-masa krisis ekonomi. Namun efek psikologis yang ditimbulkan kemudian adalah masyarakat menjadi keenakan dan ketagihan mendapatkan upah dari “bergotong-royong”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai program subsidi yang tidak diikuti dengan sosialisasi, pemahaman serta pendampingan yang baik dari pemerintah, juga sangat berpotensi memudarkan semangat gotong-royong dan cenderung membunuh partisipasi kolektif masyarakat atas berbagai persoalan yang ada. Kekeliruan atas filosofi subsidi biaya pendidikan di sekolah misalnya, dalam beberapa kasus terlihat jelas telah mengurangi pengertian masyarakat akan esensi dunia pendidikan. Proses pendidikan berikut aspek pendukungnya yang sejatinya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, beralih menjadi seolah-olah sepenuhnya tugas pemerintah. Gara-gara biaya pendidikan yang disubsidi pemerintah, masyarakat menjadi acuh tak acuh bila sebuah sekolah tidak mampu membangun perpustakaan misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setengah hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang, secara teori pemerintah di negeri tercinta ini masih selalu berusaha mengobar-ngobarkan semangat gotong-royong. Elit-elit masyarakat di pedesaan pun masih selalu mengusung gotong-royong sebagai “kecap” pembangunan. Tetapi dalam faktanya, gotong-royong saat ini tak lebih dari sebuah kamuflase untuk mengumpan sumbangan demi sumbangan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun donatur di luar pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja semangat dan esensi gotong-royong sungguh-sungguh masih ada, tentulah tidak mungkin terjadi kasus busung lapar di sebuah komunitas masyarakat yang sudah begini majunya. Tentulah tidak sampai terjadi wabah demam berdarah gara-gara lingkungan yang kotor. Tentulah tidak terjadi gedung sekolah roboh karena terlambat renovasi. Tentulah tidak terjadi kasus anak-anak, janda, jompo dan penyandang cacat terlantar. Tentulah tidak terjadi ketimpangan ekonomi yang akut di dalam sebuah negara, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, suka atau tidak, diakui atau diingkari, gotong-royong memang sudah punah di negeri ini. Kalau pun ada, itu tak lebih dari sebuah kamupfase dan upaya kolektif setengah hati. Sayang memang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dusun senja suatu hari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4512140068382311615?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4512140068382311615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/08/gotong-royong-pertahanan-tradisi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4512140068382311615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4512140068382311615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/08/gotong-royong-pertahanan-tradisi.html' title='Gotong-Royong, Pertahanan Tradisi Setengah Hati?'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4048354217130314534</id><published>2009-07-30T13:44:00.001+07:00</published><updated>2009-07-30T13:47:59.877+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Herlina</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Sebuah kenangan: 2003&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Herlina namanya. Manis, dengan kulit yang tak terlalu putih, tetapi tidak hitam. Suatu siang, dia datang ke markas Komunitas Kertas Budaya di bilangan Jalan Sudirman. Tidak sendiri, tetapi dengan seorang sahabat kentalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedatangan seseorang, dua atau tiga orang ke markas para seniman muda Jembrana tersebut, tentulah bukan hal aneh apalagi luar biasa. Rumah kost yang kemudian dijadikan semacam sebun (sarang) oleh anak-anak muda yang senantiasa gelisah dalam dunia kreatif bernama kesenian itu, memang setiap hari selalu menjadi tempat transit banyak orang. Mulai dari wartawan, guru, siswa, PNS, pelukis, penyair, penari, tukang gitar jalanan hingga tukang ojek. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang luar biasa. Tetapi di sana mereka melakukan sesuatu yang sederhana saja. Ada beberapa majalah, beberapa surat kabar terbitan lokal dan nasional, ada lukisan, sebuah komputer, gitar dan sebuah rak yang dipenuhi buku-buku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tetapi, siang itu, kedatangan gadis remaja bernama Herlina itu mendadak menjadi lain. Dia seolah menjadi warna yang memberi sentuhan indah, setidaknya dari hari-hari biasanya. Dia memberi gairah hidup kepada beberapa orang yang sebelumnya sudah nongkrong terlebih dulu di sana. Sebutlah Sotang misalnya, pemuda yang sehari-harinya berjualan martabak di perempatan Tegalasih itu mendadak jadi tertarik pada komputer. Padahal sebelumnya, komputer baginya tak lebih dari virus menyebab sakit kepala. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikian juga dengan Boyke. Musisi muda jalanan yang kini menjadi seorang menejer di Denpasar itu, tiba-tiba seperti mendapat inspirasi baru untuk gubahan musikalisasi puisinya. Padahal sebelumnya, dia mengaku sudah kehabisan nada untuk sebaris syair pun. Lalu Gung Dek, pemuda yang sejak dulu menyimpan obsesi mendirikan kelompok musik akustik di Jembrana itu, mendadak jadi tampak bergairah lagi. Padahal sebelumnya, dia sudah merasa putus asa menyikapi kecenderungan anak-anak muda sekarang yang menurutnya lebih suka mengaku-ngaku main musik tetapi sebenarnya mereka hanya berteriak-teriak saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sudut lain, ada Agus. Ayah tiga putra-putri yang selalu didaulat menjadi bos itu pun mendadak terharu. Bukan karena apa, tetapi ia sekonyong-konyong merasa masih melihat harapan bahwa ada juga remaja sekarang yang mau untuk tidak terkenal. Padahal sebelumnya, Agus sudah sangat pesimis akan ada gadis remaja yang mau diajak menggarap “musik aneh” bernama musikalisasi puisi. “Ini tidak akan membuat kalian terkenal. Kalau mau terkenal, cobalah kalian melamar jadi penyanyi dangdut atau pemain sinetron saja,” demikian Agus selalu mengingatkan para remaja yang coba-coba ingin bergabung. Celakanya, peringatan Agus itu pun ternyata cukup manjur. Terbukti, keesokan harinya anak-anak remaja yang semula antusias itu mendadak mengundurkan diri satu-persatu. “Kami memang butuh popularitas. Sorry aja ya...,” demikian para remaja bunga itu berujar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang paling seru tentu saja Mas John. Bapak dua anak yang sehari-hari lebih dikenal sebagai tukang taman daripada pemain musik ini, sekonyong-konyong berubah penampilan. Tiap hari keren melulu. Rambut panjangnya yang biasa terikat, kini dibiarkan tergerai. Alat-alat semacam gitar, bas atau biola yang suaranya sember yang biasanya selalu mendapat perhatiannya, kini dibiarkan saja. “Sudah indah kok suaranya,” demikian Mas John dengan kalem.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suasana! Itulah yang pertama mendapat imbas dari kehadiran seorang Herlina. Suasana yang semula kumuh, mendadak jadi bungah. Harapan yang semula loyo, mendadak jadi gairah. Sementara itu, Herlina, gadis remaja sederhana yang suka memakai baju warna merah itu tenang-tenang saja duduk di sudut. Dia tak menyadari kehadirannya menjadi “sesuatu”. Disuruh bawa gitar, dia mau saja. Disuruh nyapu lantai, dia juga mau. Disuruh menyalin syair lagu, dia juga tak menolak. Hanya ketika disuruh menyanyi keras-keras dia masih malu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara itu, di balik etalase-etalase mall, taman kota, time zone, kafe-kafe, diskotik, seribu satu macam kursus, di balik keping-keping VCD, di balik bilik-bilik rumah karaoke, beribu-ribu Herlina remaja juga hadir dan tampil dengan aroma bunga. Tetapi yang ini aromanya memabukkan. Dan di sana, Herlina-Herlina remaja tidak saja kehilangan waktu, tetapi dia juga kehilangan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);font-size:85%;" &gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4048354217130314534?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4048354217130314534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/07/herlina.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4048354217130314534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4048354217130314534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/07/herlina.html' title='Herlina'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8991770105010003749</id><published>2009-07-27T15:39:00.001+07:00</published><updated>2009-07-27T15:42:50.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Bayu</title><content type='html'>Seraya bolos sekolah (diusir guru karena telat 15 menit masuk kelas), pagi tadi Bayu, anakku terganteng, tersayang, terbandel, terjarang di rumah, termalas belajar, ter... ter... ter...., membawa gitar listrik merahku.&lt;br /&gt;"Mau dibawa ke mana?" Aku bertanya.&lt;br /&gt;"Bikin lagu sama Tuhan," jawabnya.&lt;br /&gt;"Lagu apa?"&lt;br /&gt;"Entahlah. Belum rembugan sama Dia."&lt;br /&gt;"Hati-hati!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8991770105010003749?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8991770105010003749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/07/bayu.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8991770105010003749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8991770105010003749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/07/bayu.html' title='Bayu'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-239454793704381142</id><published>2009-07-09T12:05:00.001+07:00</published><updated>2009-07-09T12:08:31.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>puisi untuk umbu landu paranggi</title><content type='html'>aku pernah mengira engkau puisi&lt;br /&gt;tapi kitalah puisi&lt;br /&gt;kata yang terdiam sebelum tuntas&lt;br /&gt;dikesiapkan dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di amplop telah kutulis surat&lt;br /&gt;tapi tak ada pegawai pos yang tahu&lt;br /&gt;alamatmu&lt;br /&gt;seperti juga satpam yang mengangkat teleponku&lt;br /&gt;setiap sabtu malam, selalu menggeleng&lt;br /&gt;: dia telah terkunci di bilik rahasia&lt;br /&gt;setiap tanda tanya! - ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di amplop yang kubakar kemudian&lt;br /&gt;seratus penyair tua bersikukuh mengeja namamu&lt;br /&gt;seribu penyair muda mengaku kehilangan kata&lt;br /&gt;seorang satpam terjebak di sebotol bir&lt;br /&gt;semua menyebutmu puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kitalah puisi&lt;br /&gt;kata yang terdiam sebelum&lt;br /&gt;amplop tak beralamat itu kubakar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-239454793704381142?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/239454793704381142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/07/puisi-untuk-umbu-landu-paranggi.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/239454793704381142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/239454793704381142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/07/puisi-untuk-umbu-landu-paranggi.html' title='puisi untuk umbu landu paranggi'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4343486995082887900</id><published>2009-06-24T12:23:00.000+07:00</published><updated>2009-06-24T12:27:14.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Sesungguhnya Kita Hanya Butuh Presiden yang Tahu Diri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlepas dari wacana carut-marutnya berbagai persoalan terkait pemilihan umum 2009, baik pemilu legislatif yang sudah berlalu maupun pilpres yang sebentar lagi akan diselenggarakan, yang jelas rakyat Republik Indonesia sesungguhnya sedang menjalani ujian sekali lagi. Setelah ujian berbagai bencana alam dan kemanusiaan, ujian bencana ekonomi hingga teror, kini yang tak kalah berbahayanya adalah apabila akhirnya rakyat Indonesia kehilangan sama sekali kepercayaannya kepada perilaku politik para elit yang sesungguhnya menjadi harapan mereka dapat memulihkan Indonesia untuk menjadi Indonesia kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku kecurangan politik yang terjadi dalam proses pemilu legislatif kemarin, sejauh ini memang sudah tertoleransi dengan damai. Tetapi di sebaliknya, betapapun juga perilaku yang tercermin dari mereka yang dipercaya rakyat dan negara dalam mengurus pemilihan wakil rakyat kemarin itu, boleh dikatakan kurang bertanggungjawab. Bagaimana tidak, kesalahan daftar pemilih tetap (DPT) yang kacau-balau kemarin itu, ternyata hari ini pun tidak sepenuhnya dapat diperbaiki. Beberapa hari lalu di sebuah koran nasional, di Jawa Timur kembali ditemukan dua juta DPT palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh semuanya terjadi. Dengan sedikit kuping tebal, KPU sebagai lembaga yang bertanggungjawab atas proses pelaksanaan pemilu itu, tetap jalan saja sekehendak hatinya. Apa yang mereka kejar? Hanya target bahwa ketetapan waktu untuk pemilu selesai sesuai jadwal yang ditentukan. Apa kata rakyat, atau apa yang diminta rakyat, itu tidak cukup penting bagi demokrasi yang sedang kita bangun ini. Lagi pula toh tidak semua rakyat merasa dirugikan oleh skandal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, para pasangan calon presiden dan wakil presiden yang berkompetisi dalam pilpres nanti, toh juga sudah melenggang berkampanye. Seolah tak pernah ada masalah dalam proses pemilu ini, para pasangan capres dan wapres diusung sana-sini oleh gerombolan tim suksesnya masing-masing. Semua pasangan kemudian saling klaim dengan keberhasilan yang ada, sembari saling lempar dan cemooh soal kesalahan dan kekurangan yang menimpa Republik. Rakyat cuma menonton lewat televisi sembari senyam-senyum getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekali lagi, rakyat Republik Indonesia memang sedang diuji. Beratnya, ujian yang terkhir ini tidak bisa dilalui hanya dengan perjuangan phisik, tetapi lebih membutuhkan kesiapan mental. Sebuah kesiapan mental untuk nantinya siap-siap saja melihat kenyataan, apakah pemimpin terpilih benar-benar seorang yang patut dianggap pemimpin, atau ternyata hanya sebuah boneka dari sebuah kepentingan politik kekuasaan. Ya, memang ujian berat, walau sesungguhnya yang diperlukan rakyat itu hanyalah seorang pemimpin yang tahu diri saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4343486995082887900?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4343486995082887900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/06/sesungguhnya-kita-hanya-butuh-presiden.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4343486995082887900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4343486995082887900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/06/sesungguhnya-kita-hanya-butuh-presiden.html' title='Sesungguhnya Kita Hanya Butuh Presiden yang Tahu Diri'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5621745465294827760</id><published>2009-06-22T09:58:00.002+07:00</published><updated>2009-06-22T10:12:06.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>FRAGMEN SEBUAH HALTE</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KETIKA&lt;/span&gt; itu senja baru turun dan berlaku seperti biasa. Dan halte itu masih seperti kemarin; kesepian di luar kota, cat pada tiang-tiangnya menua dan kusam, dan di bawah bentangan besi panjang tempat duduknya, berbagai jenis sampah bekas terinjak bersatu membentuk koloni bisu-tuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Telah dua jam mereka di sana. Bertemu tak sengaja, datang dari arah yang berbeda, lalu masing-masing menempati bagian paling ujung halte itu. Dan setelah dua jam itulah, kebisuan itu pecah.&lt;br /&gt; +  Kamu siapa?&lt;br /&gt; -  (Menoleh sejenak, lalu menyebut nama).&lt;br /&gt; +  Rumah kamu?&lt;br /&gt; -  Jauh.&lt;br /&gt; +  Sekarang kamu mau ke mana?&lt;br /&gt; -  Kamu?&lt;br /&gt; Keduanya saling menertawakan sesuatu. Sebut sajalah: entah.&lt;br /&gt; -  Kamu siapa?&lt;br /&gt; +  Saya tidak akan sejujur kamu.&lt;br /&gt; -  Ndak apa-apa.&lt;br /&gt; +  Kenapa?&lt;br /&gt; -  Saya maklum, kamu laki-laki.&lt;br /&gt; +  Kenapa?&lt;br /&gt; -  Biasanya begitu.&lt;br /&gt; +  Berapa umur kamu?&lt;br /&gt; -  Ng...&lt;br /&gt; +  O, kamu sedang akan tidak jujur juga?&lt;br /&gt; -  (Diam)&lt;br /&gt; +  Kok diam?&lt;br /&gt; -  Ndak tahu.&lt;br /&gt; +  Lho?! Umur sendiri ndak tahu?&lt;br /&gt; -  Ya, ndak tahu. Orang tua ndak mencatat.&lt;br /&gt; +  Kira-kira sajalah.&lt;br /&gt; -  Kamu mendesak saya.&lt;br /&gt; +  Sedikit.&lt;br /&gt; -  Ng..., enam belas, eh, tujuh. Tujuh belas.&lt;br /&gt; +  Betul?&lt;br /&gt; -  Ndak tahu, ah.&lt;br /&gt; +  (Diam beberapa saat, memandang ke kejauhan lalu bersiul-siul tak jelas).&lt;br /&gt; -  (Tak acuh, memainkan helai demi helai rambutnya sendiri).&lt;br /&gt; +  Kamu masih sekolah?&lt;br /&gt; ¬-  Ndak sekolah. Hanya tamat es-de.&lt;br /&gt; +  Kok ndak sekolah lagi?&lt;br /&gt; -  Ndak ada biaya.&lt;br /&gt; +  Ah, masa?&lt;br /&gt; -  Ya. Enakan jualan kopi. Langsung dapat uang.&lt;br /&gt; +  O, jadi kamu ini dagang kopi?&lt;br /&gt; -  Ndak.&lt;br /&gt; +  Lalu?&lt;br /&gt; -  Kayaknya daripada sekolah, enakan jualan kopi.&lt;br /&gt; +  Ha ha ha! Ya, enakan jualan kopi. Langsung dapat uang.&lt;br /&gt; Sebuah bus berhenti dengan rem berdecit. Itu bus yang kesekian. Dan kernet yang kesekian turun. Mulutnya tersenyum. Merayu. Menarik-narik tangan. Tapi keduanya bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bus berangkat dengan supir dan kernet yang kecewa. Mereka menggerutu. Tentang banyak hal: be-be-em, beras, minyak goreng, garam, lombok, ikan asin, es-pe-pe, listrik, air, baju anak-anak, odol, sikat gigi, sandal jepit, flu, pilek, demam, sakit kepala....&lt;br /&gt; +  Betul itu nama kamu?&lt;br /&gt; -  Ya.&lt;br /&gt; +  Sumpah?&lt;br /&gt; -  Sungguh.&lt;br /&gt; +  Rumah kamu?&lt;br /&gt; -  Jauh.&lt;br /&gt; +  Pekerjaan kamu?&lt;br /&gt; -  Cari uang.&lt;br /&gt; +  Ya ya, saya tahu. Tapi maksud saya...&lt;br /&gt; -  Cari uang.&lt;br /&gt; +  Baiklah. Lalu uang kamu itu untuk apa?&lt;br /&gt; -  Banyak.&lt;br /&gt; +  Misalnya?&lt;br /&gt; -  Kamu bodoh.&lt;br /&gt; +  Busyet!&lt;br /&gt; -  Siapa yang busyet?&lt;br /&gt; +  Kita.&lt;br /&gt; -  Kamu saja.&lt;br /&gt; +  Kamu juga.&lt;br /&gt; -  Enak saja!&lt;br /&gt; +  Memang enak. Soalnya saya cowok, kamu cewek.&lt;br /&gt; -  Hh...!&lt;br /&gt; +  Apa yang hh?&lt;br /&gt; -  Kamu jorok.&lt;br /&gt; +  Bisa ngasi contoh sesuatu yang ndak jorok?&lt;br /&gt; -  Ndak bisa. Soalnya saya ndak sekolah.&lt;br /&gt; +  Kamu pintar ngomong.&lt;br /&gt; -  Soalnya saya ndak sekolah.&lt;br /&gt; +  Saya jadi ndak yakin.&lt;br /&gt; -  Soalnya kamu laki-laki.&lt;br /&gt; +  Busyet!&lt;br /&gt; -  Nah, busyet lagi, kan?&lt;br /&gt;Sebuah mikrolet berhenti. Mikrolet yang kesekian. Muatannya penuh sesak. Orang-orang dijejalkan bagai pindang dalam kaleng. Kernet yang kesekian turun. Mulutnya tersenyum. Merayu. Menarik-narik tangan. Tapi keduanya bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari jauh lampu sebuah mobil patroli berkilat-kilat. Bagai setan, kernet berlari dan menggelantung di pintu mikrolet. Supir menggenjot gas bagai menggenjot sisa-sisa hari terakhirnya. Mikrolet melesat. Penumpangnya tak peduli.&lt;br /&gt; +  Kamu ndak takut?&lt;br /&gt; -  Takut apa?&lt;br /&gt; +  Sama saya misalnya?&lt;br /&gt; -  Kenapa?&lt;br /&gt; +  Siapa tahu saya ini bajingan.&lt;br /&gt; -  Bagaimana kalau saya juga bajingan?&lt;br /&gt; +  Ah, kamu kan cewek?&lt;br /&gt; -  Biar cewek, kalau bajingan ya bajingan.&lt;br /&gt; +  Ha ha ha!&lt;br /&gt; -  Kok ketawa?&lt;br /&gt; +  Kamu pintar. Dan cantik.&lt;br /&gt; -  Terus?&lt;br /&gt; +  Saya senang sama kamu.&lt;br /&gt; -  Masa?&lt;br /&gt; +  Ya.&lt;br /&gt; -  Sumpah?&lt;br /&gt; +  Sungguh.&lt;br /&gt; -  Terima kasih.&lt;br /&gt; +  Sama-sama.&lt;br /&gt; Sebuah truk lewat. Hitam warnanya. Muatannya menggembung tertutup terpal hitam. Asap knalpotnya hitam. Sehitam wajah supir dan kernetnya. Di belakangnya, para sedan mulus melenggang anggun. Di belakangnya lagi, para bus dan para mikrolet bersitegang. Lalu jalan itu kembali lengang.&lt;br /&gt; +  (Batuk-batuk kecil).&lt;br /&gt;  Betul itu nama kamu?&lt;br /&gt; -  Ya?&lt;br /&gt; +  Punya pacar?&lt;br /&gt; -  (Diam. Matanya menyipit)&lt;br /&gt; +  Kok diam?&lt;br /&gt; -  Sudah malam. Jangan bertanya soal itu.&lt;br /&gt; +  Kamu punya pacar?&lt;br /&gt; -  Mmm..., punya anak saja, bagaimana?&lt;br /&gt; +  Eh, kamu punya anak?&lt;br /&gt; -  Ya.&lt;br /&gt; +  Oh, kamu sudah menikah?&lt;br /&gt; -  Ndak pernah.&lt;br /&gt; +  Aduh, saya bingung.&lt;br /&gt; -  Saya juga.&lt;br /&gt; +  Kamu punya anak?&lt;br /&gt; -  Ya.&lt;br /&gt; +  Terus, siapa ayah anak itu? Suami kamu, bukan?&lt;br /&gt; -  Ndak ada.&lt;br /&gt; +  Astaga, suami kamu sudah tidak ada?&lt;br /&gt; -  Memang tidak ada.&lt;br /&gt; +  Terus, siapa ayah anak itu? Suami kamu, bukan?&lt;br /&gt; -  Ndak ada.&lt;br /&gt; +  Maksud saya, yang dulu bikin anak itu ada di perut kamu, siapa?&lt;br /&gt; -  Saya.&lt;br /&gt; +  Ya, saya tahu. Tapi kamu kan harus mengerjakannya sama orang lain. Sama cowok. Sama laki-laki.&lt;br /&gt; -  Banyak.&lt;br /&gt; +  Astaga!&lt;br /&gt; -  Ya. Saya cari uang.&lt;br /&gt; +  Lantas, di mana anak kamu itu sekarang?&lt;br /&gt; -  Mati. Saya...&lt;br /&gt; +  Ya Tuhan!&lt;br /&gt; Diam. Keduanya diam. Lamaaaaaaaaaaaa sekali. Dan jalan itu, halte itu juga tetap sepi. Kalau saja di antara mereka ada yang membawa jam, tentu mereka akan kaget bahwa saat itu malam telah melewati angka dua belas. Dan keduanya tiba-tiba menarik nafas panjang.&lt;br /&gt; +  Kamu kenapa?&lt;br /&gt; -  Ngantuk. Dan, dingin.&lt;br /&gt; +  Saya juga.&lt;br /&gt; -  Saya ingin nangis.&lt;br /&gt; +  Menangislah.&lt;br /&gt; -  Ndak apa-apa, kan?&lt;br /&gt; +  Ndak apa-apa.&lt;br /&gt; Di halte itu lalu ada yang menangis. Mula-mula terisak pelan, lalu sesenggukan, lalu terisak lagi, lalu berhenti.&lt;br /&gt; +  Kok berhenti?&lt;br /&gt; -  Sekarang saya sudah lega.&lt;br /&gt; +  Kenapa?&lt;br /&gt; -  Bahwa saya masih bisa menangis.&lt;br /&gt; +  Kamu pulang saja, ya?&lt;br /&gt; -  Ke mana?&lt;br /&gt; +  Ke rumah kamu.&lt;br /&gt; - Maksudmu?&lt;br /&gt; + Ke rumah orang tua kamu.&lt;br /&gt; -  Di mana?&lt;br /&gt; +  Astaga!&lt;br /&gt; -  Maksud kamu?&lt;br /&gt; +  Sudahlah. Sekarang kamu mau ikut saya saja?&lt;br /&gt; -  Ke mana?&lt;br /&gt; +  Ndak tahu.&lt;br /&gt; Keduanya saling pandang. Takjub pada sesuatu. Sebut saja: entah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Terinspirasi dari ingatan sebuah cerita pendek entah karya siapa yang pernah saya baca belasan tahun lalu entah di mana&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5621745465294827760?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5621745465294827760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/06/fragmen-sebuah-halte.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5621745465294827760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5621745465294827760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/06/fragmen-sebuah-halte.html' title='FRAGMEN SEBUAH HALTE'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-3465028883516072523</id><published>2009-05-07T13:38:00.000+07:00</published><updated>2009-05-07T13:40:05.367+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Mobil-mobilan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sewaktu kecil, setiap pulang sekolah, saya hampir selalu kena marah oleh ibu. Bukan persoalan apa, hanya karena baju seragam saya selalu belepotan getah pohon jarak. Bayangkan saja, saat itu saya hanya punya sepasang pakaian seragam untuk satu tahun. Biasanya, seragam saya hanya diganti dengan yang baru bila sudah naik kelas. Itu lebih karena badan saya sudah sedikit membesar sehingga seragam yang setahun penuh menemani saya itu tak cukup lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang getah jarak itu, demikianlah ceritanya. Saban pulang sekolah saya dan teman-teman sengaja menyusuri pagar-pagar kebun tetangga mencari buah jarak. Setiap ketemu pohon jarak berbuah, kami berebut memanjatnya. Pohon yang tingginya tak lebih dari dua meter itu sampai melengkung-lengkung menahan beban berat badan kami yang berusaha menggapai buahnya. Kami melakukan penyusuran pagar itu tidak bisa dibilang sebentar. Karena, paling tidak, kami masing-masing harus berhasil mendapatkan empat biji buah jarak yang besarnya sama. Karena kalau tidak sama, nanti mobil-mobilan kami yang dibuat dari kulit jeruk atau pelepah daun pisang sawo kurang bagus larinya. Kami tak mau mobil-mobilan kami timpang karena buah jarak yang dijadikan rodanya besar sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil, ah, betapa absurdnya. Betapa akhirnya kini saya menyadari bahwa sesungguhnya perkara bermain mobil-mobilan itu bukanlah dominasi anak-anak yang lahir di jaman milenium ini saja. Bukan dominasi anak-anak perkotaan saja. Mainan mobil-mobilan, ternyata telah cukup lama menjadi bahasa dan personifikasi angan-angan di dunia kanak-kanak. Dunia kanak-kanak kami dulu, dunia kanak-kanak anak kami sekarang. Di jaman yang sudah sedemikian jauh melesat maju dibandingkan jaman kanak-kanak kami dulu, mainan yang bernama mobil-mobilan ternyata tetap menempati peringkat tertinggi untuk meraih minat anak-anak. Keberadaan mainan mobil-mobilan tetap abadi, pun mesti juga beringsut berubah bentuk, model dan aksesoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak sedikit kini orang tua mengeluh. Habis, harga mainan yang bernama mobil-mobilan itu ternyata juga beringsut melambung. Semakin digemari dia, semakin melambung harganya. Semakin cantik bentuknya, semakin kenes juga harganya. Banyak para orang tua yang mengaku harga mobil-mobilan anak-anaknya telah menghabiskan sepertiga gaji mereka sebagai pegawai kecil, buruh kecil atau pedagang kecil. Banyak orang tua yang mengeluh bahwa hanya karena belum bisa membelikan mobil-mobilan, si anak ngambek bahkan mogok belajar dan mogok makan. Banyak orang tua mengeluh, sekarang enggan mengajak anak-anaknya jalan-jalan karena takut si anak tergoda oleh pajangan berbagai jenis mainan mobil-mobilan di pinggir sepanjang jalan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka banyak orang tua yang tiba-tiba merasa perlu marah. “Anak-anak kita sekarang sangat tidak kreatif. Apa-apa maunya beli. Mainan mobil-mobilan harus yang harganya mahal dan pakai remote control. Kenapa mereka tidak seperti kita dulu, yang bisa mengolah kulit jeruk, buah jarak, sabut kelapa, pelepah pisang, pelepah kelapa atau gelontongan kayu menjadi sebuah mobil-mobilan cantik? Kenapa mereka sekarang kehilangan daya kreatif untuk mengolah apa yang ada di sekitarnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diamput! Ketika mengomel, ketika marah, barangkali mereka – para orang tua itu – lupa bahwa yang ada di sekitar anak-anak mereka saat ini toh memang hanya plastik, kaleng-kaleng aluminium, besi-besi, karet, batre dan juga remote control. Anak-anak kini hampir tak mungkin lagi bisa menemukan buah pohon jarak untuk roda mobil-mobilannya. Dan, ke mana pohon jarak? Siapa yang telah menghilangkannya? Sekali lagi, jangan salahkan anak-anak. Karena mereka sama sekali tak pernah memusnahkan pohon jarak di sekitar rumahnya. Bahkan mengenalnya saja mereka tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-3465028883516072523?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/3465028883516072523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/05/mobil-mobilan.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/3465028883516072523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/3465028883516072523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/05/mobil-mobilan.html' title='Mobil-mobilan'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-578971563285884127</id><published>2009-04-29T23:39:00.003+07:00</published><updated>2009-04-29T23:47:43.679+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Tadi Siang Dia Menikah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SfiD7Wp2nyI/AAAAAAAAAsw/wEs1cNvnlNg/s1600-h/Diapit+Pengantin.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 343px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SfiD7Wp2nyI/AAAAAAAAAsw/wEs1cNvnlNg/s400/Diapit+Pengantin.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330155214709628706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, tadi siang dia telah menikah. Sekretaris saya, Ayu Devie Hardyawati, perempuan belia yang selama hampir tiga tahun ini menemani saya, meladeni kesibukan saya, mendengarkan keluhan-keluhan saya jika sedang uring-uringan dengan ide-ide yang bagi kebanyakan teman kurang masuk akal, menjemput anak perempuan saya sepulang sekolah di siang terik, menyeduhkan kopi saya di kantor, mencuci perabotan bila teman-teman saya ngumpul dan makan di rumah, mengumpulkan arsip-arsip saya yang tak berapa lama kemudian saya acak-acak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia perempuan di luar keluarga saya yang paling banyak terlibat urusan saya setidaknya hampir tiga tahun ini. Dia yang pertama menggendong anak saya Elang saat baru lahir, sementara istri saya masih berada di ruang operasi. Dia, perempuan belia yang begitu banyak ikut sibuk bila saya dan istri sedang ada hajatan di rumah. Dia yang selalu pertama-tama mencari dan menanyakan keadaan ibu saya bila dia datang ke rumah. Dia yang pernah mau pagi-pagi buta berangkat mengambil mobil di tempat penyewaan saat saya dan kawan-kawan akan melakukan konser di luar kota. Dia perempuan yang paling sibuk membantu istri saya menyiapkan segala sesuatu di saat-saat saya dan kawan-kawan menyelenggarakan kegiatan kesenian sampai beberapa hari, menyiapkan konsumsi, menerima dan meladeni tamu-tamu, sampai ikut menyapu dan mengepel lantai gedung tempat kami menyelenggarakan acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia juga sekretaris yang selalu tak percaya diri jika saya suruh membuat konsep surat. Maka dia akan selalu punya alasan untuk meminta saya membuatkan konsep surat-surat yang harus dikirim. Dia sekretaris saya yang justru lebih sedikit mengetikkan tulisan-tulisan saya ketimbang penerjemah Bahasa Inggris saya yang rela begadang bermalam-malam bersama laptopnya. Dan dia yang pertama kali menemukan anak sulung saya, Bayu, beberapa bulan lalu ketika minggat malam-malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dia telah menikah tadi siang, dengan pemuda yang menjadi pacarnya dan tentu saja dicintainya. Dan dia tidak berani mengatakan kepada saya bahwa akan menikah tadi siang. Saya justru diberi tahu seorang sahabat yang menerima pesan pendeknya. Dan ketika tadi siang saya dan kawan-kawan pergi ke rumahnya untuk ikut menyaksikan pernikahan itu, saya  melihatnya menangis dalam pelukan bapak-ibunya. Kemudian dia minta maaf kepada saya dan meminta saya tidak marah. Tentu sajalah saya tidak marah, karena saya tidak menemukan alasan untuk marah padanya. Hanya saja saat pulang dari rumahnya, saya jadi memikirkannya. Saya memikirkan dia, bertanya-tanya sendiri dalam hati: siapakah sesungguhnya dia selama ini bagi saya? Apakah dia sungguh hanya seorang sekretaris saya? Atau lebih dari itu misalnya secara tak saya sadari saya telah menganggapnya sebagai adik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu. Yang saya tahu pasti kemudian, bahwa dia adalah perempuan belia yang hari ini saya doakan semoga bahagia dan langgeng dalam bahtera rumah tangganya. Dan, saya menyayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-578971563285884127?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/578971563285884127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/tadi-siang-dia-menikah.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/578971563285884127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/578971563285884127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/tadi-siang-dia-menikah.html' title='Tadi Siang Dia Menikah'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SfiD7Wp2nyI/AAAAAAAAAsw/wEs1cNvnlNg/s72-c/Diapit+Pengantin.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-295441311608745982</id><published>2009-04-27T01:55:00.003+07:00</published><updated>2009-04-27T02:02:18.307+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Gaib yang Senantiasa Memesona</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LAUT&lt;/span&gt; bergelora menyerupai irama kota tumpah darahku. Kotaku yang senantiasa berjiwa muda. Penataan hidup yang senantiasa tak pernah rampung. Jalan-jalan digeser dan ditumpuk seenaknya. Gedung-gedung dibangun lalu dirobohkan kembali beberapa saat setelah menciptakan romantika plastik di bawahnya. Sahabat-sahabatku untuk sementara sempat menikmati pekerjaannya. Artinya, sahabat-sahabatku berkesempatan menjadi buruh, loper koran, tukang parkir, preman, pedagang kaki lima, wartawan atau pelacur. Maksudnya, mereka mendapat kesempatan menikmati hasil jerih payah sendiri. Habis, apa lagi yang paling berharga kecuali keringat sendiri? Berharap sedekah dari orang lain, sama saja artinya dengan mengutuk diri sendiri menjadi seekor ayam broiler, lahir dalam kehangatan, gemuk dan molek selama tiga puluh kali dua puluh empat jam, lalu pagi-pagi sekali telah menjadi penambah isi kakus atau penambah cemar air kali pinggir kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air kali pinggir kota juga bagian dari laut. Warnanya hitam dan berbuih coklat. Di sanalah anak-anak sahabatku mandi, gosok gigi dan keramas. Mereka sesungguhnya membutuhkan kolam renang, tapi tak sanggup membayar. Jadi, kolam renang tak perlu dibangun. Kotaku tak butuh kolam renang. Yang merasa perlu, silahkan datang ke supermarket. Belilah kolam renang di sana. Ditanggung tak akan ketularan panu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seorang tetanggaku mati bukan karena panu. Seorang Ahli yang paling baik di kotaku mengatakan, ia mati karena tubuhnya kekurangan zat hati nurani, sehingga sekujur tubuhnya kering kerontang bagai pelepah daun kelapa di musim kemarau yang sangaaaaaaaaaaat panjang. Sayang sekali, peristiwa itu luput dari liputan media massa. Padahal peristiwa itu menimbulkan perkabungan yang sangat dalam bagi penduduk di kotaku. Saat pemakamannya, tidak kurang dari seratus ribu orang menangis sampai kesurupan. Mereka meraung-raung sambil membanting-banting diri di sepanjang jalan. Dan walaupun tidak kurang dari dua ratus ribu pasukan keamanan diturunkan untuk mengantisipasi peristiwa tersebut, dampak yang ditimbulkan tetap juga lumayan. Sebuah jembatan hancur dan tidak bisa dipakai lagi. Ratusan toko-toko milik pribumi dan nonpribumi hangus terbakar. Puluhan bank swasta dan bank milik pemerintah yang menjadi kepercayaan masyarakat juga hancur dan uangnya dinyatakan lenyap entah kemana. Ratusan kendaraan mewah dan tidak mewah hangus atau ringsek. Terakhir, seorang bapak yang terpandang dan terhormat di kotaku putus jantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, sayang sekali peristiwa itu luput dari liputan media massa. Yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngeh&lt;/span&gt; justru sebuah perusahaan rekaman. Perusahaan itu mengerahkan seluruh kekuatan laskar industrinya untuk merekam peristiwa itu. Maka seminggu setelah kejadian, toko-toko kaset di kotaku dipenuhi lagu-lagu yang meraung-raung. Radio-radio SW, MW dan FM di kotaku menyiarkan lagu-lagu yang meraung-raung. Televisi-televisi VHF dan UHF di kotaku menayangkan lagu-lagu berikut video klip yang meraung-raung dan membanting-banting diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kotaku meraung-raung. Tiang-tiang listrik dan tiang-tiang telepon meraung-raung dan membanting-banting dirinya sepanjang jalan. Bus-bus, truk, bemo, taksi, oplet, sepeda motor dan sepeda gayung meraung-raung dan membanting-banting dirinya sepanjang jalan. Kotaku meraung-raung dan membanting-banting diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, misteri yang senantiasa tak terpecahkan. Gaib yang senantiasa memesona. Seperti laut. Dan kotaku menyerupai laut. Dan aku sebutir pasirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang sahabatku datang dan mengeluh.&lt;br /&gt;“Di sini gerah sekali.”&lt;br /&gt;“Ya,” jawabku.&lt;br /&gt;“Udara sumpek dan kotor.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Pohon harus ditanam lebih banyak lagi.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Pohon sangat penting bagi umur panjang manusia.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Pohon dan manusia sama-sama penting.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Untuk keseimbangan, binatang juga penting.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;“Jadi, di sini harus ditambah lagi populasi manusia, pohon dan binatang.”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ribuan bayi manusia, bayi pohon dan bayi binatang lahir lebih banyak lagi dalam setiap kesempatan. Kotaku menjelma jadi kebun manusia, kebun pohonan dan kebun binatang. Rambu-rambu lalu lintas jadi kacau balau. Rambu-rambu manusia dilanggar oleh para pohon dan para binatang. Rambu-rambu pohon dilanggar oleh para manusia dan para binatang. Rambu-rambu binatang dilanggar oleh para manusai dan para pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar mesti diselenggarakan. Keadaan sudah sangat mendesak bahkan darurat. Nyaris tak bisa lagi dibedakan mana manusia, pohon atau binatang. Tidak ada suatu ciri yang cukup jelas untuk memecahkan persoalan tersebut. Ketika seminar dilaksanakan, para manusia, para pohon dan para binatang berbaur dalam satu ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah dalam seminar hadir Seorang Ahli, temanku yang dulu mengusulkan agar kota dibuat menjadi tambah sejuk itu. Ia adalah Seorang Ahli yang tadi aku bilang paling baik di kotaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapapun, tetap ada perbedaan yang mendasar antara manusia, pohon dan binatang,” katanya lantang. “Jika secara lahir perbedaan itu sekarang sulit dilacak, kita masih bisa menyelidikinya dari dalam. Saudara-saudara peserta seminar saya mohon tidak tersinggung. Saya mohon kesediaannya, setiap orang secara sukarela maju untuk kami periksa ciri kemanusiaannya.”&lt;br /&gt;“Huuuuuuu...,” sambut peserta seminar sambil bertepuk tangan.&lt;br /&gt;“Sekali lagi saya tekankan, tetap ada perbedaan yang mendasar antara manusia, pohon dan binatang. Tegasnya, pada manusia kita akan menjumpai suatu unsur pokok yang bernama zat hati nurani. Pada pohon dan binatang tidak.”&lt;br /&gt;“Huuuuuuuu.......”&lt;br /&gt;“Nah, sekarang kita tak perlu khawatir dan bingung. Saya bersama tim khusus yang menangani kasus ini, telah menciptakan sebuah alat pendeteksi yang akan memeriksa saudara-saudara. Barang siapa nanti dalam pemeriksaan terbukti tidak memiliki zat hati nurani tersebut, berarti dialah yang bukan manusia. Maka bagi yang terbukti bukan manusia, saya mohon meninggalkan ruangan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu juga seluruh peserta seminar maju untuk memeriksakan dirinya. Setiap tubuh yang sudah tidak bisa dibedakan lagi mana manusia, pohon dan binatang itu dibaringkan di atas meja. Lalu tubuh-tubuh itu diikat, ditempel, dijepit, dan ditusuk dengan kabel-kabel. Kabel-kabel itu konon akan mentransfer gelombang kehidupan tubuh-tubuh mereka ke sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scaner &lt;/span&gt;yang lalu menransfernya pula ke sebuah layar bening yang besarnya sama dengan ruangan seminar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semuanya siap, Sang Ahli itu menekan tombol-tombol pengendali yang jumlahnya mungkin ribuan. Beberapa saat semua menunggu dengan tertib dan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aneh dan ajaib. Layar bening itu ternyata tak menunjukkan apa-apa. Layar bening itu hanya bening saja. Bergeming walau telah diutak-atik Sang Ahli. Suasana jadi mendadak gerah. Seluruh peserta seminar yang diperiksa itu mulai mengeluarkan suara geremeng-geremeng tak jelas. Tapi untunglah sekali lagi Sang Ahli cepat tanggap. Sebelum peserta seminar habis kesabarannya, dia berteriak lantang: “Ini kecelakaan! Saudara-saudara sekalian sama sekali tidak terlibat!” Lalu seminar ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, seluruh media massa di kotaku hadir dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline&lt;/span&gt; yang sama: TELAH HILANG: HATI NURANI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotaku kembali berkabung. Kotaku kembali meraung-raung dan membanting-banting dirinya. Gedung-gedung dibangun untuk dirobohkan kembali. Jalan-jalan ditumpuk dan digeser seenaknya. Ribuan bayi manusia, pohon dan binatang lahir lebih banyak lagi dalam setiap kesempatan. Kotaku menjelma jadi kebun manusia, kebun pohonan dan kebun binatang. Rambu-rambu lalu lintas jadi kacau balau. Kotaku menjadi laut. Laut bergelora. Misteri yang senantiasa tak terpecahkan. Gaib yang senantiasa memesona...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;suatu hari&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-295441311608745982?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/295441311608745982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/gaib-yang-senantiasa-memesona.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/295441311608745982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/295441311608745982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/gaib-yang-senantiasa-memesona.html' title='Gaib yang Senantiasa Memesona'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4216024082269320498</id><published>2009-04-22T14:01:00.001+07:00</published><updated>2009-04-22T14:05:36.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Surat Keterangan Miskin dan Mimpi Seorang Golput</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa malam yang lalu, seorang warga datang ke rumah. Dia ingin bertemu dengan adik saya yang kepala dusun. Tapi kebetulan adik saya sedang ke Pura Dalem karena ada persembahyangan bersama dengan para tokoh desa. Sayalah kemudian yang menyambut warga itu, mengajaknya ngobrol di amben depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama kami ngobrol, saya merasa bahwa warga ini datang dengan suatu persoalan yang sedang dihadapinya. Sebab jika tidak, tentulah dia sudah sejak tadi pulang karena toh adik saya yang ingin ditemuinya tidak di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istri saya sedang hamil enam bulan. Ini hamilannya yang ketiga, karena alat KB kami kebobolan,” demikian akhirnya warga tersebut bercerita dengan tersipu-sipu setelah saya desak dengan halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia melanjutkan, “Kata dokter kandungan, anak kami ini akan lahir kembar. Saya ke sini untuk minta petunjuk dari Pak Kadus (Pak Kepala Dusun – panggilan warga untuk adik saya), bagaimana caranya agar kami nanti bisa mendapat keringanan biaya melahirkan di rumah sakit.  Maksudnya, saya mau minta surat keterangan miskin dari desa. Karena besar kemungkinannya istri saya harus menjalani operasi saat melahirkan nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kok saudara panik? Apakah saudara belum punya Kartu JKJ yang model terbaru?” Saya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;JKJ adalah singkatan dari Jaminan Kesehatan Jembrana, sebuah program pelayanan kesehatan dari &lt;a href="http://www.jembranakab.go.id"&gt;Pemerintah Kabupaten Jembrana&lt;/a&gt; untuk seluruh warga masyarakat Jembrana tanpa memandang kaya atau miskin. Untuk mendapatkan layanan ini, setiap warga bisa mengurusnya di Pemda dengan menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga serta membayar premi hanya 20 ribu rupiah. Dengan memiliki Kartu JKJ ini, setiap warga masyarakat akan mendapat pelayanan kesehatan (pengobatan) gratis selama lima tahun. Pelayanan ini meliputi seluruh biaya obat dan biaya kamar kelas III di rumah sakit umum dan rumah sakit suasta di Kabupaten Jembrana, di klinik atau di dokter praktek suasta. Sejak diluncurkan tahun 2002, JKJ ini mula-mula terbagi dua, yaitu JKJ Pos Pelayanan Kesehanan (PPK) I dengan premi 10 ribu rupiah untuk pengobatan gratis tingkat pertama di RSU maupun di dokter praktek, yang kedua adalah JKJ Paripurna dengan premi 60 ribu rupiah per-tahun dengan pelayanan gratis rawat inap termasuk melahirkan hingga operasi. Sekarang kedua jenis JKJ ini sudah diganti dengan JKJ Paripurna yang baru, dengan premi 20 ribu rupiah per-lima tahun itu. Untuk mendapatkan Kartu JKJ ini, setiap warga harus datang langsung ke Dinas Kesehatan Jembrana, tidak bisa diwakilkan, karena yang bersangkutan mesti difoto untuk kemudian dipasang pada Kartu JKJ. Seperti orang mencari SIM&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus terang, saya belum punya Kartu JKJ. Saya belum sempat mengurusnya, karena sebagai buruh kasar saya tidak sempat ke Pemda,” ujar warga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung bisa paham dengan persoalan warga ini. Lalu saya sarankan dia untuk lebih baik mengurus Kartu JKJ saja dulu daripada mencari surat keterangan miskin. Saya suruh dia untuk datang esok pagi menemui adik saya agar mendapatkan surat pengantar mengurus Kartu JKJ. Karena kebetulan kantor saya dekat dengan kompleks Pemda, saya berjanji akan mengantar dia dan istrinya ke Dinas Kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang warga itu, saya nonton televisi. Di televisi nasional yang mengklaim dirinya sebagai “TV Pemilu” itu, saya menyaksikan beberapa tokoh partai politik di Jakarta sedang sibuk sekali berdebat. Mereka saling ngotot dan bahkan mengancam akan menuntut pemerintah atas keteledoran pelaksanaan pemilu legislatif beberapa waktu lalu. “Kita tidak bisa menerima, bahwa hak demokrasi rakyat ada yang dipotong. Banyak rakyat kita yang tidak bisa memilih gara-gara KPU tidak mencatat nama mereka di daftar pemilih tetap atau DPT. Kita harus selamatkan demokrasi!” Demikian seorang elit dari PDI Perjuangan dengan sengit mendebat seorang elit Partai Demokrat. Seru! Pokoknya elit PDIP itu tidak bisa menerima apapun yang dikatakan perwakilan Partai Demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik! TV saya matikan! Saya pergi tidur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya bermimpi. Dalam mimpi itu saya melihat para elit bangsa ini, dari elit partai politik, elit pemerintah, elit ekonomi, elit budaya, elit agama, elit pendidikan dan semua semua semua elit berdebat menuntut diri mereka sendiri kenapa sudah sejauh ini negeri dan bangsa ini masih juga menyisakan puluhan juta rakyat miskin yang bahkan tidak mampu membiayai dirinya untuk berobat atau melahirkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpi itu, saya juga melihat mereka menyesali diri mereka sendiri, bahwa kenapa negeri ini begitu gampangnya menghabiskan dana 100 trilyun untuk berpesta politik dalam pemilu, tetapi tidak berani menyisihkan sepertiga saja dari jumlah itu untuk menanggung atau menggratiskan biaya kesehatan rakyat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya terus bermimpi soal itu. Bahkan saking bagusnya mimpi itu, saya jadi takut untuk terjaga. Tetapi apalah artinya mimpi seorang golput bagi bangsa ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4216024082269320498?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4216024082269320498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/surat-keterangan-miskin-dan-mimpi.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4216024082269320498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4216024082269320498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/surat-keterangan-miskin-dan-mimpi.html' title='Surat Keterangan Miskin dan Mimpi Seorang Golput'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4597166491412339132</id><published>2009-04-14T13:17:00.000+07:00</published><updated>2009-04-14T13:21:00.749+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Maaf”, adalah sebuah kata ajaib yang ada dalam bahasa manusia. Pada binatang, anjing misalnya, maaf hanya bisa diucapkan dengan bahasa tubuh. Seekor anjing yang merasa bersalah karena melintas di wilayah kekuasaan anjing lain, akan menyatakan maafnya dengan mengerutkan sedikit badan, ekor sedikit mengendur seraya berusaha mencium badan anjing yang punya wilayah itu. Beda dengan anjing jerih, badannya akan benar-benar mengkerut dengan ekor yang terlipat rapat di sela-sela kaki belakang seraya memasang muka memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucing menyatakan maaf dengan menggosokkan badannya ke badan yang dimintainya maaf. Kucing yang minta maaf kepada manusia, menggosokkan badannya ke kaki atau tangan manusia. Kalau dia (kucing) minta maaf pada sesama kucing, juga dengan menggosokkan badannya ke kucing lain atau ke benda terdekat di sekitarnya. Dan biasanya, jika pernyataan maaf ini sudah dilakukan, anjing maupun kucing itu akan segera berbaikan dan bisa main bareng lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus manusia, sebuah pernyataan maaf ternyata cukup sulit diwujudkan. Banyak faktor yang menyertai kata maaf itu sebelum diungkapkan. Rasa jengah, malu, gengsi atau naluri kesombongan akan banyak campur tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada kasus manusia, kata maaf seringkali harus dipaksa-paksakan untuk mengucapkannya. Sementara di sisi lain, seseorang bahkan harus menyembah-nyembah orang lain agar permintaan maafnya diterima. Atau seseorang yang lain harus bersabar bertahun-tahun menunggu permintaan maaf dari orang yang dianggap harus mengucapkannya karena hal-hal tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kata maaf yang harus dibantu pihak ketiga untuk mengucapkan serta menerimanya. Namanya mediator. Misalnya Si A bermasalah dengan Si B, untuk bisa meminta maaf pada Si B, Si A mesti dibantu Si C. Demikian pula Si B, untuk bisa menerima permintaan maaf Si A harus melalui Si C. Maka Si C inilah yang disebut mediator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teapi untuk menjadi mediator tidaklah juga gampang. Di samping harus berkompeten pada hal-hal yang berhubungan dengan “prosesi maaf” yang akan dilakukan Si A dan Si B, Si C sebagai mediator harus yakin pada dirinya bahwa dia benar-benar bersih. Bersih dalam artian dari kepentingan-kepentingan yang semata-mata untuk menguntungkan dirinya sendiri. Dan inilah yang paling sulit pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sekali lagi, sebuah pernyataan maaf, entah melalui sikap ataupun ucapan, adalah sesuatu yang paling sulit di lakukan di tengah peradaban manusia. Salah satu contoh paling riil saat ini adalah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah menggunakan dana negara sangat besar untuk penyelenggaraan pemilu 2009, sejauh ini sama sekali tak menampakkan niat, sikap, maupun ucapan maaf kepada bangsa Indonesia atas penyelenggaraan Pemilu Legislatif yang paling amburadul sepanjang sejarah bangsa ini, di tahun 2009 ini!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4597166491412339132?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4597166491412339132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/maaf.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4597166491412339132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4597166491412339132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-2950430850134238438</id><published>2009-04-05T14:26:00.001+07:00</published><updated>2009-04-05T14:36:21.688+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Nyepi: Rendezvous bagi Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tersentuh dengan tulisan Renungan Perayaan Nyepi (Tahun Baru Saka) yang dilakukan oleh umat Hindu Bali, yang saya baca di &lt;a href="http://arumsekartaji.blogspot.com"&gt;SEKOLAH INTERNET&lt;/a&gt; siang ini. Tulisan sahabat blogger ini adalah satu dari sekian banyak artikel atau tulisan tentang Nyepi yang telah pernah dimuat oleh berbagai media massa, buku maupun artikle-artikel lepas selama ini. Terima kasih untuk &lt;a href="http://arumsekartaji.blogspot.com/"&gt;sehat dengan reik&lt;/a&gt;i atas artikelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa demikianlah, Nyepi bagi umat Hindu Bali di Indonesia, merupakan sebuah ritual tahunan untuk menyambut pergantian tahun Saka, sebuah penanggalan yang diciptakan Aji Saka berdasarkan peredaran bulan, yang uniknya (kalau tidak boleh dibilang ganjil), oleh umat Hindu Bali justru diperingati dengan patokan setiap bulan mati (Tilem) di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sasih Kesanga&lt;/span&gt; (bulan sembilan) penanggalan Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keunikan atas patokan peringatannya ini saja menunjukkan bahwa Nyepi merupakan sebuah momentum yang bersifat multikultur, bahkan mungkin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;post-culture&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu hal lagi yang saya catat dari perayaan Nyepi di Bali, bahwa momentum ini juga merupakan pengejawantahan semangat toleransi yang paling hebat di dunia. Baik sebagai toleransi antar-umat beragama, maupun toleransi antar-umat beragama dengan non-agama (penganut atheis), toleransi antar-kepentingan berbagai aspek hidup, mulai dari aspek spiritual maupun aspek sosial dan formal kebangsaan maupun kenegaraan (kepentingan duniawi). Pendek kata, Nyepi di Bali adalah satu-satunya bentuk multi-toleransi bahkan hyper-toleransi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kita lihat secara kasat mata, dalam perayaan Nyepi dari dulu hingga sekarang, seluruh umat beragama non Hindu di Bali turut menerima sekaligus melaksanakan Nyepi dengan “kesempurnaan” yang sama dengan umat Hindu. Pada saat Nyepi, masjid, gereja, wihara dan tempat-tempat ibadah lainnya tidak ada yang melakukan aktifitas (baca: keramaian) sama sekali, termasuk juga tidak menyalakan lampu selama 24 jam. Pada hari Nyepi, adzan di masjid dilakukan tanpa pengeras suara. Umat Islam yang hendak menunaikan sholat di masjid, jika rumah mereka kebetulan agak jauh, mereka ke masjid dengan berjalan kaki tanpa menggunakan kendaraan. Demikian pula jika kebetulan Nyepi jatuh pada hari Minggu, kebaktian di gereja tetap berlangsung sebagaimana mestinya, tapi para jemaat ke gereja tanpa kendaraan, dan kotbah pendeta atau pastor tanpa pengeras suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terjadi dari dulu hingga sekarang. Demikian pula kegiatan-kegiatan sosial-budaya serta ekonomi (seperti sudah ditulis oleh sehat dengan reiki di blognya), pada hari Nyepi semuanya berhenti. Sementara lampu-lampu di rumah seluruh warga masyarakat hanya menyala di kamar yang ada bayi, orang sakit atau meninggal. Lain dari itu lampu padam semua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memandang dari sisi agama maupun status sosial, pada hari Nyepi ini seluruh warga masyarakat di Bali juga tidak memasak makanan apapun. Seluruh penduduk Bali melakukan kegiatan memasak sehari sebelum Nyepi untuk dijadikan “bekal” selama 24 jam. Maka demikianlah, pada hari Nyepi, Bali dengan segala dinamikanya memang sempurna dalam “ketiadaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang senantiasa patut menjadi catatan hidup warga masyarakat Bali dan Indonesia pada umumnya. Bahwa, jika seandainya kita pernah berpikir betapa abstraknya sebuah toleransi yang selama ini diwacanakan bangsa, hari raya Nyepi adalah salah satu wujud nyata toleransi itu. Bahwa, sungguh kita memiliki sebuah titik di mana “kebersamaan dalam berbagai perbedaan” itu bertemu pada bangsa ini. Nyepi, setidaknya bagi seluruh umat manusia di Bali adalah: sebuah rendezvous.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-2950430850134238438?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/2950430850134238438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/nyepi-rendezvous-bagi-indonesia.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2950430850134238438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2950430850134238438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/nyepi-rendezvous-bagi-indonesia.html' title='Nyepi: Rendezvous bagi Indonesia'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4631198105122306124</id><published>2009-04-04T11:11:00.004+07:00</published><updated>2009-04-04T12:25:30.180+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Anjing</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;KARENA&lt;/strong&gt; jengkel dan dendam kepada para anjing, seorang teman saya akhirnya ingin menjadi anjing. “Habis, saya jengkel sekali pada mereka. Masak orang lewat dan jalan dengan baik-baik dikejar dan digonggongnya. Maka saya pikir, satu-satunya jalan untuk melawannya adalah saya juga harus jadi anjing,” ujar teman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menertawakannya. Mengatakan rencananya itu sebagai sebuah gagasan yang berlebihan. Saya juga mengingatkannya bahwa hidup sebagai manusia jauh lebih bagus dari menjadi seekor anjing. “Jadi kita, kau terutama, patut bersyukur karena dalam kehidupan yang memang susah-susah gampang ini diberi kesempatan menjadi manusia. Dengan menjadi manusia, begitu banyak kemungkinan yang bisa kita lakukan dengan cara-cara yang manusiawi.”&lt;br /&gt;“Melakukan sesuatu dengan manusiawi?” Dia bertanya dengan nada mencibir.&lt;br /&gt;“Misalnya, kita bisa pacaran dengan cara yang lebih baik dari seekor anjing. Tak perlu meraung-raung di jalanan atau di lorong-lorong. Tak perlu berkelahi saling menunjukkan keperkasaan untuk menarik perhatian lawan jenis.”&lt;br /&gt;“Bah, sepele sekali argumenmu.”&lt;br /&gt;“Lho, hidup ini kan tidak melulu harus dirumitkan.”&lt;br /&gt;“Apa lagi yang lebih baik dari anjing?”&lt;br /&gt;“Hhh, kamu ini ya. Banyak yang lebih baik dan manusiawi. Misalnya lagi dalam hal makan, kita tak perlu menjilat-jilat makanan di tanah seperti anjing-anjing itu. Tidur juga, kita bisa tidur di tempat yang bagaimana pun keadaannya tetap lebih bagus dari tempat tidur anjing. Kita juga bisa berpakaian sesuai selera. Anjing tidak. Semua anjing bahkan telanjang.”&lt;br /&gt;“He he he...”&lt;br /&gt;“Kenapa tertawa?”&lt;br /&gt;“Kau terlalu sederhana. Dan semua argumenmu itu tak akan pernah dimengerti oleh anjing-anjing.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?” Saya malah jadi bingung.&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita mencampakkan cinta atau cinta kita dicampakkan begitu saja? Apa itu manusiawi? Bagaimana kalau untuk mendapatkan makanan saja kita juga tega saling tindas, saling tipu, saling rebut? Meski kita bisa makan di restoran super mewah tetapi biaya makan itu kita dapat dari merampok atau mengkorup sesuatu, apa juga manusiawi? Pokoknya aku tak suka pada anjing-anjing itu. Aku punya dendam sendiri terhadap mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut teman itu berasumsi bahwa hanya dengan menjadi anjinglah maka anjing-anjing itu akan bisa mengerti.&lt;br /&gt;“Manusia tidak akan pernah dimengerti oleh anjing. Demikian pula sebaliknya,” lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kehabisan kata-kata. Maka saya memilih diam ketika dia meninggalkan saya tetap dengan rencana dan gagasannya untuk menjadi anjing.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANJING&lt;/strong&gt;, sesungguhnya adalah teman yang setia bagi manusia. Maksudnya bagi tuannya. Maka tidaklah aneh kalau banyak anjing peliharaan yang berani menggigit para tetangga, hanya gara-gara tetangga itu lewat di depan rumah tuannya. Anjing tak pernah berpikir jauh, apakah orang yang lewat itu sedang berbuat jahat atau hanya sekedar lewat karena tidak ada jalan lain untuk dilewati. Pokoknya gonggong, kejar, bila perlu gigit saja. Anjing juga tak sempat menyediakan otaknya untuk menimbang, apakah perintah tuannya merupakan perintah yang berdasarkan akal sehat atau hanya karena emosi, dendam atau dengki, pokoknya begitu diperintah, langsung gonggong, kejar dan gigit. Itulah bukti bahwa anjing adalah teman yang sangat setia bagi tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya kalau dipikir-pikir, keinginan teman saya tadi untuk menjadi seekor anjing, bukanlah sesuatu yang aneh atau luar biasa. Di zaman yang serba jumpalitan ini, tanpa banyak omong toh memang sudah banyak orang atau manusia yang merubah dirinya menjadi anjing. Paling tidak, dalam wujud mereka masih manusia, tetapi dalam posisi, mereka secara sukarela mengambil posisi anjing. Banyak orang yang mengambil posisi sebagai anjing penjaga, anjing pengawal, atau anjing pemburu. Menggonggong sana-sini, mengejar lalu menggigit tanpa tahu apa persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah anjing-anjing penjajah itu. Demi sekerat keju mereka rela menjilat-jilat kaki tuannya. Kita harus habisi mereka! Merdeka!” demikian sepotong dialog sebuah sandiwara satu babak yang sering kami pentaskan dulu setiap perayaan tujuh belasan di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan entah kenapa kami selalu suka memainkan sandiwara-sandiwara semacam itu. Beberapa teman yang badannya besar-besar kami pilih untuk memerankan para antek-antek penjajah di zaman kolonial dulu. Sementara kami yang memerankan para pemuda pejuang selalu berbadan kerempeng tetapi berpura-pura hebat dengan semangat yang berapi-api. Anehnya lagi, kami yang memerankan para pejuang maupun memerankan para antek-antek penjajah itu, selalu saja menyelipkan kata-kata ‘anjing’ dalam lakon sandiwara kami. Kami menyebut teman-teman yang memerankan para antek penjajah itu dengan sebutan ‘anjing penjajah’, sementara mereka menyebut kami yang memerankan para penjuang sebagai ‘anjing pribumi’. Tetapi yang paling menyenangkan adalah di akhir cerita kami para anjing pribumi akhirnya selalu mengalahkan para anjing penjajah. Dan kami para anjing pribumi yang berbadan kerempeng dan sok jagoan ini selalu mendapat tepuk tangan riuh dan pujian dari para penonton terutama gadis-gadis desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang sandiwara-sandiwara seperti itu sudah tak ada lagi pada setiap perayaan tujuhbelasan. Anak-anak muda sekarang memilih kegiatan yang lebih manusiawi daripada seperti kami dulu yang hanya bisa menjadi anjing-anjingan.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SAYA&lt;/strong&gt; termasuk orang yang suka pada anjing. Maksudnya, saya pun orang yang percaya pada kesetiaan anjing. Dulu ketika saya masih tinggal di kamar kos di kota, tuan rumah saya pernah punya anjing bernama Bento seperti judul lagu karya Iwan Fals penyanyi ballada itu. Bento adalah anjing yang lucu sekali. Bentuk badannya kecil dan pendek, walau dia asli anjing lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Bento dibiarkan keluar rumah. Maksudnya biar bisa jalan-jalan mencari angin segar di depan rumah. Maka Bento pun mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Menggaruk-garuk tanah, melompat, berlari dan kencing di batang pohon palem di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah sepeda motor meraung dari arah depan sana. Persis saat mereka melewati Bento yang sedang asyik mencium-cium rumput, dua orang pemuda berbadan tegap sekonyong-konyong menyambitkan besi panjang bengkok yang mirip pancing raksasa ke arah Bento. Crrassss!!! Tepat mengenai leher Bento. Bento menjerit dan meronta. Tapi anjing kecil itu tak bisa melepaskan diri. Pengait itu masuk begitu dalam pada lehernya. Saya terpaku memandangnya. Pengendara sepeda motor itu pun menancap gas membawa tubuh Bento tanpa sempat kami tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di suatu tempat, sekelompok manusia menyayat-nyayat daging seekor anjing yang baru saja disambitnya di jalan. Mereka merebusnya dan juga menusuk-nusuknya menjadi sate. Saya bertanya dalam hati, kenapa manusia tega berlaku begitu kejam kepada temannya yang setia, walau dia bernama anjing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir, bahwa ternyata menjadi anjing sungguh tidak aman. Maka saya harus segera pergi mencari kawan yang ingin menjadi anjing itu. Saya harus mencegahnya!&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;suatu senja&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4631198105122306124?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4631198105122306124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/anjing.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4631198105122306124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4631198105122306124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/anjing.html' title='Anjing'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-9192675346075724237</id><published>2009-04-01T14:12:00.001+07:00</published><updated>2009-04-01T14:17:07.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Lomba Desa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ini alibi! Alibi saya kenapa beberapa hari tidak ngeblog dan otomatis tidak bisa bertegur sapa dengan sahabat-sahabat blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa, desa saya, Desa Candikusuma yang nyempil di bagian barat Pulau Dewata, harus mengikuti Lomba Desa Terpadu mewakili kecamatan. Hanya mewakili kecamatan, tetapi repotnya sama dengan jika seandainya mewakili provinsi ke tingkat nasional. Bahwa, saya bersama seluruh anggota keluarga yang ada di Dusun Senja yang menjadi bagian dari desa kami, sejak jauh-jauh hari diperintah oleh Pak Kepala Desa untuk menyiapkan segala sesuatu, terutama melengkapi dan mengelola semua potensi yang ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kegiatan bersih-bersih lingkungan, menata pekarangan menjadi beberapa bagian seperti: areal apotik hidup, areal dapur hidup, areal taman, dan lain sebagainya, wajib dilakukan oleh seluruh warga masyarakat. Dan untuk keluarga saya, ini menjadi harga mati karena kebetulan adik saya yang bungsu menjadi &lt;em&gt;Kelian Banjar&lt;/em&gt; (Kepala Lingkungan) di banjar kami. Logikanya, masak rumah kepala lingkungan keadaannya semrawut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya kemudian, saya yang merancang dan sekaligus menjadi mandor (hehehe…) untuk segala penataan di rumah, sejak dulu sudah menerapkan konsep “bebas” (tetapi tidak liar) di rumah. Saya tidak suka sesuatu yang tertata secara mapan. Maka, di Dusun Senja, sengaja kami tidak membuat blok-blokan untuk tanaman kami. Tidak ada areal khusus untuk tanaman obat, tanaman sayur, tanaman bunga, dsb. Saya dan keluarga sengaja membiarkan para pohonan itu tumbuh di mana saja mereka mau. Maka jadilah seperti ini: sebatang pohon cabe bisa tumbuh merdeka di bawah pohon kamboja bali, serumpun bayam merdeka untuk tumbuh di antara barisan mawar merah, serumpun cocor bebek bisa aman-anam saja menyelinap di bawah pohon bunga angsoka, pot tanaman kumis kucing saya gabung dengan pot cemara ekor tupai di teras depan. Sebatang pohon kates besar kami biarkan menjulang di halaman samping, agar burung-burung dan tupai yang setiap hari datang berebut kates matang di pohonnya itu dapat ditonton. Terutama bagi anak saya, Elang, yang kini berumur sembilan bulan, burung-burung dan tupai liar berebut buah kates matang itu merupakan tontonan yang sangat menakjubkan. Elang selalu tertawa bahagia sampai melonjak-lonjak setiap kali melihat pemandangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai petani, rumah kami juga menyatu dengan kebun. Di sekeliling rumah kami adalah rerimbunan yang terdiri dari pohon coklat (kakao), rumpun-rumpun pisang, pohon rambutan dan kelapa yang telah ditanam mendiang kakek dan nenek kami 50 tahun lalu. Dan saya, sengaja tidak membangun pagar atau tembok untuk membatasi pekarangan rumah dan kebun. Pokoknya menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah persoalan selanjutnya. Bahwa konon pekarangan rumah harus jelas batasnya dengan kebun. Bahwa sebuah rumah harus dibatasi pagar, entah tembok bata atau beton, entah pagar dari bambu atau kayu, pokoknya ada batasnya. Ini juga menjadi salah satu kriteria rumah yang layak menurut aturan lomba desa itu. Tapi saya ngotot. Pokoknya tidak ada pagar di sekeliling rumah kami! “Saya tidak mau kompromi tentang hal ini!” Demikian saya berseru ketika saya diberi tahu kriteria itu. Sebagai konsekwensinya, saya pun harus kerja ekstra mengatur ulang lagi tempat tumpukan stok kayu bakar, mengurangi beberapa rumpun pisang, memangkas daun-daun coklat yang terlalu rimbun dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu terakhir ini juga merupakan rangkaian hari raya bagi umat Hindu Bali di Indonesia. Pertama Hari Raya Galungan, kemudian Nyepi, terakhir Sabtu 28 Maret yang lalu adalah Hari Raya Kuningan. Kesibukan hari raya ini otomatis menambah lagi kesibukan untuk persiapan lomba. Belum lagi beberapa calon anggota legilatif (caleg) silih berganti bertamu ke rumah jualan kecap. Hhhh…, waktu untuk menata rumah jadi terasa begitu sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari menjelang lomba desa, tepatnya Senin 30 Maret lalu, Ibu Camat (istri Pak Camat maksudnya), mendadak menginstruksikan bahwa rumah kami (Dusun Senja) dijadikan salah satu rumah contoh dalam lomba desa itu. Adik saya yang menjadi Kelian Banjar tak berkutik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Bli Nok, bantu ibu menyiapkan dan menata isi rumah dan dapur! Meja, kursi, rak buku, jangan sampai berdebu! Carikan tempat khusus untuk menyimpan mainan anak biar tidak berantakan. Buku-buku dan majalah Bli Nok yang berserakan itu tolong ditata lagi. Koran-koran lama di singkirkan! Oya, buatkan daftar menu harian dan tempel di dekat pintu dapur kita. Satu lagi, buatkan buku tamu dan isi saja sembarangan dalam rentang waktu dua bulan terakhir ini! Maaf Bli Nok, saya dan istri gak bisa bantu di rumah. Saya harus lembur di kantor desa. Masih banyak pembukuan dan data-data penduduk yang belum beres! Istri saya harus keliling ke rumah-rumah warga. Malamnya dia harus latihan paduan sauara PKK di kantor desa. Sorry ya, Bli Nok ya… ”&lt;/em&gt; demikian adik saya yang terhormat itu. Grrrrrrrrrrrr….!!! Saya marah, tetapi langsung lemas. Dia mengeluarkan perintah itu persis satu jam setelah istri saya bertolak dari rumah untuk pulang ke rumah orang tuanya selama seminggu. Matilah saya! Tidak mungkin saya membatalkan “liburan” istri saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para sahabat saya tercinta semua, jadi begitulah nasib saya beberapa hari terakhir ini. Saya tenggelam sebagai seorang warga masyarakat desa yang harus mendukung sepenuhnya desa saya tercinta untuk mengikuti Lomba Desa Terpadu Tingkat Kabupaten, yang penilaiannya dilaksanakan hari ini, Rabu 1 April 2009. Semua ini telah membuat saya tidak bisa ngeblog semenit pun beberapa hari ini. Sampai akhirnya tadi pagi, setelah membantu ibu di dapur menyiapkan menu (anjuran pembina lomba) berupa: sup kelor dengan santan, sambal terasi bakar, tempe dan tahu goreng, pepes udang kecil-kecil dan sesisir pisang matang di pohon, saya bergegas mandi. Saya kabur ke kantor. Saya tidak mau menunggu tim penilai itu datang ke rumah. Saya ingin ngeblog! Halloooo, saya datang….!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-9192675346075724237?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/9192675346075724237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/lomba-desa.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/9192675346075724237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/9192675346075724237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/04/lomba-desa.html' title='Lomba Desa'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-287407330069193029</id><published>2009-03-22T23:03:00.001+07:00</published><updated>2009-03-22T23:19:19.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Alangkah Senangnya Aku Bersamamu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa kamu punya rumah di mana-mana, pertama kali aku dengar dari ayah. Lalu ibu turut pula meyakinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di suatu tempat di mana setiap pagi aku digiring bersama anak-anak sebayaku oleh seorang perempuan cantik berbaju bersih. Kami digiring untuk bernyanyi. Kami digiring untuk bertepuk-tepuk tangan, berlari berputar-putar membentuk lingkaran, melompat-lompat di halaman dan lain sebagainya yang sering aku rasa sangat aneh dan menakjubkan. Aneh. Tapi, ah tidak. Pada dasarnya aku kira diriku saja yang sedikit lamban. Coba, untuk memahami bahwa tempat yang aku maksudkan ini adalah sebuah taman kanak-kanak saja, aku mesti melewati jangka waktu yang tidak sedikit. Sampai aku dan teman-teman sudah mahir menyanyikan beberapa buah lagu yang juga tidak kupahami benar maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Pelangi pelangi alangkah indahmu. Merah kuning hijau di langit yang biru. Pelukismu agung, siapa gerangan?”&lt;/span&gt; Aku hapal ada sebuah lagu yang menyebutkan bahwa kamulah yang melukis pelangi di angkasa itu. Lagu itu pula yang pertama menumbuhkan kekagumanku yang luar biasa padamu. Pikirku, alangkah hebatnya kamu. Melukis pelangi di angkasa. Tangga macam apakah yang telah kamu pergunakan untuk pekerjaan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini sempat membuat aku sakit hati. Sebab ketika aku utarakan di rumah, aku malah ditertawakan oleh seluruh saudara-saudaraku. Tiga orang kakakku, dua laki-laki dan satu perempuan. Bahkan tidak hanya sekedar tertawa. Mereka bahkan menonjok-nonjok jidatku dengan telunjuknya yang besar-besar. Aku tidak menangis memang. Aku tekankan, aku tidak menangis. Hanya nelangsa. Sedikit mendekati luka. Dan aku bertanya-tanya sendiri; besar sekalikah kesalahanku karena pertanyaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untunglah ayah segera menegur ketiga kakakku itu, sehingga mereka serentak diam. Ayah lalu menjelaskan perihal bagaimana kamu melukis pelangi di angkasa.&lt;br /&gt;“Ya, sayang, tentu saja dia melukis pelangi itu dengan tangga yang sangat tinggi.”&lt;br /&gt;“Tangga dari bambu atau dari kayu?” aku masih penasaran.&lt;br /&gt;“Dari bambu.”&lt;br /&gt;“Kenapa dari bambu?”&lt;br /&gt;“Sebab bambu lebih mudah menebangnya dan juga besarnya sama. Sulit mencari banyak kayu yang besarnya sama.”&lt;br /&gt;“Kenapa banyak?”&lt;br /&gt;“Karena tempatnya tinggi, jadi harus disambung-sambung.”&lt;br /&gt;“Bambu gampang disambung?”&lt;br /&gt;“Ya, bambu gampang disambung.”&lt;br /&gt;“Siapa yang membantunya membuat tangga?”&lt;br /&gt;“Semua orang membantunya. Setiap orang menanam bambu agar dia tidak kekurangan bahan tangga.”&lt;br /&gt;“Ayah juga menanam bambu?”&lt;br /&gt;“Dulu kakek yang menanam.”&lt;br /&gt;“Sekarang kakek di mana?”&lt;br /&gt;“Sedang membantunya membuat tangga.”&lt;br /&gt;“Kok kakek tidak pulang-pulang?”&lt;br /&gt;“Karena masih banyak tangga yang harus dibuat.”&lt;br /&gt;“Kok banyak?”&lt;br /&gt;“Karena pelangi harus dilukis di mana-mana?”&lt;br /&gt;“Banyak?”&lt;br /&gt;“Ya, banyak.”&lt;br /&gt;“Untuk apa?”&lt;br /&gt;“Untuk membuat langit menjadi indah.”&lt;br /&gt;“Langitnya siapa?”&lt;br /&gt;“Langit semua orang.”&lt;br /&gt;“Apa besok dia akan melukis pelangi lagi?”&lt;br /&gt;“Mungkin.”&lt;br /&gt;“Horreee! Besok kita akan melihat pelangi lagi!”&lt;br /&gt;“Ya. Besok kita akan melihat pelangi lagi, sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penjelasan ayah membuat aku terpesona padamu. Aku terpesona padamu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada suatu malam, aku tidak turut bergabung bersama saudara-saudaraku yang bermain perang-perangan di halaman belakang. Aku duduk saja di ruang tengah di sebelah ibu yang sibuk denga renda-rendanya. Aku pandangi jari-jemari ibu yang bergerak lincah dan lembut di antara jarum dan benang-benang yang berwarna-warni. Aku pandangi wajah ibu yang anggun dalam kesuntukannya. Entah beberapa lama, tiba-tiba aku tidak melihat ibu yang merenda lagi, tetapi aku melihat kamu yang asyik melukis pelangi di angkasa. Tiba-tiba aku merasa dadaku berdebar dengan hebat. Aku melihat kamu melukis pelangi di angkasa. Aku jadi takut. Aku takut kehilangan ibu. Aku panik, lalu menjerit-jerit memanggil ibu. Ya, aku menjerit-jerit sekuatnya. Sampai tak ada kekuatan lagi padaku. Sampai aku lelah dan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, setelah aku menjerit-jerit itu, aku menjadi terbiasa setiap tidur bertemu denganmu. Kamu masih ingat bukan? Setiap kita bertemu, kamu selalu mengajakku ke suatu tempat yang tidak seorang lain pun ada kecuali kita. Sepanjang pertemuan itu kamu mengajakku ke dalam berbagai macam permainan. Dan kamu memang berbeda dengan teman-temanku yang lain. Kamu tidak pernah marah atau menjejalkan kesalahan hanya kepadaku bila suatu saat permainan kita tidak berjalan sebaik biasanya. Dalam hatiku, diam-diam tumbuh lagi sebuah kekaguman yang lain. Kamu sungguh bijaksana. Dan inilah yang lama-lama membuatku tidak begitu betah lagi bergabung dengan teman-temanku di sekolah atau di lorong di depan rumah. Habis, mereka semua kasar-kasar terhadapku. Kesalahan macam apapun yang terjadi dalam permainan kami, mereka pasti menudingku sebagai sumbernya. Mata mereka mendelik sembari berteriak-teriak: “Bodoh kamu!”  “Pandir kamu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai! Walau dengan menangis sesenggukan pun aku tak dapat menolong diriku bila keadaan sudah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun setiap saat aku masih suka duduk-duduk, berlari-larian atau berjalan-jalan di tengah-tengah teman yang lain, kita: aku dan kamu, punya cara bermain yang lain. Ketika aku sedih karena ditolak ikut bermain kelereng dalam rombongan Si Agus, kamu malah menghiburku dengan merubah dirimu menjadi kelereng yang mereka mainkan itu. Alangkah lucu dan manisnya kamu jadi kelereng. Aku sampai terpingkal-pingkal melihatmu. Tapi karena aku tertawa itulah aku disalahkan lagi oleh mereka.&lt;br /&gt;“Diam kamu! Kenapa tertawa? Mengejek aku ya?”&lt;br /&gt;“Ya. Pasti dia mengejek karena kamu kalah dariku.”&lt;br /&gt;“Awas kamu! Pergi! Kamu mengganggu saja!”&lt;br /&gt;“Ah, biarkan saja dia. Dia kan cuma menonton?”&lt;br /&gt;“Tapi dia menertawai aku. Makanya aku kalah!”&lt;br /&gt;“Ya, sudah. Kita usir saja dia!”&lt;br /&gt;“Ayo pergi jauh-jauh! Awas mendekat lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengusirku. Mereka kira aku menertawakan permainannya. Padahal aku tertawa karena melihatmu lucu sekali menjadi kelereng. Maka sambil menangis aku pergi menjauh. Aku sedih karena dikucilkan. Tapi, eh, kamu malah memecahkan dirimu dan berhenti menjadi kelereng yang mereka mainkan itu. Kamu menyusulku dan menemaniku lagi dengan menjadi kupu-kupu. Lalu kita berkejaran di atas rumput mencari bunga-bunga yang bermekaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, setiap saat kamu selalu menemani dan meluangkan waktu untukku. Sampai sekarang. Sampai dunia ini menjadi kenyataan bagiku. Sampai aku menjadi kenyataan bagi dunia. Ketika aku lapar, kamu menjelma menjadi makanan yang dihidangkan ibuku. Ketika aku perlu pakaian dan rumah, kamu menjelma menjadi pakaian dan rumah yang dikerjakan ibu dan ayahku. Ketika aku perlu laut, kamu menjadi laut yang terhampar di depanku. Ketika aku ingin melihat gunung, kamu menjadi gunung yang tegak kokoh di depanku. Ketika aku ingin ada yang mencintai dengan tulus, kamu mencintaiku dengan tulus. Alangkah tulusnya kamu. Alangkah…, alangkah senangnya aku bersamamu!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;suatu saat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-287407330069193029?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/287407330069193029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/alangkah-senangnya-aku-bersamamu.html#comment-form' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/287407330069193029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/287407330069193029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/alangkah-senangnya-aku-bersamamu.html' title='Alangkah Senangnya Aku Bersamamu'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4488989635527476186</id><published>2009-03-13T13:05:00.001+07:00</published><updated>2009-03-13T13:08:37.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>timor</title><content type='html'>tiba-tiba sulit sekali membaca matamu&lt;br /&gt;bola abu-abu yang mendadak liar&lt;br /&gt;di kerumunan kecemasan sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“cendana tak ditanam lagi,” – ujarmu&lt;br /&gt;lalu kita nyelinap ke dalam perdu&lt;br /&gt;membaca lagi peta di atas karang&lt;br /&gt;mencari desa yang kehilangan namanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kita putuskan untuk telanjang&lt;br /&gt;karena tak ada lagi yang menenun&lt;br /&gt;perempuan pergi ke ladang tanpa hujan&lt;br /&gt;lelaki menebangi cemara&lt;br /&gt;anak-anak memilih jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelang petang aku kembali ke hotel&lt;br /&gt;tanpamu. Secangkir kopi dan sepotong blues&lt;br /&gt;menghadirkan jakarta di selembar koran dan televisi&lt;br /&gt;yang tanpa malu-malu melupakanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4488989635527476186?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4488989635527476186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/timor.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4488989635527476186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4488989635527476186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/timor.html' title='timor'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1461732534794225393</id><published>2009-03-11T13:07:00.001+07:00</published><updated>2009-03-11T13:12:42.525+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Pejabat Langka di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Prof. Winasa yang Bupati Jembrana itu, dalam berbagai kesempatan selalu berteriak lantang, “Tujuan diadakannya pemerintah itu adalah untuk menyejahterakan rakyat. Kalau tidak ada gunanya, buat apa? Bubarkan saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan tertentu, ungkapan heroik sekaligus provokatif ini bisa jadi cukup untuk membuat kuping merah. Bahkan selintas, ungkapan tersebut seharusnya tidaklah diucapkan oleh seorang bupati yang notabene adalah aparat pemerintah. Karena ironisnya di negeri ini, yang namanya pemerintah memang seringkali mengundang keluh dan kesah dari warga masyarakatnya. Pemerintah di negeri ini, acapkali justru hanya menjadi cermin atau wacana atas lambatnya proses perbaikan nasib khalayak banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi begitulah Prof. Winasa yang Bupati Jembrana itu. Jika bicara soal rakyat, soal kehidupan orang banyak, bahkan kadang-kadang dia lupa kalau dirinya adalah seorang bupati, tetapi justru layaknya seorang pejuang pembela rakyat di luar tembok kokoh instansi pemerintahan. “Kalau mau pasti bisa!” demikian slogan lain dari Prof. Winasa untuk pembangunan maupun pelayanan kepada masyarakatnya. Dan, memang terbukti. Sejak tahun 2001, kabupaten Jembrana kemudian dikenal sebagai satu-satunya dan pertama di Indonesia yang:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt; Membebaskan SPP dari SD, SMP hingga SMA (program SPP Gratis ini kemudian mengilhami lahirnya program BOS secara nasional).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt; Memberikan asuransi kesehatan bagi warga masyarakat Kabupaten Jembrana dengan istilah JKJ (Jaminan Kesehatan Jembrana).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.&lt;/strong&gt; Mesubsidi pajak bagi seluruh petani sawah sepanjang petani tersebut tidak menjual sawahnya untuk kepentingan pengalihan fungsi sawah menjadi fungsi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4.&lt;/strong&gt; Memberikan beasiswa bagi seluruh mahasiswa asal Jembrana yang memiliki nilai IP 3,1 ke atas.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5.&lt;/strong&gt; Memberikan bantuan biaya rawat inap dan biaya operasi 100% bagi warga masyarakat yang memiliki Kartu JKJ Paripurna (biaya untuk mengurus Kartu JKJ Peripurna ini hanya Rp. 60.000/kepala untuk 1 tahun).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6.&lt;/strong&gt; Berbagai program dan upaya lain yang bertujuan untuk meningkatkan daya beli masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7.&lt;/strong&gt; Sejak tahun 2007 bekerjasama dengan BPPT Pusat membangun jaringan internet yang disebut J-Net, dengan tujuan pada akhirnya nanti seluruh sekolah dan masyarakat di Kabupaten Jembrana bisa mengakses internet secara gratis. (Sekarang J-Net ini sudah bisa dinikmati di setiap kantor pemerintah di Jembrana, Perpustakaan Daerah Jembrana, sebagian SD dan SMP, sebagian besar kantor Desa/Lurah dan Puskesmas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, orang macam Prof. Winasa itu begitu langkanya di negeri ini. Tanpa bermaksud menjilat, dan terlepas dari sifat baik-buruk seorang anak manusia, wajar diakui bahwa memang sayang sekali negeri ini hanya memiliki satu Winasa. Coba saja seandainya Winasa itu banyak, ada yang menjadi gubernur, menteri, presiden, camat atau kepala desa misalnya, negeri yang kaya raya dengan aset serta potensi alam ini pastilah tidak terlalu lama terpuruk kendati dilindas krisis multidimensi. Asumsi ini menjadi sangat berdasar bila kita dengan jujur dan iklas menengok perkembangan pembangunan secara umum di Kabupaten Jembrana. Setidaknya, dengan PAD yang sangat rendah, dengan potensi pariwisata nol persen, dengan potensi pertambangan yang juga nol persen, dan hanya mengandalkan potensi pertanian yang hingga saat ini masih sebagian besar merupakan pertanian tradisional, Kabupaten Jembrana toh mampu melakukan berbagai terobosan dan inovasi untuk meringankan beban masyarakatnya, sekaligus untuk berani menyongsong hari esok dengan lebih optimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah pernyataan dari tokoh nasional Jaya Suprana tentang Bupati Winasa:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Saya kerap ditanya mengenai di antara sekian banyak rekor MURI. Rekor yang mana merupakan favorit saya. Pada hakikatnya pertanyaan itu sama muskilnya dengan pertanyaan kepada seorang ayah mengenai di antara sekian banyak anaknya, anak yang mana yang paling disayang. Namun apabila dipaksakan, terpaksa saya menjawab bahwa rekor MURI favorit saya adalah rekor &lt;strong&gt;Bupati pertama yang berhasil menyelenggarakan pendidikan gratis bagi segenap warganya&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati sakti-mandraguna tersebut adalah Prof. Dr. drg. I Gde Winasa yang pada awal Abad XXI terpilih oleh Rakyat Kabupaten Jembrana untuk memimpin pembangunan daerah di sisi Barat Pulau Bali tersebut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sejak tahun 1945 telah tersirat dan tersurat di dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia bahwa setiap warga negara memiliki hak atas pendidikan. Namun baru Bupati Jembrana lah yang secara konsekuen dan konsisten menjunjung tinggi hak para warganya untuk memperoleh pendidikan, secara tanpa beban biaya tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi rekor Bupati Jembrana tersebut jelas bukan hanya sekadar superlatif atau spektakular apalagi sensasional belaka, namun memiliki makna yang lebih mendalam dan meluas. Yakni, makna kerakyatan dan kenegaraan demi meraih salah satu cita-cita terluhur bangsa Indonesia: &lt;strong&gt;Masyarakat Adil dan Makmur&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata segenap pejabat-tinggi kepemerintahan tidak hanya sekadar asyik memerintah namun benar-benar mengabdi bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat seperti Prof. Dr. drg. I Gde Winasa sebagai Bupati Jembrana, Bali itu, maka dapat diyakini bahwa Bangsa dan Negara Indonesia akan tampil sebagai yang terbaik di planet bumi ini. Sesuai dengan syair lagu &lt;strong&gt;Indonesia Pusaka&lt;/strong&gt; karya Ismail Marzuki nan menggetar sukma itu: &lt;strong&gt;Indonesia sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa! MERDEKA&lt;/strong&gt;!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Jaya Suprana&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;(Budayawan, kolumnis, Pimpinan Pusat Studi Kelirumologi Indonesia dan Museum Record Indonesia).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1461732534794225393?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1461732534794225393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/pejabat-langka-di-indonesia.html#comment-form' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1461732534794225393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1461732534794225393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/pejabat-langka-di-indonesia.html' title='Pejabat Langka di Indonesia'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1403291789437249795</id><published>2009-03-04T22:04:00.002+07:00</published><updated>2009-03-04T22:22:38.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Bakso Fundamentalis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang ayah dua anak dari Dusun Kelating Desa Kerambitan, Tabanan, mengeluh. “Aneh-aneh saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;awig-awig&lt;/span&gt; (peraturan adat) di desa saya saat ini. Masak warga dilarang membeli bakso dari para pedagang Jawa itu. Sementara anak-anak saya menangis terus bila melihat ada dagang bakso lewat. Pusing saya. Lama-lama saya tidak betah menjadi warga adat yang makin aneh ini,” demikian lelaki yang kesehariannya tak terlalu banyak bicara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakso, belakangan memang menjadi barang istimewa di Bali. Sebelum diributkan temuan kandungan formalin atau borax dalam proses pembuatan pentolnya, dia (bakso) sudah menjadi bulan-bulanan segelintir elit Bali yang entah kerasukan apa tiba-tiba menjadi begitu fanatiknya dengan aroma kedaerahan. Bakso sapi, terutama yang dijual oleh pedagang keliling dari luar Bali, tiba-tiba disarankan agar dihindari oleh warga masyarakat lokal. Seperti yang dialami bapak dua anak di atas tadi, di beberapa tempat di Bali warga lokal bahkan dilarang membeli bakso oleh elit-elit setempatnya dengan peraturan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;awig-awig&lt;/span&gt; segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu kawasan di Denpasar, para pedagang bakso keliling juga sempat diuber-uber petugas trantib dan para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pecalang&lt;/span&gt; (petugas keamanan tradisional). Alasannya, terutama tentu saja dengan kedok demi ketertiban kota, kebersihan pemandangan trotoar dan sejenisnya. Para pedagang bakso keliling dengan gerobak dorong itu diperiksa identitasnya, kemudian bila perlu dengan suatu alasan diusir. Untuk sementara, hanya pedagang bakso (sapi) yang membuka usaha berbentuk rumah makan yang tidak diganggu. Sekali lagi, para pedagang bakso jalanan dilarang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan bahwa semua itu hanya demi “kebersihan kota” dari pedagang kaki lima, ternyata tidak sepenuhnya iya. Karena tidak lama setelah pelarangan padagang bakso keliling tersebut, di jalan-jalan kembali terlihat orang-orang mendorong gerobak bakso. Hanya saja kali ini di gerobaknya ada plakat yang berbunyi “Bakso Krama Bali”. Dan bakso yang dijual tidak lagi dari daging sapi, tetapi daging babi. Pedagangnya adalah orang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;krama&lt;/span&gt;) Bali yang sebelumnya dilatih cara-cara membuat bakso oleh suatu lembaga nonformal yang beberapa tahun ini getol sekali mengumandangkan slogan “Ajeg Bali”. Hebatnya lagi, para pedagang Bakso Krama Bali itu konon dihimpun dalam suatu badan yang bernama Koperasi Krama Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, ternyata baik orang dari luar Bali maupun warga lokal Bali sendiri, sama sekali tak menunjukkan reaksi tertentu oleh kehadiran bakso jenis baru ini. Bali tetap adem ayem dengan segala rutinitas dan dinamikanya. Para pedagang bakso sapi yang dilarang lagi berjualan di jalan-jalan kota dan masuk pelosok-pelosok kampung, sama sekali tak berani melakukan protes. Mereka yang kini terpaksa menganggur itu hanya melihat dengan mata nanar lahannya telah diambil alih. Sebagian dari mereka banting setir ke usaha lain semisal jualan mi ayam, batagor, sate ayam atau jagung bakar, ada pula yang berubah profesi jadi buruh bangunan. Sementara warga masyarakat Bali terutama yang gemar bakso, juga tak menunjukkan reaksi apa-apa. Mereka tidak cukup antusias dengan adanya bakso baru itu, tetapi juga tidak terlalu merasa kehilangan dengan lenyapnya bakso sapi sebelumnya. Warga masyarakat Bali terlalu sibuk dengan pekerjaan yang lebih penting daripada hanya mengurus semangkok bakso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menggelitik, justru pertanyaan sederhana yang sering terlontar dari warga masyarakat bukan penggemar bakso. “Berapa lamakah Bakso Krama Bali itu akan bertahan?” Pertanyaan ini muncul, bukan karena misalnya rasa bakso Bali itu tidak seenak bakso Jawa, bukan karena misalnya pembeli bakso daging babi tidak akan seramai pembeli bakso daging sapi yang dianggap lebih netral di tengah kehidupan warga bangsa yang sangat plural ini, tetapi, sebaik apakah kesiapan mental orang Bali untuk mau turun ke jalan mendorong gerobak bakso?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kenapa selama ini bakso-bakso yang dijual dengan gerobak dorong di jalanan itu selalu dilakukan oleh orang Jawa atau warga dari luar Bali? Jawabannya sederhana, bahwa, warga lokal (orang Bali) memang tidak pernah punya tradisi kehidupan seperti itu. Orang Bali tradisinya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;matekap&lt;/span&gt; ke sawah, mencangkul di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tegal&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngukir&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;megambel&lt;/span&gt;, menari, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngecel&lt;/span&gt; ayam jago, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngelawar&lt;/span&gt;, memasak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;komoh,&lt;/span&gt; memasak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sate lilit&lt;/span&gt;. Sejak dulu tidak terpikirkan oleh warga lokal Bali untuk mendorong gerobak kaki lima di jalan untuk menjual bakso. Kalau pun ada ibu-ibu yang keluar rumah berjualan makanan, mereka lebih suka memasang meja di pinggir jalan, di bawah emper &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bale banjar&lt;/span&gt;, di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jaba pura&lt;/span&gt;, atau membuka warung nasi di tempat-tempat keramaian semacam di arena pertunjukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;drama gong&lt;/span&gt;, di lokasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tajen&lt;/span&gt; dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tradisi itulah warga lokal masyarakat Bali tidak pernah merasa keberatan melihat warga luar Bali yang turun ke jalan-jalan mendorong gerobak bakso, gerobak mi ayam, gerobak gado-gado dan sejenisnya. Warga masyarakat lokal Bali sadar betul bahwa urusan rejeki masing-masing orang punya peluang. Sudah berpuluh-puluh tahun warga lokal Bali menerima dan menikmati kehadiran gerobak bakso warga luar tanpa pernah ada perasaan cemburu, iri, atau takut rejekinya terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika sekonyong-konyong (konon) ada “penolakan” atas kehadiran para pedagang bakso dari luar Bali itu, sebuah pertanyaan yang tak lucu juga menggelitik di benak saya: Apakah Bali sedang bersiap-siap untuk menjual Bakso Fundamentalis? Dan, itu Bali yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1403291789437249795?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1403291789437249795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/bakso-fundamentalis.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1403291789437249795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1403291789437249795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/03/bakso-fundamentalis.html' title='Bakso Fundamentalis'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8217994161125525124</id><published>2009-02-27T14:17:00.005+07:00</published><updated>2009-02-27T14:32:08.081+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERAMBI SENJA'/><title type='text'>Bandit (Obituari)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SaeVeTP5OAI/AAAAAAAAAoA/GNaIyvvwKeY/s1600-h/Bandit.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307375033674971138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 443px; CURSOR: hand; HEIGHT: 312px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SaeVeTP5OAI/AAAAAAAAAoA/GNaIyvvwKeY/s320/Bandit.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;Bandit berdiri di atas tembok kantorku memantau situasi persawahan. (foto: noq)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Cerita ini sudah pernah kuposting setahun lalu di sini. Tetapi entah kenapa hari ini aku kangen sekali dengan dia. Sangat kangen!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MULANYA&lt;/strong&gt; dia anjing kecil yang kubeli seharga Rp. 50.000 dari seorang siswa SMA dari Desa Perancak, sebuah desa nelayan di bagian selatan kota kami. Karena wajah kecilnya yang polos, sedikit tampak pemalu bahkan penakut, membuat aku kuatir akan masa depannya. Maka dia kuberi nama Bandit. Harapanku, setelah dewasa nanti dia punya karakter garang, gesit dan jagoan. Setidaknya dia menjadi jagoan di antara anjing-anjing yang suka berkeliaran di sekitar kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dia kuajak tinggal di kantor, (saat itu aku lebih banyak tinggal di kantor daripada di rumah), maka kami harus membeli makanan siap saji untuk sehari-hari. Kami punya restoran paporit yang tak jauh dari kantor dan buka 24 jam. Dan Bandit pun juga menjadi sahabat seisi kantor serta bagian dari kehidupan kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berumur tiga bulan, Bandit hilang. Aku dan teman-teman di kantor kelimpungan mencarinya. Tiga hari tak ketemu, akhirnya kami putuskan untuk mengumumkannya di koran lokal dan di sebuah radio FM. Seminggu kemudian, seorang warga kota kami datang ke kantor dan mengaku telah membeli Bandit dari sekelompok anak muda. Salah seorang temanku, De’a Yogantara, segera mengecek ke rumah warga tersebut. Benar, ternyata Bandit ada di sana. Dan aku pun harus menebusnya Rp. 100.000. Bandit dibawa pulang ke kantor dalam keadaan depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu waktu beberapa hari untuk mengembalikan keceriaan Bandit. Beruntung aku di kantor juga punya seekor kucing bernama Miomio. Miomiolah yang membantu memulihkan Bandit dari depresi berat pasca hilang itu. Setelah sembuh dari depresi, Bandit mulai memperlihatkan minatnya pada peternakan. Kebetulan di sekitar kantor kami ada persawahan yang cukup luas yang sekaligus menjadi kawasan menggembalakan sapi bagi para petani, maka Bandit setiap sore membantu para petani itu menggembala. Sementara para induk sapi asyik merumput, Bandit menjaga anak-anak sapi agar tidak berkeliaran ke jalan raya yang ada di ujung selatan persawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur enam bulan, Bandit hilang lagi. Tubuhnya yang saat itu sudah terbentuk dan atletis, kekar dan tidak berlemak, membuatku punya pikiran buruk. Aku pikir Bandit hilang karena dicuri para penyuka daging anjing. Aku pikir, Bandit pasti sudah disembelih entah di mana. Pikiran ini membuat aku urung untuk mengumumkannya lagi di media massa. Aku sedih, tetapi memilih tabah dan iklas atas kehilangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas hari pasca menghilangnya Bandit, pagi-pagi buta aku dikejutkan oleh gedoran keras di pintu kantor. Aku yang saat itu tidur di kantor karena malamnya lembur, kaget, dan mengira ada orang mabuk datang. Dengan mata masih ngantuk dan perasaan sedikit takut, tanpa membuka korden jendela terlebih dulu aku buka pintu. Astaga! Alangkah kagetnya aku, ternyata Bandit telah berdiri di depan pintu dengan nafas terengah-engah dan lidah menjulur. Nampaknya dia habis berlari dari tempat yang cukup jauh. Sejenak kami saling pandang. Lalu dia mengangkat kaki depannya. Aku berjongkok dan segera memeluknya. Kami berpelukan. Dan saat itu aku dapati sepotong rantai di leher Bandit. Rupanya selama ini Bandit telah dirantai orang, tetapi dia berhasil memutusnya untuk pulang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan kami di kantor normal kembali. Teman-teman merayakan kembalinya Bandit dengan berpesta Soto Pak Boneng yang terkenal di kota kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, hubungan Bandit dan Miomio kini agak dingin. Bandit terlalu asyik dengan hobi menggembala dan kegemaran barunya yaitu duduk di pinggir jalan raya di depan kantor memperhatikan dari kejauhan Pak Polisi menjaga lalu lintas di perempatan taman depan kantor bupati yang juga tak jauh dari kantor kami. Sedangkan Miomio yang kini juga sudah remaja, mulai terlihat kenes dan “jaga imej”. Miomio kini tidak terlalu suka didekati Bandit. Ini dapat dimengerti, karena kini miomio selalu tampil bersih sementara Bandit selalu berlumpur sepulang dari menggembalakan sapi petani di sawah. Miomio setiap saat memandikan dirinya, sedangkan Bandit paling malas mandi. Bahkan untuk memandikan Bandit, aku harus menjemputnya ke pinggir jalan raya lalu menggendongnya sampai ke kamar mandir. Dan begitu selesai dimandikan dengan sampo khusus, Bandit pun dengan cuek kembali ke sawah, atau ke pinggir jalan raya bergabung dengan anjing-anjing lain yang rata-rata berpenampilan gembel dan urakan. Nampaknya Bandit menjadi ketua geng di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu sore yang cerah, aku merasa heran dengan kelakuan Bandit. Sehari itu mendadak dia betah di rumah (kantor). Wajahnya tampak murung, kesakitan dan agak bingung. Seharian dia tidur di bawah meja komputer di ruang depan kantor kami. Dan anehnya, setiap melihat lalat melintas, Bandit langsung panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku curiga. Maka kupaksa dia bangun. Dan alangkah kagetnya aku, ternyata Bandit ereksi dan penisnya berair. Masalah ini rupanya sudah terjadi sejak sebelum sore bahkan mungkin sejak pagi. Aku periksa penisnya, ya benar, ternyata memang ada masalah serius. Aku segera menelepon dokter hewan yang kukenal di kotaku. Karena hari sudah sore, dokter hewan itu tak bisa datang dan berjanji akan memeriksa Bandit keesokan harinya. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan sepanjang hari hingga malam itu Bandit tak mau makan, tak mau keluar dan tak berdaya. Wajahnya tampak putus asa bercampur malu yang luar biasa. Teman-teman kantor yang mecoba membujuknya, sama sekali tak digubris. Bandit malah masuk ke ruang kerjaku dan bersembunyi di sana sampai keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dokter datang keesokan harinya, di kantor sedang banyak tamu. Jadi aku terpaksa menggendong Bandit keluar untuk dirawat. Menurut dokter, penis Bandit kebablasan dari lubang kulitnya. “Dia sudah remaja, mungkin kemarin dia terlalu bernafsu sampai kebablasan,” ujar dokter itu. Aku manggut-manggut dan pasrah atas tindakan apapun yang harus dilakukan oleh dokter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandit terpaksa diikat. Lalu aku dan kawanku, Kaplur, memeganginya, sementara dokter berusaha memasukkan penis Bandit ke tempatnya semula dengan beberapa alat, dengan pelicin dari sabun mandi. Bandit meronta dan menjerit. Setelah itu Bandit disuntik dengan antibiotik. Pendek cerita, pengobatan Bandit hari itu berjalan sukses. Hanya para tamu yang duduk di ruang tamu kantor kami sempat terbengong-bengong dengan apa yang kami lakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembuh dari masalah ereksi, beberapa minggu kemudian Bandit tiba-tiba pincang parah. Persendian paha kanan belakangnya patah. Ada beberapa dugaan. Mungkin Bandit ditendang anak-anak sapi yang jengkel karena dijaganya terus agar tidak berkeliaran, mungkin disrempet kendaraan bermotor di jalan raya, atau mungkin dipukul oleh oknum-oknum penggemar daging anjing yang acapkali berburu anjing dengan tongkat pengait. Entah dugaan mana yang benar, yang jelas untuk penyembuhannya Bandit perlu waktu empat minggu. Proses penyembuhannya sendiri terbilang ganjil, yakni dibiarkan begitu saja. Karena menurut kawanku yang tukang cincin perak, Aan namanya, Bandit akan sembuh sendiri karena dipijat mahluk halus. Dan memang benar demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa binatang, setidaknya anjing dan kucing, juga punya perasaan dan kesadaran yang sama dengan manusia, aku mempercayai hal ini. Buktinya, Bandit dan Miomio sangat menyukai dan memahami musik. Setiap kami nyetel musik dari komputer maupun minicompo, Bandit dan Miomio ikut asyik menikmatinya dan enggan pergi. Begitu pula bila kami sedang berlatih main musik di kantor, mereka berdua ikut antusias. Dari saat menyiapkan alat-alat sampai latihan selesai, mereka tak beranjak. Bahkan Miomio tanpa malu-malu naik ke pangkuanku saat aku main gitar. Di pangkuanku, kucing betina nan kenes itu tertidur sampai aku dan teman-teman selesai latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itulah sebuah kenangan. Kini Bandit telah hilang lagi (setahun lalu). Sampai aku dan teman-teman pindah kantor ke gedung yang baru, Bandit tak pernah pulang. Dan sampai hari ini, apabila aku lewat di depan bekas kantor kami yang lama, aku tetap berharap Bandit muncul untuk kami ajak pulang…&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Awal 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8217994161125525124?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8217994161125525124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/bandit-obituari.html#comment-form' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8217994161125525124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8217994161125525124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/bandit-obituari.html' title='Bandit (Obituari)'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SaeVeTP5OAI/AAAAAAAAAoA/GNaIyvvwKeY/s72-c/Bandit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-2422038313865210350</id><published>2009-02-24T13:27:00.002+07:00</published><updated>2009-02-24T13:35:09.207+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Dongeng</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;“CERITAKAN&lt;/strong&gt; padaku sebuah dongeng. Apa saja,” demikian pesan pendek itu tertulis dalam layar handphone-ku. Di bagian atas pesan itu tertera nama seorang gadis remaja yang belum lama ini aku kenal di suatu tempat di kotaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang berhujan. Daun-daun riuh oleh tikaman air yang lebih meniru rupa jutaan lidi-lidi tajam yang dihempaskan begitu saja dari langit. Lensa kaca mataku tiba-tiba terasa perlu digosok. Stasiun Kereta Api Gubeng – Surabaya, di mana aku menunggu sebuah kereta berangkat ke Banyuwangi kemudian akan menyambungkan perjalananku ke Bali dengan bus milik perusahaan kereta itu juga, mendadak jadi sesuatu yang serba kelam, tua dan seperti telah lama sekali ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Aku tak segera menanggapi pesan pendek itu. Dalam gemuruh hujan yang kian deras, aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan saat aku mengenalnya pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SETELAH&lt;/strong&gt; merangkai kembali kepingan-kepingan kenangan perkenalan dan perjumpaan kami yang hanya beberapa kali selama ini, aku masih bertanya-tanya sendiri, penasaran. Apa maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Adakah ia pikir aku selama ini tukang dongeng? Ataukah dia sedang menyindir bahwa apa-apa yang aku kerjakan sebagai penulis lepas selama ini hanya dongeng? Aku jadi gelisah. Kalau demikian, berarti aku harus bertemu dengannya, menjelaskan bahwa semua yang menjadi tulisan-tulisanku di koran itu fakta adanya. Sama sekali bukan dongeng. Bahwa, aku bukan pendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tiba-tiba dia memintaku mendongeng. Jangan-jangan dia serius dan memang ingin sekali didongengi. Tapi kenapa dia menyuruhku dan bukan orang lain? O, mungkin dia tidak punya orang lain. Setidak-tidaknya, mungkin dia tak punya kakak atau ibu atau nenek yang bisa mendongeng untuk dirinya. Baiklah, aku siapkan sebuah dongeng. Di dalam kapal saat suatu kali menyeberang di selat Bali, aku pernah membeli sebuah buku dongeng. Aku masih ingat beberapa dongeng di dalamnya dan bisa saja aku ceritakan pada gadis remaja itu sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu! Jangan-jangan dia benar-benar sedang menyindirku. Dengan kata yang lebih kasar, sesungguhnya dia berkata bahwa apa yang kukerjakan selama ini yang kemudian kusebut sebagai esai, opini dan sebagainya itu baginya tidak lebih sebagai sebuah dongeng pengantar tidur. Sialan, aku tersinggung. Aku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, memang adakah yang bukan dongeng di dunia ini? Apakah yang sesungguhnya bukan dongeng?” Seorang perempuan tua di sebelahku – yang sama-sama menunggu kereta berangkat – yang dengan terpaksa aku tanyai dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, balik bertanya.&lt;br /&gt;“Tentu saja banyak, Bu,” jawabku hormat.&lt;br /&gt;“Apa misalnya?”&lt;br /&gt;“Hm, banyak. Banyak sekali. Misalnya...,” entah kenapa aku tiba-tiba lambat sekali berpikir.&lt;br /&gt;“Ayo, apa yang bukan dongeng? Demokrasikah? Pemerintahkah? Ataukah barangkali rakyat macam kita yang bukan dongeng?”&lt;br /&gt;“Astaga, Bu! Saya, saya hanya....”&lt;br /&gt;“Sebentar! Saya juga mau tanya kepada sampean, apa yang bukan dongeng?” Perempuan tua itu bertambah ngotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai merasa &lt;em&gt;njelimet&lt;/em&gt;. Hanya gara-gara bertanya dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, seorang perempuan tua bahkan tiba-tiba menjadi begitu marah. Maka aku diam. Aku biarkan entah apa lagi yang dikatakan perempuan tua di sebelahku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat berbagai berita buruk yang aku tulis dan juga ditulis teman-temanku sesama wartawan di berbagai media massa. Ada yang menulis berbagai bencana, soal kemiskinan, ketidakadilan, soal korupsi di berbagai instansi, manipulasi besar-besaran di berbagai bank dan di berbagai sumber keuangan milik negara. Adakah berita-berita mereka itu telah bisa memperbaiki atau setidaknya merubah keadaan menjadi lebih baik? Ada juga yang menulis soal berbagai pembunuhan di berbagai tempat. Apa pula maksudnya? Adakah laporan-laporan mereka itu untuk membuat orang-orang menjadi ngeri dan menyadari bahwa pembantaian itu adalah sesuatu yang keji dan tak manusiawi? Tetapi kenapa setiap keesokan harinya masih saja ada pembunuhan dan pembantaian-pembantaian baru yang kembali ditulis dan diberitakan? Bahkan, kenapa dalam sebuah bangsa terus saja ada pembantaian satu sama lain yang tak kunjung henti? Kenapa sebuah bangsa bisa saling bantai dan saling melenyapkan satu sama lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin jelimet. Kalau begini terus aku bisa mampus sendiri di tengah-tengah tertawaan orang yang melihat aku sebagai binatang aneh dengan sesuatu yang keluar menjulur-julur dari kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, baiklah adik, aku dongengkan saja untukmu sesuatu yang paling sederhana: cinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kereta api berangkat. Maka dalam kereta yang bergemuruh merangkaki malam itu aku pun mendongengkan sebuah cinta. Aku terus mendongeng, sampai gadis remaja itu benar-benar terlelap di sebuah kamar, entah di mana.***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Surabaya – Bali, suatu malam&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-2422038313865210350?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/2422038313865210350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/dongeng.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2422038313865210350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2422038313865210350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/dongeng.html' title='Dongeng'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-9011727239372769800</id><published>2009-02-17T13:18:00.001+07:00</published><updated>2009-02-17T13:20:14.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Sebuah Pertanyaan untuk Para Calon Presiden RI</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, sejak Republik ini merdeka, seluruh rakyat Indonesia memiliki satu tujuan yakni meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Demikian pula dengan pemerintah, bahwa setiap pemerintahan yang berkuasa di negeri ini memiliki tujuan yang sama yakni meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, berarti sejak dulu hingga sekarang rakyat dan pemerintah Indonesia telah memiliki tujuan yang sama, yakni peningkatan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya, &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;kenapa sampai saat ini kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia itu tidak juga terwujud padahal hal itu merupakan tujuan bersama antara rakyat dan pemerintah?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong beri saya sebuah jawaban yang pasti, bukan sekedar janji, bukan sekedar visi dan misi, bukan sekedar ilusi! Terima kasih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hormat saya,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;NANOQ DA KANSAS&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-9011727239372769800?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/9011727239372769800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/sebuah-pertanyaan-untuk-para-calon.html#comment-form' title='18 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/9011727239372769800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/9011727239372769800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/sebuah-pertanyaan-untuk-para-calon.html' title='Sebuah Pertanyaan untuk Para Calon Presiden RI'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5551269247450793390</id><published>2009-02-12T09:49:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T09:52:36.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Sulitnya Penghargaan untuk Kesempatan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Salah satu kambing hitam dari pengangguran adalah karena tidak adanya kesempatan. Bahwa seseorang, bahwa beribu-ribu orang, sama sekali tidak punya kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya ke dalam sebuah aktifitas bernama pekerjaan. Bahwa seseorang atau ribuan orang tidak mendapat kesempatan untuk menjalankan profesi, keahlian, kebisaan, skill-nya untuk menghasilkan sesuatu buat biaya menghidupi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketiadaan kesempatan itu pun lantas menjadi alasan seseorang atau ribuan orang untuk menjadi apatis, membunuh daya hidupnya sendiri, untuk akhirnya menjadi orang mati ketika jiwa dan raganya masih hidup, ketika jiwanya tetap meminta fasilitas kesenangan, ketika raganya tetap meminta fasilitas pakaian, makanan, rumah, kendaraan, pacar, istri dan seterusnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan memang sulit. Apalagi kesempatan yang diharapkan dari pihak lain. Syaratnya bermacam-macam dan pasti dibuat-buat. Untuk bisa mendapat kesempatan menjadi buruh angkut karung di pasar saja ada syaratnya, setidaknya badannya kekar. Untuk mendapat kesempatan menjadi guru, syaratnya harus bersekolah guru, punya ijasah, punya titel yang sesuai dengan profesi guru. Untuk punya kesempatan menjadi dokter, orang harus bersekolah bertahun-tahun, keluar banyak biaya dan otaknya encer. Untuk punya kesempatan menjadi polisi, orang harus punya fisik dan mental yang sempurna dan juga uang yang banyak. Untuk punya kesempatan menjadi petani, orang harus bisa mencangkul, tahu nama-nama tanaman, tahu musim, tahu jenis tanah, tahu obat pembasmi hama, dan lebih baik lagi kalau punya kebun atau sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini bertele-tele. Saya juga telah sering bertemu dengan orang-orang yang tak pernah mengeluh soal kesempatan. Mereka ada yang putus sekolah, ada pula yang punya ijasah bahkan sarjana, ada yang muda, ada yang tua. Saya bertemu mereka pada kesempatan-kesempatan dan tempat berbeda. Ada yang saya temui pagi-pagi di jalanan sedang membersihkan jalanan kota. Ada yang saya temui di tempat penampungan sampah di halaman belakang kantor saya sedang memilah-milah sampah, mencari benda-benda plastik atau kertas untuk dijualnya. Ada yang saya temui sore-sore di taman sedang mendorong gerobak rujak atau mengayuh gerobak bakso. Ada yang saya temui di perkampungan penduduk sedang menjadi kuli kasar bangunan. Ada yang saya temui di pusat-pusat perbelanjaan sedang menyodor-nyodorkan berbagai brosur suatu produk kepada siapa saja yang lewat. Ada yang saya temui di sebuah ujung jembatan kota sedang menjual mainan anak-anak yang semuanya dia buat sendiri dari barang-barang bekas. Ada yang saya temui malam-malam di perempatan pinggir kota sedang mengojek. Banyak lagi. Banyak lagi yang saya temui dengan berbagai profesi sederhana tanpa mereka pernah mengeluh kepada saya tentang sulitnya kesempatan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, di berbagai kantor resmi, kantor pemerintah maupun kantor suasta, saya melihat banyak sekali juga orang-orang yang sudah diberi kesempatan. Mereka mendapat kesempatan untuk belajar dan bekerja serta digaji. Tetapi apa yang terjadi? Bertahun-tahun saya melihat fakta bahwa mereka yang telah diberi kesempatan itu ternyata tidak mempergunakannya dengan baik. Pada kesempatan yang telah diberikan kepada mereka, mereka justru kehilangan penghargaan kepada kesempatan itu sendiri. Ada komputer nganggur misalnya, bukannya mereka pergunakan untuk belajar memperdalam sesuatu yang produktif lewat komputer, tetapi mereka habiskan jam-jam dengan bermain game. Kalau tidak bermain, mereka cuekin itu komputer, lalu bergerombol di sudut ruangan sambil ngerumpi tentang hal-hal yang sama sekali tidak berguna bagi kemajuan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu saya melihat, orang-orang yang sudah mendapat kesempatan justru melecehkan kesempatan itu. Bahkan untuk sedikit merapikan kantor atau ruangan tempat mereka bekerja saja mereka enggan. Harus digetok dulu, baru bergerak. Maka saya berpikir, kesempatan yang diberikan kepada mereka-mereka itu harusnya dicabut saja, lalu berikan kepada mereka yang belum pernah mendapatkannya. Begitu seterusnya!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5551269247450793390?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5551269247450793390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/sulitnya-penghargaan-untuk-kesempatan.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5551269247450793390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5551269247450793390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/sulitnya-penghargaan-untuk-kesempatan.html' title='Sulitnya Penghargaan untuk Kesempatan'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1017654828339547836</id><published>2009-02-04T13:54:00.001+07:00</published><updated>2009-02-04T13:59:02.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Maaf, Saya Cuma Mimpi!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanpa sebab yang jelas, seorang gadis remaja telah memimpikan saya mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sebab yang jelas pula, sebelum kokok ayam jago tuntas menyambut subuh, mimpi gadis remaja tentang kematian saya itu telah menyebar ke seluruh kampung, lalu menyebar ke seluruh wilayah kota kecil kami. Maka seluruh mimpi di kota kecil itu pun menyeragamkan temanya menjadi hanya soal kematian saya. Kendati jalan ceritanya tidak persis sama, tetapi sekali lagi, mimpi di kota kecil itu benar-benar cuma satu tema: tentang kematian saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mimpi yang menceritakan bahwa saya mati muda karena sakit yang tidak bisa diobati baik oleh dokter maupun dukun. Ada mimpi yang bercerita saya mati karena ditembak oleh entah siapa karena saya terlibat dalam suatu huru-hara. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena kecelakaan lalu lintas. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena diracun oleh entah siapa pula. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena bunuh diri. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena tenggelam di laut saat menumpang sebuah kapal. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena memang sudah tua dan sudah saatnya mati. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena cinta. Ada mimpi yang menceritakan si pemimpi itu sendiri sedang membunuh saya. Ada mimpi yang menceritakan saya mati karena dibunuh oleh mimpi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari di saat jam-jam orang-orang bekerja, kantor-kantor, pasar, sekolah, rumah sakit, tempat-tempat ibadah, tempat-tempat kemaksiatan hingga ke kuburan-kuburan pun dipenuhi oleh obrolan dan cerita mimpi tentang kematian saya. Kendati tidak terlalu mengganggu aktifitas maupun rutinitas masing-masing, setiap orang dengan berapi-api mereferentasikan mimpinya secara sabar dan bergantian sesuai giliran. Dan saking banyaknya yang harus bercerita, siang itu tak ada yang mempergunakan jam istirahat dan jam makan siangnya di luar lingkungan kerjanya masing-masing. Sambil terus saling menceritakan mimpinya tentang kematian saya, setiap orang beristirahat sekaligus makan siang di tempat kerjanya masing-masing. Pokoknya, udara siang itu menjadi hanya dipenuhi oleh satu jenis gema suara: cerita mimpi tentang kematian saya dengan berbagai versinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sore harinya, ketika orang-orang tak sengaja bertemu saya di persimpangan jalan pusat kota yang ada trafick light-nya, mereka langsung menyetop saya. Tanpa peduli perbuatan mereka telah memacetkan lalu lintas, mereka mengerubungi saya di bawah lampu pengatur lalu lintas itu. Tanpa sengaja mereka membuat lingkaran dan menempatkan saya persis di tengah-tengahnya. Lalu mereka bertubi-tubi dan serempak menanyai saya tentang kematian saya yang sesungguhnya. Mereka serempak membuka mulut, bicara, bercerita, mencocokkan mimpi masing-masing, lalu bertanya mana yang paling benar atau setidaknya mendekati kebenaran. Suara mereka jadi baur dan geremeng memenuhi udara. Saya terkesima memandang mereka, sekaligus kebingungan untuk menjawab. Saya berdiri terpana lama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, karena terus terang saja kami tak begitu percaya oleh mimpi-mimpi itu, jadi karena kebetulan kita bertemu di sini, kami ingin mengkonfirmasi mengenai kematian anda yang sebenarnya,” demikian kemudian seorang bapak yang berpakaian safari dan memakai pin tanda jabatan wakil rakyat, berbicara mewakili yang lainnya dengan sopan dan hati-hati sekali, setelah dalam waktu yang lama melihat saya tak bisa menjawab.&lt;br /&gt;“Maaf, sebenarnya maksud anda semua ini apa?” saya bertanya.&lt;br /&gt;“Kalau bisa dan kalau boleh, kami hanya ingin tahu kejadian yang sebenarnya. Bukan yang seperti diceritakan mimpi-mimpi kami itu,” lanjut bapak itu.&lt;br /&gt;“Maaf, kejadian mengenai saya yang mana?”&lt;br /&gt;“Kejadian sebenarnya tentang kematian anda!”&lt;br /&gt;“Maaf, anda telah membuat lalu lintas di sini macet total. Kenapa anda semua tidak menghubungi saya lewat telepon saja?”&lt;br /&gt;“Oh, ya ya! Ah, kami lupa. Jadi kami akan menghubungi anda lewat telepon saja,” sahut bapak itu cepat dan langsung disetujui oleh yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun langsung membubarkan diri. Kemacetan lalu lintas perlahan cair kembali, karena kini mereka tak lagi numplek di tengah perempatan tetapi memilih menyebar di sepanjang trotoar, di sepanjang emper toko, di bawah-bawah pohon peneduh yang sayangnya sudah tidak seteduh awalnya lagi. Di sana mereka serempak memencet sederet nomor pada telepon genggamnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maaf, jurusan yang anda tuju sedang sibuk…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena selalu dijawab mesin dengan: maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk tersebut, orang-orang sekota kecil itu pun menjadi kesal dan marah. Mereka jadi kehilangan kesabaran. Mula-mula mereka mengomel, menggerutu, ngedumel, memaki atau mengumpat para profider telepon seluler yang dalam setiap iklannya di televisi selalu menjanjikan sinyal yang kuat serta berbagai kemudahan dan kemurahan fasilitas tetapi dalam kenyataannya bohong belaka, akhirnya mereka serempak membanting telepon-telepon genggamnya. Ada suara benturan dengan: tembok-tembok, trotoar, aspal, kaca jendela, daun pintu, batu-batu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini mereka kembali ke dalam mimpi-mimpinya! Barangkali mula-mula hanya untuk melupakan kekesalan. Tetapi bertambah lama mereka justru kian asyik dan tenggelam. Dan karena keasyikan, mereka pun akhirnya melakukan segala sesuatu dengan mimpi-mimpi yang setiap saat dapat mereka atur sesuai selera masing-masing. Dengan mimpi-mimpi yang bisa diatur sedemikian rupa itu, kini mereka bebas memperlakukan dirinya sendiri dalam impian nan tak terbatas. Entah mereka mau membunuh orang lain, mau menghidupkan orang yang sudah mati, mau menjadi kaya, mau menjadi penguasa, mau menjadi atau mau membasmi teroris, mau menjadi pemberontak, mau menjadi pahlawan, mau menjadi orang suci, mau kembali muda, mau melengserkan pemimpin, mau bermain cinta dengan siapa saja, mau menjadi mimpi itu sendiri, kini mereka bebas sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, di tengah-tengah eforia mimpi-mimpi itu, ternyata mimpi mereka tentang kematian saya itu malah lenyap begitu saja. Lenyap dari ingatan mereka, lenyap dari kepedulian mereka. Ini bahaya! Saya harus mengingatkan mereka! Maka saya mengambil telepon. Memencet sederet nomor…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maaf, nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;negara, suatu hari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1017654828339547836?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1017654828339547836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/maaf-saya-cuma-mimpi.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1017654828339547836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1017654828339547836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/02/maaf-saya-cuma-mimpi.html' title='Maaf, Saya Cuma Mimpi!'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5206673470146653627</id><published>2009-01-23T09:07:00.000+07:00</published><updated>2009-01-23T09:09:31.684+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NARASI'/><title type='text'>Siapakah Aku?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Namaku Saraswati. Kenapa bukan Saraswita?” tanya gadis remaja itu kepada kekasihnya. Sang Kekasih – dengan huruf kapital – tak bergeming. Ia berada jauh di sebuah negeri yang tak pernah dewasa. Negeri dengan sebuah kebebasan yang tak pernah dipahami. Negeri dengan sopan-santun yang tak pernah lebih dari sebuah basa-basi. Sebuah negeri yang selalu riuh sendiri dalam peta dengan bagian-bagian tertentu yang selalu terbakar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saraswati aku. Kenapa bukan Saraswita atau yang lain? Kenapa kamu adalah dirimu dan bukan orang lain misalnya?” gadis itu kembali bertanya. Sebuah negeri, tetap dalam keriuhannya. Sebuah negeri, jangan-jangan tak pernah peduli akan ada seseorang yang bertanya begitu. Sebuah negeri, jangan-jangan tak pernah tahu ada seseorang yang bernama Saraswati. Dan, apa sih pentingnya sebuah pertanyaan “siapa aku” bagi kelangsungan sebuah negeri yang berpenduduk dua ratus juta lebih misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah gadis remaja itu telah sedang mengadakan sekaligus meniadakan dirinya sendiri? Aku teringat sebuah novel “Dunia Shopie”. Sebuah novel filsafat yang dimulai dengan sebuah pertanyaan: Siapakah kamu? Aku teringat berbagai ulasan pilsafat dan bahkan agama dengan pertanyaan yang sama. Aku teringat, pertanyaan itu tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Aku teringat, pertanyaan itu telah pernah dilontarkan Arjuna kepada Sri Kresna ribuan tahun lampau di tengah kecamuk perang di Kurusetra. Aku teringat, diriku yang tak akan pernah tiba pada sebuah jawaban pun untuk pertanyaan yang sederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menimang-nimang pikiran sendiri. Siapakah aku? Siapakah aku ketika ditanyai seperti itu oleh seseorang? Siapakah aku saat ditunggu oleh orang-orang keluar dari gerbang garba ibuku? Adakah saat itu aku memang ditunggu? Lalu siapakah aku kecuali sesuatu berwarna merah saga yang langsung menjerit menangis tanpa sebab begitu lepas dari plasenta itu. Siapakah aku kecuali sesuatu yang kemudian disebut anak oleh kedua orang tuaku, disebut cucu oleh kakek dan nenekku, disebut keponakan oleh paman dan bibiku. Siapakah aku kecuali sesuatu yang berangkat tumbuh dengan segala sesuatu yang juga tumbuh bergerak di sekitarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk sekolah, siapakah aku kecuali sesuatu yang selalu menangis diganggu teman-teman yang merasa punya kuasa menggangguku. Siapakah aku keculai sesuatu yang terbata mengeja hurup demi hurup, angka demi angka hingga tanda baca-tanda baca yang kian rumit itu. Siapakah aku kecuali yang harus bangun pagi-pagi, mandi dan berpakaian seragam, berjalan menyusuri jalanan tanah tanpa alas kaki lalu di halaman sekolah harus mengucapkan selamat pagi kepada setiap bapak - ibu guru yang kutemui. Siapakah aku kecuali yang wajib menerima hukuman bila pekerjaan rumahku tak sempat aku selesaikan semalam karena menonton wayang di kampung sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika remaja, siapakah aku kecuali sesuatu yang dikirim orang tuaku dari kampung ke kota untuk mencari sebuah sekolah yang ternyata tak pernah kukenal dengan baik hingga tak pernah kucintai dan akhirnya kutinggalkan. Siapakah aku kecuali sesuatu yang mulai jatuh cinta pada teman sekelas yang selalu berpakaian rapi dan sering menolongku saat diejek teman-teman yang merasa sebagai anak kota. Siapakah aku kecuali sesuatu yang mulai menulis dan mengirim puisi diam-diam di lipatan buku pelajaran Bahasa Indonesia lalu menunggu balasannya dengan tubuh dan jantung gemetaran sepanjang siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah aku ketika jalanan dan dunia malam akhirnya menjadi rumahku. Siapakah aku kecuali sesuatu yang sebaiknya dihindari oleh anak-anak lain karena dilarang orang tuanya yang takut anak-anak mereka meniru aku merokok, membiarkan rambutku tumbuh memanjang dan semakin betah memanggil bintang-gemintang. Siapakah aku kecuali sesuatu yang jatuh cinta berkali-kali kepada siapa saja yang kutemui dan jatuh tersungkur berkali-kali dari cinta siapa saja yang kutemui. Siapakah aku kecuali sesuatu yang penuh percaya diri menulis berita-berita, mengabarkan pada dunia sesuatu yang jangan-jangan tak dibutuhkan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, siapakah aku kecuali sesuatu yang bertanya siapakah aku. Sesuatu yang ditanyai oleh kekasihnya siapakah aku. “Namaku Saraswati. Kenapa bukan Saraswita atau yang lainnya?” Gadis remaja itu terus bertanya kepada kekasihnya. Sebuah negeri jangan-jangan tak sempat mendengar pertanyaan itu. Sebuah negeri terus bergerak melahirkan sesuatu yang juga terus bertanya: siapakah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5206673470146653627?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5206673470146653627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/siapakah-aku.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5206673470146653627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5206673470146653627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/siapakah-aku.html' title='Siapakah Aku?'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4390864387027201427</id><published>2009-01-19T13:27:00.001+07:00</published><updated>2009-01-19T13:30:33.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>kereta yang tak pernah sampai</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;kepada yang disebut wakil rakyat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di gerbong yang tak pernah kami naiki&lt;br /&gt;kalian mempercakapkan nasib kami&lt;br /&gt;menghitung-hitung kecukupan hari ini&lt;br /&gt;yang selalu berhenti pada sepiring nasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahkan kalian sering lupa&lt;br /&gt;mencatatkan sepotong daging bagi kami&lt;br /&gt;karena ada agenda yang lebih penting&lt;br /&gt;: kemana kalian akan bersantap malam&lt;br /&gt;setelah pertemuan singkat ini&lt;br /&gt;dicatat oleh wartawan infotainment&lt;br /&gt;untuk ditonton para babu di rumah&lt;br /&gt;malam nanti sambil meladeni nyonya&lt;br /&gt;yang selalu risau kelebihan kolesterol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya, di gerbong yang sesungguhnya tak pernah&lt;br /&gt;kami naiki,&lt;br /&gt;kalian selalu jadi pahlawan&lt;br /&gt;memperbincangkan hidup kami di pelosok&lt;br /&gt;memperbincangkan hidup kami di pinggiran kota&lt;br /&gt;lalu kalian perintahkan untuk diketik di laptop mahal&lt;br /&gt;kepada sekretaris cantik berkuku panjang&lt;br /&gt;sehingga jarinya sering terpleset menekan hurup-hurup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di stasiun yang juga tak pernah menerima kedatangan kami&lt;br /&gt;masinis yang peragu dan di bawah tekanan&lt;br /&gt;serta selalu takut kehilangan kuasa,&lt;br /&gt;mengirim para kondektur menemui kalian&lt;br /&gt;yang telah tersenyum di ruang tunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalian pun kemudian berbagi komisi&lt;br /&gt;amplop putih atas jasa memperjuangkan sepiring nasi kami&lt;br /&gt;amplop merah bagi pengamanan kekuasaan masinis&lt;br /&gt;amplop biru pengganti bensin mobil dan jamuan malam&lt;br /&gt;amplop kuning untuk bayar infotainment&lt;br /&gt;amplop abu-abu untuk keperluan tak terduga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara itu kalian tak sempat menduga&lt;br /&gt;kami di pelosok semakin terpuruk&lt;br /&gt;oleh ketakjuban berita-berita yang dijual kapitalis&lt;br /&gt;: semua tentang kalian di gerbong sana&lt;br /&gt;gerbong yang tak pernah kami naiki&lt;br /&gt;gerbong yang tak pernah membawa kami&lt;br /&gt;tiba di stasiun perbincangan kalian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dusun senja, setelah nonton televisi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4390864387027201427?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4390864387027201427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/kereta-yang-tak-pernah-sampai.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4390864387027201427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4390864387027201427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/kereta-yang-tak-pernah-sampai.html' title='kereta yang tak pernah sampai'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1301064594456318332</id><published>2009-01-15T14:43:00.003+07:00</published><updated>2009-01-15T14:51:03.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Israel - Palestina</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Tuhan Yang Maha Tahu dan Sepotong-sepotong yang Saya Tahu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada beberapa teman, baik secara langsung maupun tidak, menghubungi dan meminta saya untuk membuat “sekedar pendapat” soal perang Israel dan Palestina di Gaza. Ada yang mengajak agar pendapat saya tersebut memihak kepada Palestina, ada yang mengajak membela Israel, ada pula yang mengajak saya berada di tengah-tengah tetapi secara tegas agar saya menolak perang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya risau. Jangankan untuk terlibat dengan perang Israel-Palestina yang begitu jauhnya dari dusun dan negara saya, bahkan untuk prosesi politik di negeri sendiri saja saya memilih menjadi golput karena berulangkali sudah merasa kecewa atas semua perlakuan politik itu sendiri terhadap dusun, negara, tetangga dan seluruh warga di negeri demokratis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin berpendapat apa-apa atas drama yang selama ini dipertontonkan oleh Israel dan Palestina, karena saya tak ingin sok-sokan membicarakan atau pun membawa suatu kebenaran apapun bagi siapapun juga. Sementara apa yang diperbuat oleh Israel dan Palestina selama ini, sampai detik ini, adalah konon soal kebenaran. Mereka saling bersikukuh dengan kebenaran masing-masing, meskipun ironisnya, kebenaran yang diyakini Palestina sampai detik ini justru telah menghilangkan begitu banyak nyawa warganya sendiri yang konon mereka perjuangkan. Dan demikian pula sebaliknya Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah muskilnya bagi saya untuk ikut mencampuri apapun di Israel maupun Palestina, karena mereka sama-sama berdiri di atas kebenaran masing-masing. Jangankan saya sendiri, Perserikatan Bangsa-Bangsa, para presiden dan para raja di dunia, para pemuka agama seluruh dunia dan mungkin Tuhan saja tak bisa meredam nafsu berkelahi di kedua negeri ini. Sebab kalau saja Tuhan dengan ke-Maha Kuasa-anNya bisa mencampuri urusan mereka, pastilah keduabelah pihak yang sama-sama golongan manusia itu sudah sejak lama nyadar dan berhenti berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak ingin terprovokasi. Karena kebenaran yang diusung oleh kedua pemain drama ini adalah provokasi. Keduabelah pihak sama-sama provokator untuk timbulnya perselisihan di dunia, di muka bumi ini. Separuh abad 20 yang lalu hingga di fajar abad 21 yang diharapkan lebih baik ini, telah dihabiskan oleh Isreal dan Palestina untuk memprovokasi umat manusia di dunia agar berselisih pendapat bahkan ikut berkelahi satu sama lain. Sementara itu mereka tetap saja enak-enakan bermain drama perang-perangan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mereka memang hidup enak-enakan dengan dukungan biaya yang luar biasa entah dari mana saja. Coba kalau tidak enak-enakan dan merasa enak, pasti sudah lama mereka berhenti berperang. Perang, bagi Israel dan Palestina akhirnya adalah sebuah cara hidup, sebuah way of life yang mereka pilih agar tetap eksis di bumi sembari menikmati uang berlimpah yang mereka dapatkan dari para sponsor masing-masing. Coba saja lihat, bertahun-tahun bertikai, toh mereka tetap saja gemuk-gemuk dengan fasilitas yang 1000000 kali lebih baik dibandingkan warga korban lumpur Sidoarjo, dibandingkan para gepeng di pinggiran metropolitan Jakarta, dibandingkan warga pedalaman Papua, dibandingkan para petani di seantero pedesaan Pulau Jawa atau NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dibandingkan dengan negara Indonesia, Palestina juga jauh lebih sejahtera. Indonesia sampai hari ini masih berkutat dengan masalah kelangkaan energi, berkutat dengan harga sembako yang tak terjangkau, berkutat dengan anak-anak putus sekolah, berkutat dengan warga miskin nan tak kunjung habis, mereka (Palestina) dengan enteng bisa membeli bedil, granat, bom, rudal, mortir, tank, dsb dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Israel, wah, tidak usahlah dihitung-hitung bagaimana sejahteranya hidup mereka, sehingga dengan enteng bisa membuang-buang duit negara buat beli pesawat tempur super canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana saya tidak mengatakan mereka Palestina dan Israel atau Israel dan Palestina, bermain drama? Semua yang mereka lakukan di situ adalah &lt;em&gt;ngguyu&lt;/em&gt;. Adalah guyonan tak berujung yang mereka lakukan dengan penuh kecengengan. Israel ceritanya adalah aktor yang mendapat bagian memerankan karakter kasar, sementara Palestina ceritanya mendapat bagian untuk memerankan karakter tertindas yang harus bisa mengeluarkan air mata palsu. Begitulah keduanya bermain, di panggung yang mereka seting sedemikian rupa, agar tetap bisa mempermainkan perasaan para penonton di seantero dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka asyik di sana. Sebab kalau tidak asyik, sudah dari dulu mereka berhenti. Terutama bagi aktor yang bernama HAMAS di Palestina, kalau saja mereka misalnya benar-benar dan serius ingin berperang secara jantan melawan Israel, tentulah akan memilih lokasi perang yang jauh dari kawasan tempat tinggal warga sipil. Mereka akan segera menarik diri ke tempat yang netral dari penduduk, untuk berkelahi atau kalau bisa, menghabisi Israel. Atau, apa sih susahnya jika misalnya warga sipil, kaum perempuan, nenek-nenek, kakek-kakek dan anak-anak Palestina mengusir para tentara Hamas agar membuat medan perang yang jauh dari rumah mereka. Bandingkan dengan perang grilya Pemuda Pejuang Kemerdekaan Indonesia dulu saat menghadapi tentara NICA. Para Pemuda saat itu berperang sampai titik darah penghabisan tanpa melibatkan penduduk sipil dan menjauh dari kawanan tempat tinggal warga sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika seandainya warga sipil Palestina benar-benar hendak terlibat mendukung Hamas, mereka seharusnya mencontoh warga sipil di Kerajaan Kelungkung atau Kerajaan Badung (Bali) ketika dulu menghadapi tentara VOC. Mereka dengan sadar menghadapi situasi dan resiko perang dengan segala konsekwensinya. Bahkan ketika benar-benar terdesak, mereka seluruh warga sipil, dari anak-anak, perempuan hingga kakek-nenek akhirnya kompak dan serempak maju menghadapi tentara VOC dengan melakukan &lt;em&gt;puputan&lt;/em&gt; (perang habis-habisan) dengan senjata apa adanya sampai mati tak tersisa. Semua dilakukan tanpa tangis, tanpa kecengengan, tanpa menghiba-hiba perhatian atau belas kasihan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, jika misalnya Israel itu memang benar-benar merupakan komunitas keterlaluan di dunia, apa sih susahnya jika misalnya seluruh dunia serempak menghukumnya, mengucilkannya, dst. Atau apa sih susahnya jika seluruh negara-negara Arab, Mesir, Iran dan yang lainnya kompak membantu Palestina menggempur dan melenyapkan Israel?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini adalah &lt;em&gt;ngguyu!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya tidak punya pendapat apa-apa. Saya tidak mau terprovokasi dengan pura-pura membela atau menyalahkan salah satunya. Terutama saya tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi di sana hampir sepanjang abad ini. Saya selama ini hanya mendengar sepotong-sepotong. Tuhan Yang Maha Tahu saja tidak mau ikut campur dan membiarkan drama ini terus terjadi!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1301064594456318332?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1301064594456318332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/israel-palestina.html#comment-form' title='19 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1301064594456318332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1301064594456318332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/israel-palestina.html' title='Israel - Palestina'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8210196810574548556</id><published>2009-01-10T11:41:00.001+07:00</published><updated>2009-01-10T11:43:46.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Siap untuk Apapun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa bulan lalu, pada sebuah obrolan dalam mobil dari Denpasar menuju Negara, seorang teman yang akan berangkat ke Prancis mengaku kuatir dengan jarak yang akan ditempuhnya. “Belasan jam dalam pesawat. Dan saat itu tak sesuatu pun dapat menjamin keselamatan kita. Misalnya jika tiba-tiba mesin pesawat mati, atau tiba-tiba pesawat jatuh karena kerusakan-kerusakan fatal lainnya, maka...,” teman itu tak melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sepanjang perjalanan sore itu pun kami sama-sama diam. Entah mengapa, tiba-tiba kami baru sadar bahwa hidup ini, nafas di badan ini, bisa saja tiba-tiba lenyap. Bahwa hidup yang konon hanya sebagai pinjaman ini, bisa saja setiap saat ditagih kembali oleh yang meminjamkannya. Celakanya, yang punya hidup ini lebih sering menagih pinjamannya tanpa basa-basi atau pemberitahuan lebih dulu. Maka, kadang-kadang, dengan pikiran sederhana, kami jadi berpikir bahwa sebenarnya yang punya dan menguasai hidup ini “agak kurang demokratis” dan “agak tidak mengenal kompromi”. Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Bahwa hidup toh hanya barang pinjaman. Barangkali saat meminjamnya dulu kami sebenarnya telah meneken janji atau kontrak atau prosedur bahwa cara penagihannya nanti bisa dengan cara apa saja dan kapan saja. Sayangnya, mungkin karena telah keenakan hidup, kami lupa begitu saja janji, kontrak atau prosedur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman itu jadi pergi ke Prancis. Dan saya tidak mendengar ada sebuah kecelakaan pesawat pun. Begitu pula ketika dia tiba-tiba menelepon bahwa dirinya sudah kembali dan tiba di rumahnya di Jakarta dalam keadaan selamat sentausa. Jadi, apa yang kami kuatirkan dulu itu tak terjadi. Kami tanpa sadar menarik napas bersama-sama, bahwa nampaknya dia, dan juga saya (yang tidak ikut ke Prancis), masih diperkenankan memakai barang pinjaman yang bernama hidup ini. Selanjutnya, kami pun kembali lupa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lupa. Sampai ketika beberapa hari lalu, menjelang dini hari yang sepi, saya menerima sebuah pesan pendek dalam telepon seluler saya. “Ratusan warga sipil, perempuan dan anak-anak, orang-orang tua terbantai di Jalur Gaza. Eh, kamu paling-paling sudah ngorok  ya...” demikian pesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak! Saya sama sekali belum ngorok. Saya justru sedang memikirkan seseorang yang saat itu saya bayangkan sedang berada dalam sebuah kamar tidur bersama anak lelakinya semata wayang, entah mereka sedang tidur atau sedang insomnia, di sebuah kota di Jawa. Sebelumnya, mereka sempat mengatakan pada saya bahwa mereka berangan-angan suatu saat bisa pergi ke Bali naik pesawat karena si anak kecil tidak tahan naik bus. Bukan apa-apa yang saya bayangkan atau lamunkan, tetapi hanya ingatan kembali atas obrolan saya dengan teman yang ke Prancis bulan lalu itu. Bahwa, bepergian dengan kendaraan, entah pesawat terbang, kapal laut, bus atau kereta api, mungkin resikonya sama saja. Bagaimana jika tiba-tiba bus tabrakan, masuk jurang atau terbakar? Bagaimana jika tiba-tiba sebuah kereta api tergelincir dari rel dan terlempar dengan posisi terbalik? Bagaimana jika tiba-tiba kapal laut terserang badai dan ombak besar lantas terbalik dan tenggelam seperti tragedi Titanic yang fenomenal itu? Ah, sekali lagi saya menarik napas, toh hidup ini hanya barang pinjaman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan pendek dalam handphone itu tak saya balas. Dan lamunan saya buyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beranjak ke kamar tidur, berdiri sejenak di sisi ranjang. Saya pandangi Elang, anak bungsu saya yang baru berumur tujuh bulan, terlelap dengan wajah nakalnya. Sementara di sebelahnya, sang ibu juga terlelap dengan nafas sedikit hampir mendengkur. Tentu dia lelah karena seharian di-ubek-ubek Elang dengan rasa ingin tahunya yang begitu besar dan tidak pernah bisa diam. Mula-mula saya ingin mencium Elang, tapi saya urung karena takut membuatnya terbangun. Saya keluar kamar, kembali ke depan laptop di teras. Saya ingin sekali pagi datang lebih cepat agar saya mungkin bisa membaca berita di koran atau menonton berita pagi di televisi mengenai perang abadi di Gaza itu. Saya ingin tahu, bagaimana sekian puluh atau sekian ratus kehidupan yang dipinjamkan kepada sekian puluh atau sekian ratus orang itu ditagih oleh yang punya hidup dengan kobaran api dari meriam dan bom. Saya ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, karena kesibukan kerja di kantor, saya malah tak sempat membaca koran atau nonton televisi. Sampai siang, sampai tiba-tiba saya teringat pesan pendek di handphone  itu dan saya bacakan di depan beberapa teman di ruang kerja. Saya baca keras-keras pesan pendek itu dengan harapan ada teman yang memberi reaksi misalnya bersedih. Tapi tidak. Ternyata tak ada yang kaget apalagi sedih. Mungkin karena sebelumnya mereka sudah membaca koran atau menonton televisi, atau mungkin mereka sudah bebal dengan kabar perang abadi di Gaza itu sehingga mereka menganggap pesan pendek itu tidak berarti apa-apa. Atau juga mungkin karena mereka semua jauh lebih hebat dari saya sehingga hal-hal semacam kecelakaan, kematian, perang atau sebangsanya adalah sesuatu yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang hari kembali di rumah, saya makan malam dengan seekor kucing dan dua ekor anjing yang entah kenapa beberapa hari ini manja sekali dengan saya. Persis di depan saya makan, sebuah stasiun televisi nasional menayangkan berita mengenai perang abadi di Gaza itu – yang mana bagi saya kedua belah pihak yang bertikai itu sama absurdnya. Layar televisi menampilkan gambar-gambar kobaran api, letusan gedung dengan asap hitam membubung, seorang bapak meratapi kematian keempat anaknya, beberapa ibu juga meratap, serdadu yang berlarian, teriakan menyebut Tuhan, dan seterusnya. Lalu gambar di layar televisi berubah. Kini tentang gempa bumi dengan korban dan ribuan pengungsi yang juga menderita lahir batin di Manokwari. Lalu gambar berubah menjadi banjir di berbagai kota dan kawasan. Lalu berubah lagi dengan gambar badai salju. Lalu berubah lagi dengan gambar pengadilan seorang koruptor. Lalu berubah lagi dengan gambar-gambar para politikus dan pembesar negeri yang selalu nampak sibuk. Lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, seekor kucing jantan dan dua ekor anjing itu terus makan sampai nasi kami sama-sama habis. Lalu kami berdoa bersama-sama: “Ya, Tuhan, hidup ini memang pinjaman dariMu. Jadi silahkan ambil kapan saja dengan cara apa saja sebijakMu. Kami siap untuk apapun!” Lalu saya mencuci tangan. Seekor kucing dan dua ekor anjing itu juga pergi entah ke mana. Siap untuk apapun! Tak ada yang perlu diberatkan. Apalagi perang abadi nan absurd di Gaza itu! Maaf!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8210196810574548556?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8210196810574548556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/siap-untuk-apapun.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8210196810574548556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8210196810574548556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/siap-untuk-apapun.html' title='Siap untuk Apapun'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8846353750730026504</id><published>2009-01-02T21:38:00.000+07:00</published><updated>2009-01-02T21:40:41.727+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>sajak tahun baru</title><content type='html'>kita bertemu lagi di sini&lt;br /&gt;di ambang pintu kemesraan sarang laba-laba&lt;br /&gt;engsel yang berkarat&lt;br /&gt;tak akan mendiamkan tanganku&lt;br /&gt;atau tanganmu yang lebih awal&lt;br /&gt;memainkan kunci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita mungkin akan saling merenggut&lt;br /&gt;lalu ketawa tertahan&lt;br /&gt;menjelang percintaan kita sudahi&lt;br /&gt;dalam helaan nafas panjang&lt;br /&gt;dan anak-anak melahirkan dirinya&lt;br /&gt;melalui gelap yang merindukan cahaya&lt;br /&gt;sementara terang&lt;br /&gt; selalu mencurigai malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita bertemu lagi di sini&lt;br /&gt;tetap di sini bahkan tak di lain tempat&lt;br /&gt;matahari yang sama, jam dinding telah&lt;br /&gt;dibelah dalam bagian yang sama&lt;br /&gt;sejarah telah kita tuliskan kemarin&lt;br /&gt;lalu kita deretkan menjadi ranjau-ranjau,&lt;br /&gt;sampai bedil angin yang sederhana.&lt;br /&gt;Siapakah penyair dan puisinya&lt;br /&gt;kecuali aku dan engkau?&lt;br /&gt;Sebaiknya kita tak membuat pesta&lt;br /&gt;anak-anak  telah melakukannya semalam&lt;br /&gt;dalam mimpinya. Dan ruang memang&lt;br /&gt;tak tersisa lagi setelah laba-laba itu&lt;br /&gt;kita tetaskan tanpa sengaja&lt;br /&gt;di sini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8846353750730026504?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8846353750730026504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/sajak-tahun-baru.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8846353750730026504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8846353750730026504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2009/01/sajak-tahun-baru.html' title='sajak tahun baru'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8038972320150684883</id><published>2008-12-30T14:30:00.003+07:00</published><updated>2008-12-30T14:39:54.504+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>sajak akhir tahun</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;tiba-tiba sunyi mengulurkan jarak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;padamu, perjalanan tak berhenti pada genangan kolam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;atau lorong basah cakrawala desember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;bayanganmu yang kuyup duka dan mawar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;seperti kamboja di sudut taman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;menggugurkan daun menyambut bunga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;anak-anak bangun lebih pagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;dan bertanya berapa sisa usianya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;sunyi pun menghidangkan keabadian semula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;: esok tak terduga, waktu yang tak terpecahkan dalil-dalil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;dan engkau sering berbalik membelakangi cermin,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;mengingat-ingat jenis tanah yang membangun kamarmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;mana yang lebih kental&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;darahkah atau karunia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;tabungan yang pecah di tangan cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;minta dihitung kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;cukupkah sumur di ladang hatimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;bagi kemarau tahun depan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Ataukah ruang tamu perlu ornamen baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;: topeng-topeng dan beberapa pucuk senjata?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;seandainya engkau diam, waktu tak mungkin menunggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;kartu-kartu undangan dalam antrian panjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;ke dalam mimpi pun engkau tak dibiarkan sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;perjalanan tak berhenti oleh genangan kolam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;atau lorong basah kemarau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;yang menghidangkan kilau untuk sedikit makna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;sesunyi apa pun pahala dan dukamu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8038972320150684883?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8038972320150684883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/sajak-akhir-tahun.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8038972320150684883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8038972320150684883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/sajak-akhir-tahun.html' title='sajak akhir tahun'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-4646104320334666729</id><published>2008-12-28T19:17:00.004+07:00</published><updated>2008-12-28T19:31:28.049+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Liberalisasi Pendidikan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang baru saja disahkan oleh DPR, telah membuka jalan bagi pihak luar (asing) untuk memegang saham sampai 49 persen untuk tiap satuan pendidikan tingkat menengah dan universitas. Kenapa hal ini bisa terjadi, konon karena pemerintah ingin mendorong proses liberalisasi atau privatisasi sistem pendidikan dengan sasaran agar sistem pendidikan dicanangkan secara demokratis, efisien, akuntabel, dan kompetitif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Sampai pada wacana ini, secara sederhana dapat diartikan bahwa telah ada kesadaran pada pemerintah bersama DPR untuk menganggap pendidikan itu sebagai investasi. Ini sesuatu yang baik, karena pendidikan memanglah investasi bangsa yang bahkan tak bisa diukur secara nominal. Semakin baik proses pendidikan dan output pendidikan nasional, maka akan semakin baik pula arah serta hasil pembangunan berbangsa dan bernegara di segala bidang. Karena untuk menjadi madani, untuk sejahtera dan maju sejajar dengan negara-negara lain, tentulah pendidikan sebagai faktor utamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tetapi hal ini akan menjadi runyam, jika investasi di sini kemudian akan lebih dinikmati terjemahannya semata-mata sebagai lahan atau sektor terbuka bagi penanaman modal dan komoditas. Dan sejauh ini, inilah yang terbaca dari perilaku pemerintah maupun parlemen kita. Karena jujur harus diakui, sesungguhnya pemerintah saat ini sangat keteteran membiayai pembangunan di sektor pendidikan nasional. Berbagai wacana, program maupun komitmen untuk pendidikan telah dicetuskan pemerintah selama ini, tetapi hasilnya toh tetap jalan di tempat. Semua orang pun dengan mudah melihat dan merasakan, bahwa dunia pendidikan di Indonesia masih menjadi alat tawar-tawaran politik antara penguasa dengan parlemen. Bahkan pemerintah juga ternyata belum melaksanakan keputusan Mahkamah Konstitusi untuk menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dalam APBN dan APBD 2008 ini. (&lt;i style=""&gt;Emile A Laggut&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;KOMPAS&lt;/i&gt;, Jumat, 26 Desember 2008) &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kembali kepada keberadaan UU BHP, maka sejak hari ini pun dapat dibayangkan, betapa akan ramainya investor menyerbu dunia pendidikan di negeri ini. Tujuan utamanya tentu saja untuk ikut meraih keuntungan sebesar-besarnya dari menjual infrastrukur, modul, hingga kurikulum kepada masyarakat atau rakyat Indonesia yang butuh pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Efek buruk yang pertama, sudah pasti adalah polarisasi antara warga miskin dan kalangan kaya. Liberalisasi pendidikan akan semakin menjauhkan kebanyakan rakyat negeri ini untuk bisa ikut menikmati “pendidikan yang berkualitas” yang dijual oleh para penanam modal tersebut. Karena berbagai fasilitas dengan kategori layak jual yang mereka bawa ke negeri ini, sudah pastilah hitung-hitungannya mahal. Sebab kalau tidak mahal, dari mana mereka akan dapat untung agar saham mereka yang 49 persen itu bisa balik dan kemudian beranak-pinak? Sementara itu dalam hitungan sederhana tetapi riil, 35 persen rakyat negeri ini masih berada pada level “baru akan mampu”, 50 persen pada level “tidak/belum mampu”. Sisanya, 13 persen cukup kaya dan hanya 2 persen yang kaya (raya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Efek buruk kedua – dan ini justru lebih berbahaya –, dunia pendidikan nasional akan kehilangan jatidiri, tergerus oleh kepentingan serta ideologi para penanam modal itu sendiri. Para penanam modal (terutama asing), tentulah datang ke negeri ini bukan semata-mata dalam keadaan polos mandiri, tetapi mereka juga tidak lepas dari pesan sponsor kepentingan negeri asalnya. Dan sebuah negeri, adalah sebuah ideologi. Sehingga mereka para penanam modal tersebut sekaligus juga merupakan agen-agen ideologi negerinya. Ideologi bisa berwajah politik, kapitalisme, maupun religi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Inilah yang patut dicemaskan. Liberalisasi pendidikan akan dengan mudah membuat dunia pendidikan nasional kita disusupi berbagai ideologi asing yang sarat kepentingan dan nafsu ingin menguasai negeri kita secara halus. Awal-awalnya barangkali memang masih kompromi, tetapi kemudian akan berubah menjadi pencekokan. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa karena terlanjur menggadaikan diri demi mendapat pendidikan yang dianggap berkualitas. Maka dunia pendidikan nasional pun akan menjadi jalan lempang bagi misalnya: proses amerikanisasi, arabisasi, indianisasi, jepangisasi, jermanisasi, serta “sasi-sasi” lainnya atas Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan menjunjung tinggi kebudayaan nasional dalam semangat kebhinnekaan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Hakikat pendidikan nasional seharusnya berada pada posisi mentransformasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang bersifat universal. Maka, mengutif pernyataan dari seorang penulis buku, peneliti bidang hukum dan masalah sosial politik, &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Emile A Laggut&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dalam opininya yang dimuat &lt;i style=""&gt;KOMPAS&lt;/i&gt;, Jumat, 26 Desember 2008 lalu, sebaiknya sistem pendidikan nasional tetap mengacu konstitusi dan UU No. 20 Tahun 2003 yang mengatur prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional yang demokratis, berkeadilan, manusiawi, tidak diskriminatif, serta menjunjung tinggi HAM dan nilai-nilai kultural.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: georgia;" lang="IN"&gt;Sekali lagi mengutip para bijak bestari, bahwa pendidikan nasional adalah mata air kehidupan bangsa yang harus dijaga kemurniannya. Jika mata air tersebut dibuat keruh dan dikotori, walau apapun alasannya, mau jadi apa nanti bangsa Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: georgia;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-4646104320334666729?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/4646104320334666729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/liberalisasi-pendidikan.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4646104320334666729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/4646104320334666729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/liberalisasi-pendidikan.html' title='Liberalisasi Pendidikan'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1026284713682479498</id><published>2008-12-28T10:18:00.004+07:00</published><updated>2008-12-28T11:05:12.678+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Persembahan AWARD I</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Satu hal yang juga telah melengkapi saya menjadi seperti ini, hari ini, adalah blog. Di dunia blog, saya menemukan satu lagi yang mewarnai dunia, menjadikan kehidupan (saya) terasa semakin dinamis dengan harmoni yang tetap terjaga. Saya tak tahu pasti, siapa saja yang telah saya ajak berkomunikasi serta bersilaturahmi melalui blog ini. Karena oleh “batas-batas tertentu”, interaksi atau silaturahmi dalam dunia blog tetaplah menyisakan sekaligus menghormati setiap privacy. Maksudnya, kendati telah seakrab apapun tegur sapa, support, canda, ledekan, dan bahkan barangkali umpatan telah kita lakukan dengan kawan-kawan sesama blogger melalui dunia blog ini, satu hal nan paling hakiki yakni “kepribadian masing-masing” tetaplah tak hendak kita usik atau campuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, dari ratusan bahkan ribuan sahabat-sahabat blogger di seluruh dunia yang sempat berinteraksi dengan saya sampai hari ini, beberapa di antaranya telah memberi saya semacam pemahaman yang semakin dalam masuk ke lubuk jiwa saya, bahwa kehidupan adalah bukan basa-basi. Dan di dalamnya, kita semua menjadi sebuah keniscayaan, yakni bahwa kita adalah bagian dari kehidupan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, di penghujung tahun 2008 ini, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tulus melalui sebuah award kepada beberapa sahabat blogger yang dalam waktu belum terlalu lama telah ikut menyuburkan keyakinan atas realitas, dinamika dan harmoni kehidupan kepada saya. Para sahabat saya itu adalah:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284686371799271282" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 278px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SVb6QXRxh3I/AAAAAAAAAkY/yrz_vjdK--Y/s320/Award+Dusun+Senja+Humanist.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SVbygd1VKuI/AAAAAAAAAkQ/880PSipmqnQ/s1600-h/Award+Dusun+Senja+Humanist.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SVbygd1VKuI/AAAAAAAAAkQ/880PSipmqnQ/s1600-h/Award+Dusun+Senja+Humanist.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;- Bali Dream Home&lt;br /&gt;- Ceritasenja&lt;br /&gt;- Gratcia&lt;br /&gt;- Ningtyas&lt;br /&gt;- Bila Bali Ngobrolin Bali - Ibed&lt;br /&gt;- Perjalanan Hening - Angga&lt;br /&gt;- Sang Lintang Lanang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga berkenan. Terima kasih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1026284713682479498?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1026284713682479498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/persembahan-award-i.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1026284713682479498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1026284713682479498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/persembahan-award-i.html' title='Persembahan AWARD I'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SVb6QXRxh3I/AAAAAAAAAkY/yrz_vjdK--Y/s72-c/Award+Dusun+Senja+Humanist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-6799590588659944415</id><published>2008-12-26T09:28:00.003+07:00</published><updated>2008-12-26T09:35:27.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Pemimpin yang Menjadi Penguasa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Catatan Akhir Tahun (1)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;DALAM&lt;/strong&gt; tatanan dan etika demokrasi, para pemimpin dipilih oleh rakyat, bukan berdasarkan keturunan atau dinasti. Rakyatlah yang memilih, menentukan siapa sosok atau figur yang cocok menjadi pemimpinnya. Bukan pemimpin yang memilih siapa-siapa yang cocok menjadi rakyatnya. Maka dalam negara demokrasi, para pemimpin adalah pejabat (untuk) publik, bukan penguasa publik. Para pejabat publik adalah milik rakyat, bukannya rakyat milik pejabat. Pejabat publik bertugas melayani kebutuhan rakyat, bukan rakyat yang harus melayani kebutuhan mereka. Dan, rakyatlah yang memiliki negara, bukannya negara yang dikuasai pejabat atau pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, para pejabat atau para pemimpin mulai dari lingkup terbawah hingga yang tertinggi – yang dipilih oleh rakyat, harus melayani rakyat karena mereka itu dibayar tenaga dan jasanya oleh rakyat. Gaji yang mereka terima berasal dari hasil aset dan usaha negara yang dimiliki rakyat yang kemudian pengelolaannya dipercayakan kepada mereka sebagai pemimpin atau pejabat. Jadi, semakin baik seorang pemimpin atau pejabat mengelola aset dan usaha negara, maka semakin besarlah pendapatan negara, dan semakin besarlah pula gaji yang bisa diterima para pemimpin atau para pejabat itu sendiri. Semakin goblok atau semakin curang para pemimpin atau pejabat mengelola negara, maka dia bahkan tak berhak menerima gaji (imbalan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang baik, pintar, cerdas, jujur, bijaksana, adil, akan dipertahankan dan dihormati oleh rakyat. Ia akan dilindungi oleh rakyat dan akan dipilih kembali untuk menduduki jabatannya. Tetapi jika pemimpin itu ternyata goblok, bermental buruk, korup dan suka nyeleweng dari amanat rakyat, maka rakyat berhak sepenuhnya menurunkan dia. Rakyat berhak bahkan wajib menggantinya dengan orang lain yang lebih baik. Pemimpin yang buruk tidak akan dilindungi rakyat, tidak akan disayang rakyat, tidak akan dihormati rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DALAM&lt;/strong&gt; etika demokrasi, selayaknyalah pemimpin dipilih langsung oleh rakyat. Memang ada kemungkinan lain, yakni rakyat memilih pemimpin melalui wakil-wakilnya di parlemen. Ini juga merupakan hal yang syah dan dapat dikatakan lebih praktis. Tetapi dalam praktiknya, cara ini sering bahkan senantiasa tidak aman dari distorsi kepentingan sesaat, dan malah menjadi kontraproduktif atas demokrasi itu sendiri. Suara para wakil rakyat seringkali terbeli oleh mereka yang ngebet jadi pemimpin. Dan karena jumlah wakil rakyat itu terbatas, maka perilaku jual-beli suara ini pun sangat mudah dilakukan. Maka bentrokan aspirasi antara rakyat dengan para wakilnya sendiri di parlemen pun akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila suara rakyat ini sudah terbeli melalui wakil-wakilnya di parlemen, maka pada tataran inilah seorang pemimpin atau pejabat tidak lagi milik rakyat, tetapi rakyatlah yang dimiliki oleh pemimpin atau pejabat. Pemimpin berubah menjadi penguasa. Menguasai rakyat dan menguasai negara. Pemimpin atau pejabat yang menjadi penguasa, akan dengan sesuka hati boleh mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sebagian besar bukan demi rakyat, tetapi demi kepentingannya sendiri, demi kelanggengan kekuasaannya. Demi kepentingan kelompok, bahkan yang lebih gila lagi demi kepentingan keluarga dan kerabatnya saja, yang dalam istilah menterengnya disebut kolusi dan nepotisme. Jadi, ketika pemimpin atau pejabat ini keberadaannya dari hasil pembelian suara, maka kedaulatan rakyat menjadi begitu tipis, gampang dilecehkan bahkan bisa dilenyapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat yang kedaulatannya telah dilenyapkan, berarti rakyat yang boleh diperlakukan apa saja oleh para pemimpin atau pejabat. Tanpa kedaulatan, berarti rakyat adalah objek dari kepentingan pemimpin yang berubah menjadi penguasa. Padahal, dalam tatanan demokrasi rakyat adalah subjek, rakyat adalah pemilik, suara rakyat adalah suara Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemimpin berubah menjadi penguasa, betapa nasib rakyat menjadi begitu riskan di segala aspek. Perekonomian nasional hanya menjadi monopoli kalangan tertentu yang dekat dengan penguasa. Rakyat dinihilkan dari akses-akses permodalan. Para pengusaha kecil selalu hanya menerima sisa-sisa dari para konglomerat yang dengan leluasa mengelola aset-aset ekonomi nasional. Pertanian, perindustrian, pertambangan dan sebagainya, diarahkan sesuai kepentingan ekonomi pemilik modal besar. Kepentingan ekonomi rakyat bahkan hanya menjadi tunggangan konglomerat yang menjadi kroni penguasa untuk membagi-bagi dana investasi yang disediakan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemimpin menjadi penguasa, dalam hal kebijakan pertahanan dan keamanan, rakyat seringkali menjadi bulan-bulanan dengan alasan demi keamanan negara. Rakyat tidak boleh kritis. Rakyat tidak boleh protes. Rakyat tidak boleh menolak apapun kemauan penguasa. Segala kebijakan mengenai keamanan adalah absurd, di mana dalam wacananya adalah demi keamanan negara, padahal di sebaliknya adalah demi keamanan kekuasaan itu sendiri. Partai politik saja bisa diseragamkan. Maka dikenallah istilah single mayority. Hanya boleh ada satu partai besar yang berkuasa. Partai-partai lainnya (kalau ada) hanyalah “pelengkap penderita” yang memang sengaja dipelihara penguasa sebagai kamuflase politik agar sekedar kelihatan demokratis saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemimpin menjadi penguasa, di sanalah puncak penderitaan demokrasi. Puncak penganiayaan demokrasi. Puncak pelecehan kedaulatan rakyat. Pemerintahan menjadi totaliter. Dan negara yang totaliter, dari kulit luar tampak begitu aman sentosa, tetapi rohnya tidak lebih dari kumpulan jiwa-jiwa rakyat yang rapuh teraniaya, tak diberi ruang untuk berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ADAKAH&lt;/strong&gt; hal seperti itu terjadi di Indonesia? Jawabannya adalah keiklasan untuk belajar pada sejarah masa lalu dan kenyataan hari ini. Jawabannya adalah bahwa semua orang harus belajar mengenal diri sendiri sebagai warga negara. Dari sana bangsa ini berkontemplasi dan introspeksi, dalam negara macam apakah bangsa ini tinggal? Kalau negara demokrasi, sudahkah bangsa (rakyat) merasa kedaulatannya terpenuhi? Sudahkah rakyat juga sadar akan hak dan kewajibannya untuk menjaga demokrasi itu sendiri? Karena, jangan-jangan rakyat itu sendiri yang sesungguhnya tak pernah siap berdemokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi yang terakhir ini bisa benar apabila kita melihat kecendrungan bahkan kenyataan hari ini. Bahwa betapa gampangnya kini para wakil rakyat terbeli secara politis oleh kekuatan-kekuatan tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Sementara itu di akar rumput, juga betapa mudahnya suara rakyat dibeli. Hanya dengan sepotong baju kaos warna tertentu, rakyat sudah bisa dikuasai secara pisik dan psikologis. Hanya dengan sebuah baju kaos, seseorang dengan mudah menggiring rakyat untuk memilih dirinya menjadi pemimpin atau mendapatkan jabatan sebagai wakil rakyat itu sendiri. Dan ketika sudah terpilih, dia yang terpilih itu pun segera merubah posisinya menjadi penguasa atas rakyat yang dulu dibelinya untuk memilih. Maka tidaklah perlu marah kalau kini kita sering mendengar seloroh bahwa Indonesia hanyalah sebuah negara yang selalu berpura-pura berdemokrasi. Karena dalam realitasnya, hingga saat ini tak ada wakil rakyat yang tak terbeli, tak ada rakyat yang tak terbeli, tak ada pemimpin atau pejabat serta elit yang tidak menjadi penguasa!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;em&gt;dusun senja, desember 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-6799590588659944415?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/6799590588659944415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/pemimpin-yang-menjadi-penguasa.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6799590588659944415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6799590588659944415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/pemimpin-yang-menjadi-penguasa.html' title='Pemimpin yang Menjadi Penguasa'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7285585393399389393</id><published>2008-12-22T10:26:00.003+07:00</published><updated>2008-12-22T10:34:58.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>surat kepada ibu</title><content type='html'>berujung jugakah kemarau&lt;br /&gt;di sini, ibu? mataku terkubur abu&lt;br /&gt;pohonan hangus di tanah kupu-kupu&lt;br /&gt;merindukan jemari rampingmu&lt;br /&gt;menambal koyak cakrawala&lt;br /&gt;sepanjang darah air mata tanah airku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi yang kemudian menjenguk jiwaku&lt;br /&gt;di persimpangan benda-benda; menyuguhkan&lt;br /&gt;segelas embun&lt;br /&gt;mungkinkah tuhan sedang rindu&lt;br /&gt;pada taman-taman yang telah mati&lt;br /&gt;dalam sajakku?&lt;br /&gt;kapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku boleh meneguknya? sementara setiap rambu&lt;br /&gt;tak hentinya menyuntikkan serum duka ke dadaku&lt;br /&gt;satu jam sekali sejarah menuangkan&lt;br /&gt;cairan penghilang rasa sakit&lt;br /&gt;ke dalam jahitan kepalaku&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika aku sampai ke alamat cintamu&lt;br /&gt;barangkali aku sudah tak butuh apa-apa&lt;br /&gt;kecuali kehangatan ramping jemarimu&lt;br /&gt;untuk mengikatkan seutas benang doa&lt;br /&gt;pada jiwaku yang tertinggal di halte-halte&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(selamat hari ibu, 22 desember 2008)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7285585393399389393?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7285585393399389393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/surat-kepada-ibu.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7285585393399389393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7285585393399389393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/surat-kepada-ibu.html' title='surat kepada ibu'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5749566469284719424</id><published>2008-12-16T10:07:00.002+07:00</published><updated>2008-12-16T10:12:01.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Fragmen Orang-orang Bingung</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Terbukti sampai saat ini kita selalu kecolongan memilih wakil yang kita harapkan mampu mengemban aspirasi kita di mana mestinya. Inilah nasib buruk rakyat yang mungkin untuk waktu masih lama sekali tak bisa diperbaiki,” demikian Wayan Buyar menggerutu di antara teman-temannya sesama pengojek di sebuah poskamling yang selama ini mereka jadikan pangkalan tak resmi. Teman-temannya yang saat itu sedang berkutat dengan sederet angka-angka paito dan beberapa lembar syair togel, serentak mendongak. Dengan alis berkerut, para pengojek pinggir kota itu serempak menatap wajah Wayan Buyar. Yang ditatap, entah kenapa, juga mendadak bingung. Dengan agak sedikit kikuk Wayan Buyar menyulut sebatang rokok, lantas menyemburkan asapnya ke wajah teman-temannya yang masih menatapnya tak mengerti itu.&lt;br /&gt;“Busyet! Kamu kenapa, Wayan?” salah seorang mengumpat sambil mengibas-ngibaskan telapak tangan mengusir asap rokok dari tembakau murahan itu.&lt;br /&gt;“Memang aku kenapa?” Wayan Buyar balik bertanya.&lt;br /&gt;“Tadi kamu ngomong apa?”&lt;br /&gt;“Oh, memangnya tadi aku ngomong ya?”&lt;br /&gt;“Ya, tadi kamu ngomong. Coba ulangi sekali lagi.”&lt;br /&gt;“Astaga, aku lupa. Memangnya tadi aku ngomong apa ya?” Wayan Buyar menggaruk-garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkalan ojek itu kembali sunyi. Setiap kepala, selain Wayan Buyar, kembali terfokus pada lembaran kertas paito dan syair-syair togel yang mereka gelar di tengah-tengah balai pos kamling itu. Salah satu yang menjadi juru tulis, dengan cekatan menderetkan angka-angka secara vertikal dan horisontal, lalu mencoret beberapa di antaranya secara diagonal, lalu melingkari yang tersisa dengan pola berpasang-pasangan dua angka. Sejenak mereka menggeremeng tak jelas. Lalu mencocokkannya dengan deretan angka paito di lembaran lain. Lalu mencocokkannya lagi dengan syair. Ternyata mereka tidak yakin. Lalu mereka menggeremeng tak jelas lagi. Dan yang menjadi juru tulis kembali menderetkan angka-angka, mencoret, melingkari, memasang-masangkan dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak sudah sampai hampir habis masa jabatan, mereka ndak juga terbukti mampu menolong rakyat. Jangankan semua rakyat, memperjuangkan korban lumpur di Jawa Timur saja mereka gak becus. Setiap yang namanya memperjuangkan nasib rakyat mereka gak pernah serius. Selalu pake tawar-tawaran politik. Ngurus korupsi juga pake tawar-tawaran. Eh, tiada hujan tiada angin malah bikin undang-undang porno. Syahwat orang kok diurus.... Hi hi hi, kalau tahu begini aku golput saja dulu,” Wayan Buyar kembali menggerutu. Tapi kali ini semua temannya mendengar dengan jelas.&lt;br /&gt;“Ooo, kamu sedang menyoroti DPR kita ya?” celetuk seseorang. Wayan Buyar kaget.&lt;br /&gt;“Apa? Tidak. Tidak! Aku tidak menyoroti siapa-siapa!” tangkisnya cepat.&lt;br /&gt;“Tadi kamu ngomong begitu. Sampai menyesal dan ingin golput segala.”&lt;br /&gt;“Ah, aku hanya menyesali diriku sendiri kok. Kenapa dulu aku tidak golput saja.” Wayan Buyar memalingkan wajahnya ke arah dua orang perempuan muda yang baru turun dari sebuah mini bus. Wayan Buyar bergegas menghampiri serta menawari perempuan itu naik ojeknya. Sayang sekali, dua orang perempuan itu rupanya lebih suka naik dokar yang kebetulan juga melintas di tempat itu. Wayan Buyar dan para pengojek lainnya hanya mengangkat bahu. Pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tidak bisa menyesali diri untuk hal itu. Namanya juga kita rakyat, kan memang harus mendukung konstitusi negara. Pemilu, ya ikut nyoblos. Jadi golput itu tidak bagus. Nanti dikira pengecut oleh orang lain,” temannya itu kembali menasehati Wayan Buyar sambil melangkah kembali ke pos kamling.&lt;br /&gt;“Yang aku sesalkan justru itu. Coba dulu kita-kita ini tidak ikut nyoblos, mereka mungkin tidak terpilih jadi wakil rakyat sehingga mereka tidak terjebak masalah kebingungan seperti saat ini.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Fuihhh! Masak kamu ndak membaca berita-berita atau nonton TV selama ini? Apa saja yang sudah berhasil diperjuangkan para wakil rakyat kita? Menaikkan harga-harga kebutuhan hidup? Memperbanyak kunjungan ke luar negeri? Ngotot-ngototan gak jelas dengan menteri atau presiden? Perang argumen antar fraksi? Cuma begitu melulu, kan? Bingung, kan? Sementara itu menurut berita-berita di koran, sekarang para wakil rakyat malah jarang ngantor. Mereka pada sibuk keliling. Tapi bukan sibuk menyerap aspirasi dan kesusahan rakyat, sibuk kampanye agar dipilih lagi 2009 nanti!”&lt;br /&gt;“Ah, kamu Wayan. Jangan skeptis dan sinis begitulah. Yang penting kita-kita ini kan aman. Kita kan belum perlu perhatian khusus dari mereka. Memangnya kamu ada masalah apa sehingga memerlukan pertolongan para wakil rakyat itu?”&lt;br /&gt;“Tidak. Aku tidak punya masalah apa-apa. Maksudku, selain belum mendapat penumpang hari ini.”&lt;br /&gt;“Ya. Hari ini memang terasa sepi sekali ya?”&lt;br /&gt;“Bukan sepi. Masak kau ndak lihat dari tadi orang-orang berseliweran di tempat ini dengan sepeda motor, dokar, bemo, bus, sepeda gayung...”&lt;br /&gt;“Ya ya, aku tahu. Maksudku sepi menumpang ojek. Begitu, Wayan.”&lt;br /&gt;“Nah, ngomong yang jelas dong,” Wayan Buyar sewot. Temannya tertegun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari beranjak sore. Seorang pengecer togel datang berjalan kaki dengan peluh membasahi kaos partai politik yang dikenakannya. Partai politik apa, tak perlu dijelaskan karena sekarang begitu banyaknya partai politik, sampai negeri ini jenuh dengan partai politik, sehingga partai politik itu sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi.&lt;br /&gt;“Ada yang mau pasang?” tanya pengecer togel itu.&lt;br /&gt;“Kamu punya angka kuat ndak?” seorang pengojek bertanya.&lt;br /&gt;“7 dan 9 cari pasangan. Unsurnya 4 dan 5. Cadangan 0, 1 dan 3. As 2, 4, 6. Jumlah 8.”&lt;br /&gt;“Busyet. Seluruh angka dari 0 sampai 9 kamu sebut. Yang pasti sajalah. Berapa?” seseorang lagi membentak.&lt;br /&gt;“Memangnya kamu tahu yang pasti?” si pengecer balik bertanya.&lt;br /&gt;“Makanya aku tanya sama kamu.”&lt;br /&gt;“Memangnya aku setan yang tahu angka keluar nanti?”&lt;br /&gt;“Ha ha ha, dilihat dari depan, samping dan belakang, kamu memang mirip setan.”&lt;br /&gt;“Sialan kamu!”&lt;br /&gt;“Sssttt! Setan ya? Wah, jangan-jangan ini kode! Aku pasangi setan ah. Berapa nomornya? Nih, aku pasang lima ribu!” seseorang bersemangat sembari membanting lima ribuan hasil ngojek sejak pagi.&lt;br /&gt;“Aku juga setan.” Sahut yang lain.&lt;br /&gt;“Aku juga.”&lt;br /&gt;“Aku ikut setan. Nih sepuluh ribu!”&lt;br /&gt;“Setan?! Aku..., ikuuuu...ttttt!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5749566469284719424?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5749566469284719424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/fragmen-orang-orang-bingung.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5749566469284719424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5749566469284719424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/fragmen-orang-orang-bingung.html' title='Fragmen Orang-orang Bingung'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8820164695086648695</id><published>2008-12-12T01:14:00.003+07:00</published><updated>2008-12-12T01:22:34.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KISAH'/><title type='text'>Membaca Semesta</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat itu saya baru pulang dari Kendari – Sulawesi Tenggara, dan sedang transit di Bandara Hasannudin-Makassar. Bising dan pengap berbaur. Di ruang besar ber-AC itu, ketebalan kaca jendela yang besar-besar tak sanggup meredam gemuruh pesawat yang datang, pergi atau sekedar memanaskan mesinnya. Ketebalan kaca jendela yang besar-besar itu tak sanggup meredam panas matahari jam dua belas siang yang memantul dari landasan parkir dan landasan pacu. Kaca jendela yang besar-besar di ruang tunggu itu tak sanggup meredam pantulan percakapan orang-orang dan suara sambung-menyambung pengeras suara dari bagian &lt;i&gt;information&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Saya mulai gelisah. Bingung karena tak tahu harus mengerjakan apa. Saya gelisah karena tak terbiasa selama tiga jam tanpa melakukan apa-apa. Sementara di ruang tunggu itu, tiap-tiap orang ada temannya. Tiap-tiap orang ada pasangan ngobrol, pasangan duduk, pasangan mondar-mandir. Entah dengan temannya, entah dengan suami atau istri, entah dengan anak, entah dengan teman biasa, entah dengan pacar, entah dengan selingkuhan, entah dengan bos, entah dengan tetangganya. Hanya saya yang benar-benar sendirian. Celingukan. Melihat setiap etalase, tetapi tak melihat setiap yang ada. Sampai lelah, lalu saya kembali duduk di antara mereka yang terus berceloteh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tiba-tiba seorang bapak menegur saya. Rupanya sejak tadi kami duduk berdampingan tapi saya tak memperhatikannya. Usianya saya taksir lebih dari lima puluh lima. Tanpa diminta dia bercerita tentang perjalanannya. Bahwa katanya hari itu dia terbang dari Bali. Mampir sebentar di Makassar, lalu sekarang hendak terbang lagi menuju Jakarta. “Wah, anda sibuk sekali ya?” Saya mengomentari ceritanya. Dia tertawa, lalu mengatakan bahwa sebenarnya dia tak sesibuk orang lain. “Bedanya lagi, &lt;i&gt;sampean&lt;/i&gt; melakukan perjalanan jauh seperti ini dengan menghabiskan uang sendiri, sedangkan saya ada yang &lt;i&gt;ngongkosi&lt;/i&gt; dan mendapat imbalan atas pekerjaan saya ini,” ujarnya mantap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Saya mulai tak tertarik lagi ngobrol dengannya. Saya menebak, pasti dia ingin bercerita tentang bisnisnya sebagai... entah seorang motivator, entah makelar, entah seorang fasilitator, entahlah. Saya menebak, obrolan selanjutnya pasti akan rumit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Saya lihat &lt;i&gt;sampean&lt;/i&gt; tadi suntuk di etalase buku-buku itu. Sampean suka membaca? Sampean kutu buku?” dia membuka obrolan lagi. Saya jawab bahwa saya memang suka membaca dan merasa membutuhkan bacaan setiap saat. Saya katakan pula:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Tetapi saya tadi tak membeli buku. Harganya mahal-mahal.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dia tertawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sampean tiap saat membaca buku?” tanyanya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tidak. Karena saya juga menulis. Saya juga main drama. Saya juga bertani. Saya juga main musik. Saya juga kadang-kadang melukis. Saya juga bekerja di suatu kantor. Saya juga sering hanya melamun,” jawab saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kalau begitu, karena begitu banyaknya kegiatan sampean, sampean sebenarnya tak butuh buku untuk dibaca.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Sampean tak perlu beli buku. Orang macam sampean cukup belajar dengan membaca alam semesta saja. Wah, maaf, pesawat saya sudah mau berangkat. Selamat membaca semesta buat sampean. Semoga beruntung,” ujarnya sembari mengambil tas kecilnya dan pergi melewati &lt;i style=""&gt;gate &lt;/i&gt;menuju sebuah pesawat yang sudah bersiap akan terbang ke Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Sampai di rumah, saya kembali sibuk. Banyak pekerjaan di kantor yang harus saya selesaikan. Banyak tugas-tugas rumah yang menuntut dikerjakan. Saya tak ingat apa-apa lagi selain mengerjakan tugas-tugas itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tapi suatu sore seorang teman datang. Dia membawa banyak sekali buku-buku. Buku-buku sastra, agama, sosial, sejarah, politik, hukum, sampai majalah-majalah terbitan luar negeri. Kami bertemu di taman kota. Saya ditawarinya untuk membeli. Saya beli beberapa buah sampai tas kesayangan saya yang kecil kepenuhan dan terasa berat menggelayut di pundak. Tapi saya senang. Koleksi buku saya bertambah, walaupun saya terpaksa harus pulang untuk makan siang dan makan malam. Soalnya, uang saya habis untuk membayar buku-buku itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Lalu saya lupa lagi. Karena banyak pekerjaan dan kegiatan yang harus dilakukan. Sampai teman yang membawakan buku-buku itu menelepon. “Bagaimana? Puas dengan buku-bukunya? Sudah dibaca semua?” tanyanya memberondong. Saya kaget. Tak bisa menjawab, dan merasa malu karena ternyata saya lupa membaca buku-buku itu. Mungkin beberapa saat saya terdiam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Lebih kaget lagi ketika teman itu berujar dari telepon nun jauh di sana: “Tidak apa-apa! Kalau pun belum sempat membaca, itu tidak apa-apa. Anda sebenarnya cukup dengan membaca alam semesta saja!” Lalu dia tertawa. Dan kali ini tertawanya lain dari biasanya, persis sekali dengan tawa orang tua yang saya jumpai di bandara itu. Dan entah karena kenapa, saya tiba-tiba merasa lega sekali. Saya raih tas, dan segera berangkat dengan motor kesayangan. Saya lupa entah akan kemana...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right; font-style: italic;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;dusun senja suatu hari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8820164695086648695?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8820164695086648695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/membaca-semesta.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8820164695086648695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8820164695086648695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/membaca-semesta.html' title='Membaca Semesta'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5231659614897170425</id><published>2008-12-09T16:02:00.002+07:00</published><updated>2008-12-09T16:08:37.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Ranperda Pendidikan Al Qur'an?</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Hari ini, 9 Desember, saya mendapat kunjungan dari &lt;a href="http://ibnubanjar.wordpress.com/"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;seorang kawan blogger&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Ketika saya membuka &lt;a href="http://ibnubanjar.wordpress.com/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;blognya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; untuk membalas pesan dari beliau yang ada di shoutbox saya, saya tertarik dengan sebuah postingan terbarunya yang berjudul “Ranperda Pendidikan Al Qur’an”. Pada alenia awal postingan tersebut, kawan blogger itu menulis sbb: “Mohon masukan dan tanggapan dari semua pihak karena saat ini DPRD Provinsi Kalimantan Selatan sedang membahas Draft Raperda Pendidikan Al Qur’an di Kal Sel. Latar belakang mengapa raperda ini diajukan sebagai bentuk keprihatinan dan upaya bersama menyelamatkan generasi muda yang sudah semakin jauh dari nilai agama dan nilai luhur budaya bangsa. Kita saksikan setiap hari dekadensi moral dan hancurnya nilai-nilai kebaikan, dan merajalelanya tindak kejahatan. Celakanya disaat yang sama anak didik kita mulai jauh dari nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Dari pornografi anak, ekploitasi seksual, handphone porno, pembunuhan dengan mutilasi, tawuran antar pelajar, demo mahasiswa yang anarkis, penyalahgunaan obat, narkoba dan tindak kejahatan lainnya. Inilah sejumlah keprihatinan itu sehingga perlu ada upaya sistmatis untuk membentengi pelajar dan pemuda dengan nilai yang sangat asasi: yaitu pedoman hidup, kitab suci Al Qur’an”… dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tergelitik ingin memberi tanggapan. Maka di samping tanggapan tersebut saya tulis di postingan beliau, saya post-kan juga di halaman Dusun Senja ini. Di bawah ini adalah tanggapan saya, yang pada beberapa baris di antaranya telah saya koreksi dan tambahi beberapa kalimat.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selamat pagi Indonesia!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ranperda Al Qur'an? Saya kira ini sesuatu yang berlebihan dan justru melecehkan agama (Islam). Pendidikan agama (khususnya pelajaran agama) di sekolah, toh selama ini sudah merupakan pelajaran wajib di seluruh sekolah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, khusus untuk pembinaan dan siar Islam kepada ummat, kita dapat melihat betapa banyaknya telah dibangun pesantren oleh para ulama. Di setiap desa, kota, dari kecamatan hingga provinsi telah ada pesantren. Juga sudah ada MIN, MTs, MAN hingga perguruan tinggi berbasis Islam. Apakah semua itu masih kurang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua itu masih kurang, berarti ada SESUATU YANG SALAH pada bangsa ini. Kita semua tahu, bahwa bangsa ini diatur dan dikelola oleh para orang tua. Belum pernah ada anak-anak muda (generasi muda) yang ikut mengatur negeri ini. Jika kemudian para generasi muda (Islam) moralnya dianggap merosot, negeri ini tidaklah lantas boleh dengan mudah menuduh bahwa pendidikan agama (khususnya Al Qur'an dan Islam) tidak memadai. Yang harus introspeksi adalah para orang tua dan para elit bangsa, baik dari tingkat daerah/lokal hingga tingkat nasiolan/pusat, yang selama ini mengatur dan mengelola negara, mulai dari Ketua RT sampai presiden, mulai dari DPRD di daerah hingga DPR di Pusat. Karena sepak terjang anak-anak dan generasi muda sudah pasti meneladani mereka yang tua-tua, terutama yang elit, yang memegang hegemoni kekuasaan serta kebijakan berperilaku sebagai sebuah bangsa. Apakah selama ini mereka telah memberikan panutan yang baik bagi generasi muda bangsa? Dan lebih dari itu, bukankah para orang tua itu adalah orang-orang yang sudah sangat beragama, orang-orang yang sangat Islam sehingga bahkan merasa kuasa untuk merancang sebuah perda keislaman bagi orang lain (para genarasi muda). Jadi sekali lagi, apakah selama ini mereka telah memberikan panutan atau tauladan yang baik bagi generasi muda bangsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini tidak memerlukan perda atau undang-undang lagi untuk menegakkan moral dan agama (apalagi Islam). Sudah terlalu banyak undang-undang dan perda, yang toh tidak pernah mampu membuat bangsa ini menjadi lebih baik, karena yang melanggarnya ternyata lebih banyak justru mereka yang telah memikirkan serta membuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dibutuhkan bangsa ini sekarang dan ke depan adalah PEMAHAMAN YANG BAIK TENTANG KEMANUSIAAN. Tentang UNIVERSALITAS KEBERSAMAAN SEBAGAI SESAMA MANUSIA DI MUKA BUMI. Yang diperlukan bangsa ini adalah PENDIDIKAN UNTUK BISA SALING MENGHARGAI SATU SAMA LAIN tanpa terkotak-kotak oleh sentimen suku, agama, ras, golongan dan sejenisnya. Jika setiap anak bangsa bisa menghargai orang lain secara manusiawi, niscaya moral bangsa (terutama moral para orang tua - bukan hanya generasi muda) akan menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan tegas saya katakan, pembuatan Ranperda atau Perda untuk pendidikan Al Qur'an, atau pendidikan agama apapun, sungguh tidak dibutuhkan di sini, di negeri yang dibangun dengan landasan KEBHINNEKAAN ini. Dan undang-undang atau peraturan-peraturan politis seperti ini akan berpotensi membuat ketersinggungan antar sesama anak bangsa yang sangat beragam ini. Dan lebih dari itu pula, pembuatan Perda Pendidikan Al Qur’an atau yang sejenisnya, justru melecehkan agama, seolah-olah agama tak berdaya apa-apa sampai harus diatur dan dibuatkan produk politik (perda) oleh manusia, oleh pejabat, yang maaf - belum tentu semuanya patut dipanuti dan diteladani oleh para generasi muda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5231659614897170425?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5231659614897170425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/ranperda-pendidikan-al-quran.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5231659614897170425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5231659614897170425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/ranperda-pendidikan-al-quran.html' title='Ranperda Pendidikan Al Qur&apos;an?'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1524889253414758432</id><published>2008-12-03T11:20:00.003+07:00</published><updated>2008-12-03T13:30:15.949+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>“Valuable Lessons to Learn Now from The Sudan Conflict”</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.aumkar.org/"&gt;Anand Krishna&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sudan, mungkin sejak lama dilupakan oleh mesyarakat dunia jika tak terjadi konflik di Darfur. Beberapa waktu lalu, saat turut berpatisipasi dalam konferensi di luar negri, saya memiliki kesempatan berjumpa dengan seorang professor dari barat yang diutus oleh PBB untuk membantu menyelesaikan sengketa di Darfur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sang professor, seorang ahli masalah Sudan, tak habis pikir, “Orang-orang yang bertikai di Darfur itu semuanya Muslim, bahkan mereka berasal dari sekte yang satu dan sama pula.”PBB memperkirakan konflik tersebut telah menyebabkan 500.000 nyawa melayang akibat tindak kekerasan dan wabah penyakit dalam rentang waktu kurang dari 5 tahun. Bahkan dari pihak LSM menyatakan bahwa jumlah korban meninggal setidaknya 2 kali lipat dari yang perkiraan PBB. Jutaan orang mati sia-sia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kekeringan dianggap sebagai salah satu penyebab utama konflik di Darfur. Pendudukan local Banggara dari Darfur terpaksa memindahkan peternakannya ke arah selatan. Di daerah yang dikuasai oleh komunitas tersebut memicu terjadinya konflik di Darfur. “Sekarang”, ujar Sang Profesor, “tak jelas siapa berperang melawan siapa. Orang-orang yang berasal dari komunitas yang sama bisa saling bunuh-membunuh hanya demi sepetak tanah dan sebuah sumur.” Sekretaris jendral PBB Ban Ki-moon menganggap pemanasan global sebagai penyebab konflik di Darfur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pertanyaan pokoknya ialah: Apakah Sudan, di seluruh dunia, satu-satunya negara yang menderita kekeringan? Jawabanya: Tidak! Jadi, konflik di sana sama sekali tak masuk di akal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rakyat Sudan, di bawah pemerintahan Presiden Omar al-Bashir, bukanlah negara demokratis. Pejabat yang tak populis ini telah dihukum karena kejahatan perang melawan rakyatnya sendiri oleh Dewan Kriminal Internasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, ketika hakim Luis Moreno-Ocampo meminta kepada anggota Dewan yang sama untuk mengeluarkan surat penahanan terhadap al Bashir, ia justru dikritik habis-habisan. Siapa para pengkritiknya? Kenapa mereka membela si diktator dan bukannya memihak rakyat Sudan? Apa kepentingan mereka?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, Sudan dilaporkan menyewakan lebih dari 800.000 hektar tanahnya yang paling subur kepada Saudi. Mengikuti kerajaan yang memimpin monarki kaya minyak tersebut, beberapa Negara Teluk, termasuk Mesir, sedang dalam proses menekan kesepakatan serupa. Diharapkan ratusan ribu hektar tanah lainya akan segera disewakan pada akhir tahun ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masa kontraknya mancapai 99 tahun. Paling tidak dua generasi rakyat Sudan akan hidup menderita karena keputusan yang dibuat oleh pemimpinnya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sudan tak terserang kekeringan separah yang kita bayangkan. Sudan masih memiliki banyak daerah subur, yang tanahnya bisa diolah untuk kepentingan masyarakat di Darfur dan tempat-tempat lainya. Ironisnya, pemerintah Sudan tak tertarik melakukan hal tersebut. Mereka lebih suka menyewakan tanah pada Arab. Masyarakat internasional, termasuk Paman Sam kita tercinta dan koleganya tetap diam menyikapi masalah ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertambahan penduduk yang begitu cepat di daerah Teluk, kelangkaan air, dan inflasi harga pangan memaksa Arab untuk mengembangkan pertanian di luar negeri. Tak hanya di Sudan, tapi juga di negara-negara lain, Pakistan juga menjadi salah satu targetnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan laporan dari Komoditi Online, inflasi di Saudi telah menyebabkan masyarakat diam (apatis); ini ancaman bagi pihak monarki, yang di atas segalanya sangat takut pada revolusi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut data dari think tank Pusat Penelitian Teluk di Dubai, Arab Saudi membutuhkan 1.212 meter kubik air tanah untuk memproduksi 1 ton barley. Hal ini menyebabkan Saudi tak memiliki pilihan lain selain berhenti mengolah tanah di wilayahnya sendiri. Mereka musti mencari sumber pasokan pangan di tempat lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak dari kita yang tahu bahwa inflasi di kerajaan tersebut mencapai angka 10,6 persen pada bulan Juni lalu. Alasanya: harga kebutuhan pangan melonjak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Situasi di negara-negara Teluk lainya tak lebih baik, karena 60 persen bahan pangan mereka pun harus diimpor. Kita juga banyak yang tak tahu bahwa di Uni Emirat Arab sana hanya 1 persen lahan yang bisa ditanami, sedangkan di Arab Saudi sedikit lebih baik, angkanya mencapai 3 persen.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Daerah Teluk memang tak kondusif untuk mengembangkan pertanian, sehingga masyarakat di sana sangat tergantung pada bahan pangan impor, mereka mampu membeli di pasar bebas dengan harga internasional tanpa banyak kesulitan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi, kalau di masa depan minyak dan sumber alam lainnya habis, maka daerah ini tak akan bisa mempertahankan tingkat ketergantungan pada persediaan bahan pangan dari luar tersebut,” ujar Shoaib Ismail, seorang agronomis kondang yang tergabung dalam Internasional Center For Biosaline Agriculture di Dubai saat diwawancarai oleh Inter Press Service.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ismail juga mengatakan bahwa negara-negara Teluk telah bekerjasama dengan negara-negara berkembang yang memiliki budaya, agama, dan latar belakang politk yang sama, dan dengan mereka pula sudah meneken kesepakatan jangka panjang. Ditambahkan, “Mereka dapat memperoleh bahan mentah dengan harga yang relatif murah, dan ini bisa mengurangi ketergantungan pada negara-negara barat…”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mari kita membaca tulisan di atas dinding. Apa yang sebenarnya terjadi di balik konflik Darfur? Pada 1970-an negara-negara Teluk tak berhasil percobaannya untuk merubah Sudan menjadi keranjang makanan mereka setelah Amerika mengancam hendak menghentikan pasokan makanan serta memboikot produk minyak. Saat itu mereka gagal, sekarang mereka berhasil.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, apa sebenarnya yang terjadi di balik konflik-konflik di Negara kita ini? Apa sebenarnya yang terjadi ketika para pelaku bom Bali menikmati status sebagai tamu-tamu negara, RUU porno, dan isu “aliran sesat”? Pertimbangkan juga meningkatnya kunjungan pejabat kita ke Timur Tengah, dan petro dollar yang dikuncurkan atas nama agama, pendidikan, dan tentu saja investasi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada ketidaksadaran kita dan kealpaan pejabat serta pemimpin kita, pelan-pelan seluruh bangsa dan negara diperbudak baik secara budaya dan ekonomi. Kekuatan kegelapan dari iblis dan kepentingan pribadi bekerjasama untuk memecah-belah bangsa ini, sehingga akan lebih mudah bagi mereka untuk menguasai sumber daya kita. Kita, rakyat Indonesia harus bangkit dan bersuara lantang melawan kebatilan semacam itu. Dan, waktu untuk melakukan itu ialah saat ini, atau tidak sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;Anand Krishna* Aktivis Spiritual&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1524889253414758432?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1524889253414758432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/valuable-lessons-to-learn-now-from.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1524889253414758432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1524889253414758432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/valuable-lessons-to-learn-now-from.html' title='“Valuable Lessons to Learn Now from The Sudan Conflict”'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7927020225235744178</id><published>2008-12-02T14:30:00.005+07:00</published><updated>2008-12-02T14:51:23.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Kupang-Timor</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/STTn7l4oz5I/AAAAAAAAAhE/GQejgfb99oE/s1600-h/Kupang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275096074525659026" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/STTn7l4oz5I/AAAAAAAAAhE/GQejgfb99oE/s400/Kupang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Salam untuk semua, &lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;26 sampai 30 Nopember kemarin, saya diundang ke kota Kupang - Timor, untuk menghadiri acara Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika Regio Sunda Kecil dan Tanah Papua, yang diselenggarakan Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tentu ada banyak cerita yang hendak saya bagi dengan seluruh teman-teman blogger. Tetapi karena kesibukan di kantor sangat padat akibat saya tinggalkan selama empat hari, cerita-cerita tersebut belum bisa saya tulis dan posting sekarang. Tetapi foto &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Kota Kupang dari Udara&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; ini saya pasang, setidaknya untuk menebus absen saya selama empat/lima hari dari tegur-sapa anda semua. Dan juga sebagai bukti bahwa saya ke Kupang naik pesawat boing, bukan terbang dengan ilmu gaib, juga bukan berenang menyusuri Samudera Indonesia di selatan sana hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7927020225235744178?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7927020225235744178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/kupang-timor.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7927020225235744178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7927020225235744178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/12/kupang-timor.html' title='Kupang-Timor'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/STTn7l4oz5I/AAAAAAAAAhE/GQejgfb99oE/s72-c/Kupang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-8687076749222696774</id><published>2008-11-25T10:33:00.002+07:00</published><updated>2008-11-25T10:49:54.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERAMBI SENJA'/><title type='text'>Kepalamu Tak Segundul Hutanku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekarang saatnya kita harus yakin, bahwa hutan yang gundul pasti membawa bencana. Sekaranglah kita semua, ya semua semua semua semua harus yakin bahwa pengerusakan lingkungan hidup pasti akan menyengsarakan hidup kita sendiri. Sekaranglah kita harus yakin, melihat dengan mata kepala sendiri, merasakan dengan badan sekaligus jiwa sendiri, bahwa dosa kepada alam pasti melahirkan karmaphala buruk dan kita hidup-hidup masuk neraka!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oh, kita? Siapa kita? Kenapa kita?&lt;br /&gt;Ya, memang kita! Kitalah yang telah membiarkan orang-orang sinting menebangi pohon-pohon di hutan untuk kepentingannya sendiri. Kita telah membiarkan mereka dengan alasan malas bicara, atau takut bikin perkara, atau berdalih: toh sudah ada petugas dan hukum! Kita semua, tak pernah berani tegas bersikap ketika tahu ada tetangga yang suka pergi ke hutan menjarah pohon-pohon. Kita tak pernah tegas ketika melihat ada saudara kandung, sepupu, mindon, paman, ipar, Pakde, Paklik, Paktut, Pakngah, Paktu, mondok di hutan dengan puluhan buruh penebang dan penarik gelontongan kayu yang mereka tebangi di hutan seperti menebangi miliknya sendiri. Kita tak pernah tegas bersikap ketika para oknum petugas keamanan, para oknum pejabat, para oknum penegak hukum, berskongkol dengan para penjarah hutan. Kita tak pernah tegas mempertanyakan kenapa yang tertangkap dan masuk bui selalu para kaum kecerete? Kenapa bukan para cukong yang menyuruh dan membiayai mereka untuk menjarahi hutan-hutan sampai gundul plontos itu?&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita, ya kita semua, selalu sudah merasa lega ketika setumpuk gelontongan kayu berhasil ditangkap dan ditimbun di halaman belakang kantor polisi, atau di halaman samping kantor kejaksaan, atau di gudang yang sengaja dibangun pemerintah untuk menampung kayu-kayu hasil tangkapan. Kita selalu sudah merasa lega ketika selempir surat kabar memberitakan ada pencuri kayu yang tertangkap lalu ditahan pihak berwajib. Kita selalu sudah merasa lega ketika pemerintah mengeluarkan peraturan-peraturan atau larangan-larangan untuk menebangi hutan. Kita selalu sudah merasa lega ketika mendengar ada segelintir aktifis pecinta lingkungan melakukan penyuluhan tentang hutan, lalu mereka bersama-sama para pejabat pergi ke hutan yang sudah gundul melakukan penghijauan kembali secara simbolis dengan menanam beberapa bibit pohon sebesar kelingking. Kita selalu sudah lega…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, secara ajaib hutan terus saja kehilangan pohon-pohonnya. Secara ajaib bukit-bukit kehilangan kekuatan untuk menahan rembesan hujan. Secara ajaib kelestarian dan harmoni lingkungan kita terbantai!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka di suatu pelosok Jawa, di suatu pelosok Kalimantan, di suatu pelosok Sumatera, di suatu pelosok Bali, di suatu pelosok hingga kota-kota di Indonesia Raya, banjir bandang bisa sekonyong-konyong menyapu pemukiman penduduk hingga seluas beberapa kecamatan. Tanah longsor bisa sekonyong-konyong menyapu dan melenyapkan sebuah perkampungan. Dapatkah kita membayangkan seberapa luas “sekian kecamatan” itu, atau seberapa luas “sepemukiman penduduk” atau “sebuah perkampungan” itu? Seberapa banyak warga di wilayah seluas itu yang sebagian besar di antaranya tak pernah ikut menjarah hutan tetapi ikut tersapu air bah bahkan sampai mati? Dapatkah kita bayangkan penderitaan anak-anak balita yang mesti dibawa mengungsi ke bukit-bukit, atau ke emper-emper toko, sekolah, masjid, gereja, tidur beralas tikar atau plastik tipis bahkan tanpa sempat diberi makan karena tak ada bantuan makanan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Banjir bandang dan tanah longsor adalah realita kesekian dari berbagai musibah kemanusiaan di negeri hijau ini. Dan terlalu nyinyir untuk menyebutkannya kembali. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mari kita hitung saja bersama-sama, berapa kira-kira harga kayu-kayu yang telah tercuri dari hutan itu? Berapa ribu, juta, milyar dan trilyun uang hasil penjualan kayu jarahan yang telah masuk entah ke kantong-kantong siapa, entah ke dompet-dompet siapa, entah ke rekening-rekening siapa. Pasti bertrilyun-trilyun. Dan uang sejumlah itu pasti cukup untuk dibagi-bagikan kepada penduduk miskin negeri ini untuk mereka jadikan modal usaha kecil-kecilan agar pelan-pelan bisa memperbaiki hidup mereka. Uang sejumlah itu pasti cukup untuk membiayai riset dan penanganan atas berbagai epidemi semacam flu burung, demam berdarah, Aids, chikungunya, desentri, folio, busung lapar dan entah apa lagi yang kini melanda negeri ini. Uang sejumlah itu pasti cukup buat mensubsidi harga obat-obatan bagi rakyat jelata sehingga mereka tidak mengeluhkan biaya rumah sakit yang tak terjangkau dan seterusnya dan seterunya dan seterusnya!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jumlah uang dari penjualan kayu-kayu hutan yang dijarah di seantero negeri ini, pasti cukup membantu untuk biaya perbaikan infrastruktur di daerah-daerah yang masih terisolir macam pedalaman Kalimantan, pedalaman Sulawesi, pedalaman Irian, gugusan Nusa Tenggara Timur dan seterusnya. Pasti cukup membantu untuk merehabilitasi hidup anak-anak jalanan yang tersebar di sudut-sudut kelam metropolitan. Pasti cukup membantu untuk membiayai gedung-gedung sekolah yang roboh yang lokasinya bahkan tidak jauh dari istana presiden kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aduh Mak, kayanya negeri ini sebenarnya. Hanya dengan menghitung uang dari penjualan kayu-kayu hutan yang dijarah itu saja, bangsa ini seharusnya sudah bisa berbuat banyak. Belum lagi dari hasil tambang, atau hasil laut misalnya. Sungguh terlalu jauh berlebihan bila dibandingkan dengan negara Singapura yang seuprit itu misalnnya, dengan Thayland atau Korea Selatan yang nyempil itu juga. Hh…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Tetapi yang lebih menyakitkan sesungguhnya, adalah melihat nasib orang-orang yang setiap hari masuk hutan untuk menjarah itu. Setiap hari mereka masuk hutan menebangi kayu jati dan jenis-jenis kayu-kayu mahal lainnya. Tetapi nasib mereka toh tetap segitu-segitu saja. Kumal dan jelata seperti kecoa. Lalu ke mana uang hasil penjualan kayu-kayu jarahan itu sesungguhnya? Siapa saja yang menikmati? Alah, gak usah dipikirlah. Bisa gundul kepalamu nanti. Walau tak segundul hutanku!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-8687076749222696774?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/8687076749222696774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/11/kepalamu-tak-segundul-hutanku.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8687076749222696774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/8687076749222696774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/11/kepalamu-tak-segundul-hutanku.html' title='Kepalamu Tak Segundul Hutanku'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5106031639802325049</id><published>2008-11-18T09:18:00.002+07:00</published><updated>2008-11-18T09:24:50.580+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Bintang Jatuh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SAYANG&lt;/strong&gt;, kemana perginya bintang jatuh itu? Gadis remaja itu bertanya kepada: entah kekasihnya, entah sahabatnya, entah guru kimianya, entah guru bahasa Inggrisnya, entah kepala sekolahnya, entah bapaknya, entah ibunya, entah kakaknya, entah adiknya, entah tetangganya, entah dirinya sendiri, entah mimpinya, entah lamunannya, entah...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maukah kamu, maukah kamu menjadi bintang jatuh itu? Menjadi sesuatu yang terbakar habis, jatuh, tetapi sempat memberikan keindahan bagi angkasa gelap sebelum akhirnya dia hilang sama sekali? Maukah kamu menjadi keindahan itu dalam pencarian jiwaku yang entah mengapa pula berabad-abad abadi? Maukah kamu menjelaskan sedikit saja, kenapa di antara kegelapan itu ada juga sesuatu yang rela terbakar demi seberkas cahaya yang toh hanya sekejap juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gadis remaja itu bertanya, ketika pertanyaan itu diutarakannya, sebuah televisi sedang menyala. Di tengah cahaya menyilaukan, gambar-gambar kengerian tampil silih berganti dengan narasi-narasi yang tak kalah menakutkan. Tentang perang yang masih terus meminta korban di suatu negara. Tentang bom-bom yang masih terus meledak di sebuah kota. Tentang mayat-mayat yang hangus tanpa bisa diidentifikasi. Tentang kekeringan suatu wilayah di sebuah pulau. Tentang banjir, tentang badai dan angin topan yang membunuh ribuan manusia. Tentang ratusan anak-anak yang terbunuh di sebuah aksi penyanderaan. Tentang puluhan perampokan, pembunuhan, penyiksaan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat yang sama, selembar koran juga sedang terbuka dan dibaca oleh seseorang. Ada gambar-gambar dan hurup-hurup yang disusun melulu dari kemarahan. Ada kalimat-kalimat yang dikutip melulu dari kecurigaan, umpatan dan kedengkian. Ada ungkapan-ungkapan yang ditulis melulu dari kemunafikan, kebohongan dan kepura-puraan. Ada juga tanda-tanda baca yang justru melayang-layang terus tak pernah bisa menyentuh bumi.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SAYANG&lt;/strong&gt;, maukah kamu, maukah kamu menjadi bintang jatuh itu? Menjadi sesuatu yang terbakar habis, jatuh, tetapi sempat memberikan keindahan bagi angkasa gelap sebelum akhirnya dia hilang sama sekali? Maukah kamu menjadi keindahan itu dalam pencarian jiwaku yang entah mengapa pula berabad-abad abadi? Maukah kamu menjelaskan sedikit saja, kenapa di antara kegelapan itu ada juga sesuatu yang rela terbakar demi seberkas cahaya yang toh hanya sekejap juga? Gadis remaja itu bertanya kepada: entah kekasihnya, entah sahabatnya, entah guru kimianya, entah guru bahasa Inggrisnya, entah kepala sekolahnya, entah bapaknya, entah ibunya, entah kakaknya, entah adiknya, entah tetangganya, entah dirinya sendiri, entah mimpinya, entah lamunannya, entah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya tak bisa menjawab seandainya pertanyaan gadis remaja itu ditujukan kepada saya. Saya bayangkan, tentu akan lama sekali saya berpikir untuk akhirnya juga menggeleng serta menyerah dalam pertanyaan yang sama. Hhh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya akan sampaikan sebuah analogi (yang sebenarnya tak persis demikian), sebuah kisah, sebuah dongeng. Bahwa, embun yang datang di dini hari hingga pagi, yang lalu bergelayut di ujung-ujung daun dan tangkai rumput, juga adalah sesuatu yang rela berkorban untuk menghadirkan sebuah keindahan bagi bumi. Bayangkan, apa sih untungnya sang embun bergelayut di sana kalau toh dalam sekejap ia disedot menjadi uap tak berwujud oleh sang mentari yang datang kemudian dengan tubuh panas senantiasa. Kenapa embun itu harus hadir di pagi hari? Kenapa ia bergelayut di sana, kecuali kalau engkau jeli maka engkau akan sanggup menangkapnya lalu membahasakannya dengan bunyi: keindahan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka begitulah sejatinya hidup. Ada saja yang rela datang justru ketika yang kebanyakan memilih pergi. Ada saja yang rela menunggu di antara yang bosan. Ada saja yang diam ketika yang kebanyakan justru sedang riuh. Ada saja yang terjaga ketika yang kebanyakan sedang tidur. Ada saja yang tak memilih di tengah-tengah yang berebut. Ada saja yang memberi ketika yang kebanyakan menghindar. Ada saja yang jujur di saat yang kebanyakan menyembunyikan. Ada saja yang berbagi ketika yang kebanyakan berburu. Dan embun itu, juga bintang jatuh itu, sejatinyalah juga mengambil posisi pada yang antara itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka kalau boleh saya mengaku, saya mau jadi bintang jatuh itu. Saya mau jadi embun itu. Hadir sejenak bahkan sekejap, tetapi menjadi pernah ada. Mungkin memang tak banyak yang sempat memperhatikan, tetapi pasti ada yang melihat. Seperti bintang jatuh itu, mungkin hanya gadis remaja itu yang (selalu) melihatnya. (Atau mungkin kamu memang senantiasa menunggu?) Seperti embun itu, bahkan mungkin tak seorang pun yang sempat menyadari kehadirannya. Ya, saya mau jadi bintang jatuh itu!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5106031639802325049?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5106031639802325049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/11/bintang-jatuh.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5106031639802325049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5106031639802325049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/11/bintang-jatuh.html' title='Bintang Jatuh'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-3971248359898028368</id><published>2008-11-10T16:05:00.000+07:00</published><updated>2008-11-10T16:06:25.629+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Teman</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ketika dilahirkan dulu, nenek saya yang orang kampung dan percaya banget pada hal-hal yang berbau mistis, mengatakan saya sebenarnya ditemani oleh empat saudara. Tapi saya tak merasa ditemani oleh siapa-siapa. Saya tak melihat siapapun, kecuali dunia yang terlihat teramat aneh. Maka saya menangis keras-keras. Saya merasa terasing sendiri. Saya merasa, Tuhan telah menjerumuskan saya pada sebuah wilayah yang terlalu rumit untuk saya pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia saya merangkak. Dunia yang rumit dan asing ini kemudian menyodorkan pada saya kehadiran anak-anak lain secara nyata. Masa kanak-kanak yang tak kalah anehnya itu, saya habiskan dengan bermain dan belajar bersama banyak anak-anak seusia. Lambat laun, kami pun sama-sama paham atas sebuah perbendaharaan kata: “teman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, setelah dengan anggota keluarga, sebagian lagi hidup ini saya jalani dengan teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah merasa cukup banyak punya teman. Beragam usia, jenis kelamin, pekerjaan bahkan beragam agama. Beragam kesenangan, karakter, selera, sifat, kebiasaan dan seterusnya. Beragam bentuk wajah, bentuk kepala, bentuk tubuh, beragam rupa. Beragam cara bicara, cara makan, cara berjalan, cara tidur, cara mandi, beragam cara bercinta, beragam cara hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teman-teman itu, saya melakukan hal-hal yang biasa-biasa saja. Kami pernah saling membantu, saling jujur, saling tegur, saling menasehati, saling memberi, saling berbagi, saling mendoakan, saling menyemangati, saling membela, saling menghormati, saling memaafkan, saling memaklumi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepati sebagai manusia, kami juga pernah saling tidak membantu, saling tidak jujur, saling tidak tegur, saling tidak menasehati, saling tidak memberi, saling tidak berbagi, saling tidak mendoakan, saling tidak menyemangati, saling tidak membela, saling tidak menghormati, saling tidak memaafkan, saling tidak memaklumi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu yang berjalan tak henti, teman-teman saya juga bertambah. Bukan hanya karena saya memang senang mencari teman atau berusaha menjadi teman orang lain, tetapi banyak juga yang berusaha mati-matian agar dapat berteman dengan saya, dengan suatu alasan tertentu bahkan kepentingan tertentu. Dan hal-hal semacam ini pun sungguh tidak merisaukan saya. Saya senantiasa menerima dan mengangapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula sebaliknya, bersama waktu, teman-teman saya juga ada yang hilang. Mereka hilang dari kehidupan saya karena ada yang mati, ada yang berhenti menjadi teman saya secara baik-baik, ada yang hanya karena kawin lantas memilih berkonsentrasi penuh dengan istri atau suaminya lalu meninggalkan saya, ada yang karena sudah menjadi pejabat, menjadi pengusaha, menjadi penjahat, lalu lupa pada saya. Ada yang karena gila, ada yang karena marah, ada yang karena benci, ada yang karena merasa kalah bersaing dengan saya, ada yang karena ..., ah, masih banyak lagi alasan atau sebab lainnya yang akhirnya menghentikan per-temanan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang bilang, teman adalah kekayaan. Banyak teman berarti hidup ini gampang. Banyak teman mencerminkan bahwa diri kita adalah orang baik. Banyak teman adalah sebuah kebahagiaan. Banyak teman bahkan bisa masuk surga. Tapi saya tidak merasa begitu. Saya tetap hanya merasa biasa-biasa saja. Karena banyak teman saya pernah menjadi bahagia, senang, gembira, bersemangat dan seterusnya, tetapi juga banyak teman saya yang pernah menjadi marah, menjadi repot, menjadi sedih, menjadi sakit, menjadi benci, menjadi kacau-balau, menjadi tak bisa tidur dan seterusnya. Bahkan jujur saja, sering ketika berada di tengah-tengah banyak teman, saya justru merasa kesepian sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apabila kemudian ada orang yang selama ini saya rasa sebagai teman tiba-tiba mengaku tidak mengenal saya, saya pun tak apa-apa. Tidak apa-apa. Karena memang begitulah siklus kehidupan. Karena memang begitulah kehidupan: terus berjalan, sekaligus aneh, bahkan misteri...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-3971248359898028368?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/3971248359898028368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/11/teman.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/3971248359898028368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/3971248359898028368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/11/teman.html' title='Teman'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1695298699671410679</id><published>2008-10-31T14:39:00.000+07:00</published><updated>2008-10-31T14:43:10.145+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Tidak Semua Sumbangan adalah Pungli!</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;em&gt;Beberapa tahun terakhir ini, telah beberapa kali di Kabupaten Jembrana terdengar selentingan bahkan pemberitaan di koran-koran lokal, bahwa telah terjadi perilaku pungli (pungutan liar) di suatu sekolah. Ini tentulah kabar yang sangat buruk. Buruk dari sisi etika, apalagi hukum, dan sangat buruk dari sisi proses pendidikan itu sendiri. Dan begitu ada berita dengan judul atau kata-kata “pungli” di dalamnya, secara otomatis pula imajinasi masyarakat terhadap subyek yang menjadi berita tersebut mengerucut kepada penghakiman. Semua orang secara serta-merta menjatuhkan vonis bahwa; sekolah tersebut adalah sarang kriminal, bahwa guru atau kepala sekolah di sekolah tersebut adalah para pemalak atau koruptor atas siswa-siswi serta para orang tua/wali mereka. Selanjutnya, mudah ditebak, selentingan dan kabar-kabur ini pun akan segera menjadi lahan politisasi dari berbagai pihak yang akan semakin merugikan proses pendidikan di sekolah itu sendiri.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita soal pungli di sekolah di Jembrana yang paling anyar juga menimpa SMA Negeri 1 Negara. Salah satu lembaga pendidikan favorit dan termasuk sekolah unggulan ini tertimpa berita miring pungli gara-gara Komite Sekolah memungut “iyuran sukarela” bagi setiap anak kelas satu. “Iyuran Sukarela” tersebut dipungut dengan memakai “pola ring” (ada rentangan jumlah minimal dan maksimal) dan dituangkan ke dalam surat pernyataan kesediaan menyumbang oleh masing-masing orang tua/wali murid. Pola sumbangan inilah yang kemudian oleh para orang tua/wali murid (menurut berita koran tersebut), dijadikan alasan keberatan dan disebut pungutan liar (pungli) oleh (anehnya) orang tua/wali murid itu sendiri. Kenapa aneh? Karena pembahasan mengenai alasan serta permasalahan yang ada sehingga Komite Sekolah SMA Negeri 1 Negara memutuskan untuk meminta bantuan sumbangan kepada para orang tua siswa, telah melalui dua tahap pertemuan, yakni pertemuan pertama dihadiri secara terbatas oleh para Pengurus Komite Sekolah, dan pertemuan kedua digelar secara terbuka dengan mengundang seluruh orang tua/wali siswa bersamaan dengan pembagian laporan hasil ulangan (rapor) tengah semester.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini dapat dikatakan menjadi aneh karena dalam pertemuan terbuka tersebut para orang tua/wali murid yang hadir telah melakukan pembahasan serta tanya-jawab yang cukup alot, baru kemudian disimpulkan untuk memungut sumbangan dengan pola seperti disebutkan tadi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terperangkap “Gratis”?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang gampang berubah, pagi “iya”, siangnya bisa “tidak”. Tetapi dalam hal ini, Independen News hanya mencoba hendak memaparkan bahwa bagaimana sih isu-isu dan kabar-kabur pungli di sekolah di Jembrana yang beberapa kali terjadi belakangan ini, baik yang ada kaitannya langsung dengan isu pungli di SMA Negeri 1 Negara maupun isu-isu pungli lainnya yang pernah menimpa sekolah lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui umum, salah satu program unggulan di bidang pembangunan pendidikan di Kabupaten Jembrana adalah kebijakan yang didukung oleh Surat Keputusan (SK) Bupati Jembrana yang intinya “melarang segala bentuk pungutan kepada siswa maupun orang tua/wali murid”, karena program pendidikan di Kabupaten Jembrana sudah disubsidi oleh pemerintah (daerah).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri, bahwa kebijakan subsidi biaya pendidikan yang akhirnya lebih dikenal dengan istilah “pendidikan gratis” inilah yang membawa Kabupaten Jembrana ke puncak kejayaan dan ketenaran. Masyarakat Jembrana menyambutnya dengan bahagia, dan berbagai daerah berduyun-duyun berkunjung ke Jembrana untuk mengetahui dan belajar lebih dekat, karena mereka tak habis pikir bagaimana sekolah kok bisa gratis. Uangnya dari mana, bagaimana implementasinya, bagaimana outputnya kemudian, dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja pula, pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab Jembrana, dengan sangat meyakinkan bisa memaparkan serta membuktikan bahwa semua itu memang mungkin. Mengapa tidak bisa? Bukankah “kalau mau pasti bisa”? Demikian slogannya. Dan rata-rata setiap tamu daerah serta berbagai lembaga yang datang melihat dari dekat implementasi kebijakan tersebut menyatakan rasa puas serta pulang dengan rasa kagum yang bertambah. Dan, banyak yang meyakini, bahwa program “Pendidikan Gratis” di Jembrana inilah kemudian yang mengilhami lahirnya Program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang belakangan ini digelontorkan Pemerintah Pusat bagi siswa-siswi SD dan SMP sederajat secara nasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sihir istilah “gratis” dalam pendidikan ini, tentu saja membawa dampak sangat positif terutama dalam hal peningkatan partisisapi masyarakat untuk mau menyekolahkan putra-putrinya (di Jembrana angka partisipasi ini menembus angka 100%). Artinya, sejak adanya kebijakan yang merupakan gagasan serta inovasi Bupati Jembrana Prof. I Gede Winasa, tidak ada lagi anggota masyarakat yang takut untuk menyekolahkan putra-putrinya karena terbentur biaya. Semua anak bisa sekolah minimal SMA tanpa kuatir tidak bisa membayar SPP.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hal ini ternyata tidak pula luput dari dampak kurang baik. Sihir kalimat “pendidikan gratis” di satu sisi, ternyata perlahan-lahan membuat banyak para orang tua dengan yakin hendak melepasakan tanggungjawab pendidikan putra-putrinya, menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah (daerah). Lebih-lebih kemudian SK Bupati yang disinggung tadi mendapat berbagai bumbu politis dari berbagai pihak yang berkepentingan tertentu dan hendak memanfaatkan serta menunggangi dunia pendidikan gratis bagi kepentingannya sendiri. Tidak perlu disembunyikan, banyak elit tertentu yang ke mana-mana ikut-ikutan menjual istilah pendidikan gratis demi mendapat simpati massa. Mereka yang berkepentingan ini, telah mengkampanyekan “pendidikan gratis” secara serampangan bahkan dengan sengaja membunuh pastisipasi masyarakat atas proses pendidikan terutama dari sisi pengadaan sarana dan prasarana proses pendidikan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian “melarang segala bentuk pungutan kepada siswa maupun orang tua/wali murid” yang konteksnya adalah uang SPP dan uang gedung, digeneralisasi menjadi gratis segala-galanya.  Maka tidaklah mengherankan kemudian, bahwa setiap tahun ajaran baru banyak warga yang ribut dan menuduh ada pungli ketika putra-putrinya harus mengumpulkan uang pakaian. Banyak warga masyarakat yang ribut dan menuduh ada pungli ketika putra-putrinya harus membeli buku dan Lembar Kerja Siswa (LKS), banyak warga yang ribut dan menuduh ada pungli ketika putra-putrinya meminta uang untuk biaya ikut studi tour, bahkan banyak warga masyarakat yang ribut dan menuduh ada pungli ketika putra-putrinya meminta uang untuk patungan bikin acara perpisahan kelas misalnya. Istilah “pendidikan gratis” di-gebyah-uyah menjadi semuanya gratis tis tis..., bahkan bila perlu uang sakunya juga harus ditanggung pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, istilah “pendidikan gratis” yang digeneralisir dan dimanipluasi serta dipolitisir oleh kalangan tertentu, telah menutup mata warga masyarakat sebagai bagian dari pihak yang juga bertanggungjawab terhadap proses pendidikan, atas fenomena miris tertatih-tatihnya pengadaan sarana maupun prasaranya pendidikan di sekolah. Bahwa proses pendidikan di sekolah tidaklah hanya cukup dengan bangunan gedung sekolah yang bertembok beton dan berlantai tiga yang dibiayai pemerintah, tetapi juga perlu sarana dan prasarana penunjang seperti alat peraga, sarana kesenian dan olah raga, perpustakaan, laboratorium, hingga tanaman-tanaman bunga untuk membuat asri dan rindang halaman sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu pula, masih ada sederet panjang proses belajar dan mengajar yang perlu partisipasi (terutama pertisipasi pendanaan) dari siapa saja termasuk masyarakat. Bahwa untuk melatih sekaligus menguji kualitas pendidikan yang telah diperoleh peserta didik, mereka perlu diikutkan dalam berbagai event-event pendidikan semacam lomba-lomba (baik lomba akademik maupun non-akademik), mereka perlu dan harus bisa ikut olimpiade mata pelajaran, mereka perlu mementuk kelompok-kelompok penelitian (KIR), mereka butuh berbagai jenis ekstrakurikuler dengan pilihan yang seluas-luasnya. Untuk menambah wawasan dan persiapan mengikuti ujian akhir, para peserta didik juga perlu mendapat sentuhan-sentuhan tambahan dari para akademisi yang sebisanya didatangkan dari luar atau dari lembaga pendidikan lain yang lebih baik daripada yang ada di daerah sendiri. Demikian seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua ini sepenuhnya harus diserahkan kepada pemerintah atau seorang bupati misalnya? Kalau ada yang berpikir demikian, berarti kita sungguh-sungguh warga-bangsa yang belum memahami proses pendidikan yang baik dan berkualitas. Jika ada pemerintah, lembaga atau pejabat yang juga mengatakan sanggup akan menggratiskan semua itu, itu patut diragukan karena jelas akan menghambat dan mengorbankan proses pendidikan yang baik bagi generasi muda dan anak-anak bangsa sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pendek kata, pendidikan yang baik dan berkualitas sudah pasti mahal. Dalam hal ini, sangatlah bijak Pemerintah Kabupaten Jembrana telah mau menanggung sebagian besar beban pendidikan itu dari masyarakat. Tetapi tentulah masih ada sebagian kecil yang memang sangat memerlukan partisipasi masyarakat atau siapa saja untuk menyempurnakannya. Entah bagaimana caranya partisipasi masyarakat itu ditarik dan dikelola, siapapun tidak berwenang dengan terburu-buru menyebutnya itu pungutan liar atau sejenisnya. Alangkah bijaknya siapa saja harus menelusuri dan memahami dulu konteks serta filosofi kenapa sebuah sumbangan harus dikumpulkan. Dan agar semua berjalan fair, tentulah partisipasi juga harus dilanjutkan sampai kepada pengawasan atas pengelolaan dan pemakaian sumbangan itu sendiri. Tidak semua sumbangan adalah pungli!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1695298699671410679?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1695298699671410679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/tidak-semua-sumbangan-adalah-pungli.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1695298699671410679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1695298699671410679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/tidak-semua-sumbangan-adalah-pungli.html' title='Tidak Semua Sumbangan adalah Pungli!'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-838183914081575488</id><published>2008-10-29T13:49:00.001+07:00</published><updated>2008-10-29T13:51:57.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Sedikit-sedikit Pungli</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saya termasuk orang yang jarang kaget. Tetapi Senin kemarin saya benar-benar kaget membaca sebuah berita di sebuah koran lokal (Bali) dengan judul besar: “SMAN 1 Negara Diguncang Pungli”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang kurang suka membaca koran lokal (yang profit oriented maksudnya).  Karena isinya berita buruk melulu. Sementara setiap berita baik, pasti ada tanda bintangnya. Walaupun memang tidak semua koran lokal menganut “kebijakan tanda bintang bagi berita baik”, tetapi toh dalam pikiran sederhana saya, bahwa setiap suatu kebaikan, bila ingin diberitakan di koran harus ditandai “bintang”. Entah apa artinya bintang, saya juga tidak peduli. Yang jelas, sekali lagi, tidak ada berita baik di sini kecuali yang berbintang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dengan judul berita tersebut, hari itu saya terpaksa suka membaca koran lokal. Saya penasaran, masak bekas almamater saya (kendati saya tidak pernah tamat dari sekolah itu), terimbas masalah pungli yang termasuk bagian kriminal juga? Saya penasaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, ternyata yang disebut pungli itu tiada lain adalah upaya penarikan sumbangan oleh Komite Sekolah kepada setiap orang tua/wali murid kelas satu, untuk menunjang kelancaran proses belajar-mengajar dan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah bersangkutan. Dan seingat saya, saya sendiri ikut saat rapat rencana penarikan sumbangan itu, karena saya juga menjadi orang tua siswa  di sana. Dan seingat saya, pertemuan atau rapat penggalangan sumbangan itu sudah melalui musyawarah-mufakat oleh seluruh peserta rapat yang hadir. Di samping itu, rapat juga sudah melalui proses tanya-jawab yang cukup panjang, baru kemudian semua peserta rapat sepakat dan berkomitmen akan menyumbang. Saya termasuk salah satu orang tua siswa yang setuju untuk menyumbang, dengan satu tujuan agar proses pendidikan di SMA Negeri 1 Negara dapat berjalan lebih baik, sehingga anak saya, anak kawan saya, anak tetangga saya, anak kenalan saya dan anak-anak siapa saja yang bersekolah di sana bisa mendapat pendidikan yang lebih berkualitas lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga semangat ingin menyumbang, walau uang untuk menyumbang itu sendiri mungkin saya pinjam dulu dari teman atau tetangga, karena saya ingin berpartisipasi dalam pendidikan di daerah saya, ingin membantu kepala sekolah dan guru-guru di sana agar lebih leluasa mengajak para siswanya berkreatif dan berinovasi di bidang pendidikan. Saya semangat menyumbang, karena saya merasa selama ini saya sudah sangat banyak dibantu oleh pemerintah (kabupaten) dalam menyekolahkan anak-anak saya. Saya semangat menyumbang karena saya sudah lama tidak bayar SPP, uang gedung dan uang BP3, jadi secara logika saya sekarang bisa menyisihkan sedikit penghasilan saya. Daripada saya pakai beli togel atau yang nggak-nggak lainnya, mendingan saya sumbangkan ke sekolah. Ya, sekali-sekali saya juga ingin membantu, biar saya tidak terlalu berdosa karena terlalu cuek dengan proses pendidikan anak-anak saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika selesai membaca berita tersebut saya makin heran. Dalam berita tersebut, konon para orang tua siswa keberatan dan mengeluh dengan sumbangan itu, karena hal itu sebuah tindakan pungli alias pungutan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak habis pikir, orang tua mana yang mengeluh itu? Kenapa baru sekarang bicara sambil menyembunyikan identitas dirinya? Kenapa tidak terang-terangan saja bilang tidak setuju saat dalam rapat? Sensasi apa sih yang ingin dicapai oleh yang mengaku “orang tua siswa” itu? Sementara, jika kita bicara soal keluh-mengeluh, apapun saya ini memang layak dikeluhkan. Kita juga harus mengeluh dengan harga beras dan sembako yang tinggi, kita juga harus mengeluh dengan bunga cicilan sepeda motor yang tinggi, kita juga harus mengeluh dengan ongkos main di time zone yang tinggi, kita juga harus mengeluh dengan harga semen, pasir, batu bata, genteng, baju, celana dalam, shampo, obat kurap, obat panu, dsb dsb dsb yang semuanya tinggi! Semua layak dan harus dikeluhkan. Tetapi, apakah biaya untuk membangun serta mendapatkan pendidikan yang baik dan lebih berkualitas bagi anak-anak sendiri juga harus dikeluhkan? Maaf, bagi saya: tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang ada di benak saya justru perasaan takut. Saya takut, apabila segala sesuatu dengan mudah disebut pungli, tentulah akan ada dampak lain. Apalagi ini dunia sekolah, dunia pendidikan. Kalau sebuah penggalangan sumbangan yang bahkan sudah secara blak-blakan dibahas dalam pertemuan atau rapat dan disetujui bersama demi peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri masih juga dikategorikan pungli, bagaimana nanti nasib dunia pendidikan kita? Kasihan benar para kepala sekolah dan guru-guru, kasihan benar pengurus Komite Sekolah yang harus hanya menadahkan tangan dan menunggu lalu menunggu kemudian menunggu dan seterusnya menunggu pemerintah untuk mencari jalan keluar bagi penunjang sarana dan prasarana sekolahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Aduh, apa-apa kok dibilang pungli. Sedikit-sedikit pungli! Memang mau gratis semuanya? Memangnya gak mau nyumbang? Boleh boleh sajalah, tapi bilang dong secara terus terang, jangan sembunyi sambil menuduh sembarangan! Pendidikan anak-anak kok dipake main-main? Jika semua disebut pungli, bagi saya, menuntut lalu memungut pendidikan berkualitas dengan gratis melulu, itu juga memungut secara liar alias pungli!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-838183914081575488?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/838183914081575488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/sedikit-sedikit-pungli.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/838183914081575488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/838183914081575488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/sedikit-sedikit-pungli.html' title='Sedikit-sedikit Pungli'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-6432614551475242701</id><published>2008-10-24T10:56:00.000+07:00</published><updated>2008-10-24T10:59:22.885+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Negeri dengan Kemiskinan Bertubi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dulu, satu permasalahan yang paling top yang dijadikan alasan kenapa bangsa Indonesia miskin, adalah bahwa karena negeri ini dijajah selama beberapa abad oleh bangsa lain. Dalam situasi dijajah, tentu sajalah bangsa ini tak pernah mendapat ruang gerak untuk memajukan diri di segala bidang, mulai dari pendidikan hingga perekonomian. Saat dijajah itu pula, bangsa ini dengan sengaja dibodohkan oleh kaum penjajah. Dibodohkan, tentu saja agar tetap bisa dibodoh-bodohin sehingga tak berdaya menggali modal sendiri untuk melakukan perlawanan. Karena bagaimana pun juga, perlawanan sudah pastilah memerlukan biaya. Kita tidak usah bangga mengatakan bahwa bangsa ini cukup bermodalkan bambu runcing saja sudah bisa merdeka. Itu jelas-jelas salah dan tidak masuk akal, dan merupakan sebuah kejumawaan yang semakin membodohkan. Buktinya kita dijajah sampai berabad-abad walau sepanjang abad itu pula kita menghunus-hunuskan bambu runcing ke hidung VOC dan tentara Nipon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, sebuah alasan kenapa penjajah sampai datang menjajah negeri ini adalah, bahwa negeri ini kaya raya dengan potensi alamnya. Negeri ini adalah sebuah hamparan jamrud khatulistiwa yang di dalamnya menyimpan harta melimpah-ruah, mulai dari hutan, lembah hingga lautan. Kaya raya pokoknya! Itulah alasan para penjajah datang merampok berabad-abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di tengah hamparan kekayaan itulah bangsa ini melakoni kemiskinannya sepanjang hayat. Bahwa, pun setelah negeri ini berhasil dimerdekakan oleh para pahlawan, yang artinya harta kekayaan yang ada di dalamnya juga berhasil kita kuasai kembali, toh kemiskinan atas bangsa dan rakyat itu tak kunjung berujung jua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri merdeka, tatanan pemerintahan yang diitikadkan bisa mengatur tata kehidupan bernegara dan berbangsa, terbentuk hingga ke tingkat rukun tetangga. Para pelopor baru, pejuang baru, pemimpin baru, semangat baru, etos kerja baru, memenuhi hamparan negeri merdeka ini. Slogan, moto dan kebulatan tekad untuk bersama-sama menjadi bangsa yang besar, terhormat dan makmur, setiap hari kita kumandangkan di langit khatulistiwa. Pendek kata, kita, bangsa ini, warga negara ini, sudah tidak kurang-kurang berihtiar untuk menjadikan negeri dan diri sendiri bernasib lebih baik setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi nyatanya bangsa ini tetap miskin! Desa-desa tetap kumuh dengan warna buram debu dan lumpur tanpa mampu menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia: sandang, pangan dan papan! Kampung-kampung masih saja dihuni oleh komunitas warga yang nyaris seratus persen hidup terbelakang, kusam dan dingin dengan otot dan otak layu sebelum berkembang, alias tak berdaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota-kota juga tak ada bedanya. Gedung-gedung berkaca mencakar langit dan jalan-jalan raya saling bertumpuk. Tetapi siapakah yang telah membangunnya? Dan untuk siapakah kemewahan itu dibangun? Ternyata bukan oleh dan untuk seluruh warga bangsa negeri ini! Tetapi itu hanyalah keberhasilan segelintir oknum-oknum anak emas negeri yang kebetulan dapat kesempatan baik. Semua itu bukanlah untuk negara dan bangsa secara utuh, melainkan hanyalah untuk kroni sekaligus pundi-pundi mereka sendiri. Buktinya, di bawah kemewahan gedung-gedung dan jalan raya, berdempetan dan bertumpuk gubuk-gubuk kardus sarang warga negara kelas kecoa yang jumlahnya jauh lebih besar daripada oknum-oknum anak emas negeri yang diberi nasib baik. Di antara kemewahan lampu-lampu merkuri kota, berdempetan dan bertumpuklah lapak-lapak kumal kaum urban dari desa, berjualan rokok cap jangkrik, bakso cap jangkrik, mie goreng dan mie rebus cap jangkrik, bir dan ganja cap jangkrik, sandal jepit cap jangkrik! Di emper-emper terminal, bertumpuk dan berjejal pula gembel, pengemis dan para tuna segala tuna. Setelah hampir seabad ikut hidup dan menjadi warga di negeri sendiri yang merdeka, mereka toh tetap tak berdaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saban hari kita terkejut dan berteriak soal harga-harga kebutuhan hidup yang kian tak terjangkau. Saban hari kita terkejut dan terhimpit oleh hutang-hutang negeri dan tekanan-tekanan negara asing yang kian nyata. Setiap hari kita berteriak tentang korupsi tetapi tak ada gunanya. Para koruptor konon ditangkap dan diadili, tetapi toh negeri semakin bangkrut! Untuk beras, jagung, kedelai, daging, susu, sabun mandi, obat sakit kepala bahkan ikan asin saja kita harus impor dari negara tetangga. Kita tak mampu mengambil dan memanfaatkannya dari kekayaan negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari raya datang, kita terharu. Warga negeri yang merdeka ini selalu berebut tumpangan untuk bisa pulang berkumpul dengan keluarga. Kereta api tak pernah cukup. Bus-bus tak pernah cukup. Kapal-kapal feri tak pernah memadai. Pemerintah dan negara tak mampu memperbaiki sarana publik. Para cukong kapal terbang obral ongkos tiket. Tetapi itu hanya buat kroni tertentu. Bukan untuk warga kelas sandal jepit yang jumlahnya lebih dari separuh anak negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor-kantor desa dan kelurahan seluruh negeri, bahkan warga tak bisa mendapatkan kartu identitas penduduk sebagaimana mestinya. Bukan karena apa, tetapi tak ada kertas buat formulir. Terpaksa KTP, Kartu Keluarga bahkan Kartu Kesehatan harus dijual. Tetapi toh warga kelas kecoa masih sulit mendapatkan identitas dirinya. Kini alasannya, karena mereka tidak berpartai!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitulah keadaan sebuah negeri dengan kemiskinan bertubi! Dan itu hanyalah sebagian kecil dari potongan-potongan slide film hitam-putih di langit khatulistiwa. Entah di mana negeri itu, di sini atau di tempat lain, tapi kita semua bisa merasakannya seperti merasakan hembusan napas sesosok drakula di tengkuk belakang leher kita, anak-anak negeri!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-6432614551475242701?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/6432614551475242701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/negeri-dengan-kemiskinan-bertubi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6432614551475242701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6432614551475242701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/negeri-dengan-kemiskinan-bertubi.html' title='Negeri dengan Kemiskinan Bertubi'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-6561452704556396586</id><published>2008-10-23T15:41:00.000+07:00</published><updated>2008-10-24T10:31:14.050+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>Kepala Dusun</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Menjelang penghujung 2008 ini, di &lt;a href="http://www.jembranakab.go.id/"&gt;Kabupaten Jembrana &lt;/a&gt;telah, sedang dan akan berlangsung proses penggantian puluhan Kepala Dusun. Karena seorang kepala dusun alias kelian banjar juga merupakan sebuah jabatan politis di dalam tatanan pemerintahan yang berlaku di Bali, maka proses penggantiannya pun ditempuh dengan cara demokrasi-politik, yang kemudian dikenal dengan istilah Pilkadus (Pemilihan Kepala Dusun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi menganut perilaku transparansi bagi publik. Oleh karena itu pula, proses sebuah Pilkadus sama persis dengan hingar-bingarnya proses Pilbup, Pilgub dan Pilpres. Atmosfir politik saat Pilpres di tingkat nasional, bisa sama hangatnya dengan saat penyelenggaraan Pilkadus di tingkat dusun. Penjaringan calon, kampanye serta pencoblosan sama “panasnya” dengan apa yang terjadi saat Pilbup, Pilgub maupun Pilpres. Bahkan tidak jarang sebuah proses Pilkadus menimbulkan ketegangan yang cukup parah antarkelompok pendukung masing-masing calon. Apalagi jika di dalam proses Pilkadus tersebut ada unsur kepentingan-kepentingan tertentu yang ikut menunggangi, semisal kepentingan partai tertentu, kepentingan pejabat tertentu bahkan kepentingan kelompok, keluarga, trah, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah di Kabupaten Jembrana, hingga sejauh ini, proses pemilihan seorang kepala dusun (Pilkadus) selalu bisa berjalan dengan wajar dan normal, aman dan demokratis. Artinya, bahwa terbukti warga masyarakat terbawah yang tinggal di dusun-dusun yang notabene punya hajatan Pilkadus tersebut, secara sungguh-sungguh mampu memahami, memaknai serta memperlakukan demokrasi sebagaimana apa adanya. Sejauh ini masyarakat terbawah menunjukkan, bahwa mereka sangat arif memperlakukan demokrasi tanpa mesti memuatinya dengan embel-embel lain semisal sentimen agama atau golongan. Bahwa proses sebuah Pilkadus boleh panas, tetapi pada akhirnya apapun hasilnya, siapapun pemenangnya, itulah yang menjadi milik mereka. Setelah Pilkadus, kehidupan di dusun-dusun pun kembali seperti apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelayan Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Seorang anggota legislatif secara politik-demokrasi selalu disebut sebagai wakil rakyat. Seorang wakil yang membawa aspirasi rakyat ke permukaan yang lebih tinggi, entah itu di tingkat kabupaten, provinsi maupun negara. Tetapi dia bukanlah pelayan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seorang kepala dusun adalah wakil sekaligus pelayan masyarakat(nya). Dan inilah hakekat yang selalu mesti dipahami serta dilakoni seorang kepala dusun. Ini penting untuk diingatkan kembali, karena selama ini toh kita masih sering menyaksikan banyak kepala dusun yang tidak mampu melaksanakan fungsi hakikinya tersebut. Masih banyak elit di tingkat dusun yang hanya menganggap bahwa jabatan kepala dusun adalah sebuah simbol gengsi dan simbol kekuasaan. Itulah sebabnya, jabatan kepala dusun dalam situasi tertentu kerap menjadi rebutan seperti halnya jabatan bupati atau bahkan presiden. Masih banyak elit di lapisan terbawah yang membayangkan menjadi kepala dusun itu enak, karena dengan jabatan tersebut dia menjadi bagian pemerintah yang otomatis kerjanya cuma memerintah. Bahkan jabatan kepala dusun pun masih banyak yang mengira bisa menjadi jalan untuk bertambah kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kepala dusun adalah murni pelayan masyarakat. Karena dia berbeda jauh dengan kepala desa, camat, bupati, gubernur dan presiden. Pejabat-pejabat ini semua punya staf fungsional. Tetapi kepala dusun tidak! Kepala dusun hanya punya seorang sekretaris yang tidak digaji dan bahkan tidak punya meja kerja di balai dusunnya. Segala kebutuhan masyarakat semisal KTP atau surat kawin atau surat keterangan miskin harus ditangani kepala dusun, bukan sekretarisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dusun ada masalah, semisal orang berselisih dengan tetangga, suami-istri bertengkar, warga kehilangan ayam, ada bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, gempa bumi, seorang pemuda kawin lari, segerombolan berandal mabuk di warung kopi dan lain sebagainya, maka hanya kepala dusunlah yang akan dicari warganya untuk menyelesaikan masalah. Bahkan jika ada sekolah roboh, kepala dusun pulalah yang dicari warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala dusun juga sekaligus wakil rakyat atau wakil masyarakatnya. Dialah yang harus membawa langsung sekaligus memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Kalau masyarakat butuh jalan aspal, jembatan, saluran got, butuh bantuan obat-obatan, butuh perbaikan gedung sekolah, butuh renovasi tempat ibadah, butuh bantuan beras, kepala dusunlah yang harus berjuang. Seorang kepala dusun tidak boleh malu untuk mengakui bahwa masyarakatnya memang masih ada yang miskin, buta hurup atau sakit-sakitan. Terutama jika ada warga yang sakit, seorang kepala dusun harus tahu paling pertama dan ikut berusaha mencarikan obat. Kepala dusun harus berani ngotot dan bila perlu menggebrak meja di rumah sakit bila ada wrganya yang sakit tetapi tidak mendapatkan pengobatan memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seorang kepala dusun adalah benar-benar pelayan serta wakil masyarakat. Entah kemudian suatu permasalahan harus ditangani lembaga lain yang lebih tinggi, tetapi yang mula-mula menjadi mediatornya adalah kepala dusun. Kepala dusun yang baik bagi warganya bahkan tidak akan sempat mengurus keluarganya, dan, bisa-bisa bertambah miskin dari sebelum menjadi kepala dusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perpanjangan Tangan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai elemen pemerintah terbawah, kepala dusun juga sudah pasti sebagai perpanjangan tangan pemerintah yang lebih tinggi. Kepala desa akan memerintah kepala dusun. Camat akan memerintah kepala dusun. Bupati juga akan memerintah kepala dusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala dusun adalah muara segala informasi. Dan selama ini, masalah informasi inilah yang masih menjadi kendala dan harus diperbaiki. Sampai saat ini, masih begitu banyak program pemerintah yang tidak sampai dan tidak dipahami oleh warga masyarakat karena informasinya tidak nyambung. Tidak adanya partisipasi masyarakat terhadap proses pembangunan di suatu wilayah, itu karena tidak adanya informasi yang baik, transparan dan mudah dimengerti oleh masyarakat. Para elit dan pejabat pasti selalu menggunakan bahasa yang tinggi-tinggi atas suatu program yang sedang dijalankan. Tetapi masyarakat hanya melongo karena tak mengerti. Di sinilah tugas seorang kepala dusun untuk menyambungkannya, menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh warga masyarakat terbawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil saja contoh di Kabupaten Jembrana. Program pendidikan gratis, program kesehatan gratis, program subsidi pajak bagi petani sawah, program transportasi masyarakat dengan “busway”, program bedah rumah dan lain sebagainya. Sudah sekian lama berjalan, belum ada seorang kepala dusun yang bisa menjelaskan: apa, bagaimana, kenapa, program tersebut diadakan? Masyarakat pun hanya sebatas bisa menikmati tetapi tidak memahami inti dan filosofinya. Dan hal ini berakibat pada rendahnya partisipasi masyarakat, karena masyarakat bingung mau bagaimana.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, bahwa seorang kepala dusun adalah ujung tombak dinamika sebuah negeri. Kepala dusun adalah muara tempat masyarakat meminta kepada negaranya sekaligus memberi juga kepada negaranya dalam bentuk partisipasi riil. Dan momentum pergantian sebagian kepala dusun yang kini bergulir di Kabupaten Jembrana seyogyanyalah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempertajam lagi komitmen membangun kesejahteraan dan keadilan yang lebih baik bagi masyarakat. Bahwa keberadaan seorang kepala dusun adalah sangat penting jika dia memahami kesejatiannya bagi warga masyarakat, tetapi juga bisa tidak penting sama sekali bila dia menjadi kepala dusun yang tidak memahami hakekat jabatan dan pengabdiannya!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-6561452704556396586?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/6561452704556396586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/kepala-dusun.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6561452704556396586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6561452704556396586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/kepala-dusun.html' title='Kepala Dusun'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7594193672607778300</id><published>2008-10-11T21:40:00.000+07:00</published><updated>2008-10-11T21:44:42.333+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FORUM'/><title type='text'>DR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Coba bayangkan, bagaimana jika anda adalah salah satu dari mereka yang disebut-sebut sebagai para penjarah hutan di kawasan Hutan Lindung Bali Barat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kira-kira anda akan punya alibi, atau setidaknya argumen, bahwa anda adalah warga miskin yang terpaksa tinggal di sebuah dusun yang tak jauh dari hutan. Kebun anda yang sepetak dengan tanaman pisang, tak lagi bisa dipanen karena terserang penyakit busuk batang. Anda juga punya beberapa puluh pohon coklat yang harga buahnya juga jauh lebih rendah dari harga pupuk di KUD. Maka anda akan mengatakan, bahwa hasil dari kebun anda itu tak pernah cukup untuk biaya hidup keluarga serta biaya pakaian sekolah anak anda yang tiga orang. Tak pernah cukup untuk uang dapur istri anda, cicilan televisi, cicilan VCD Player serta sesekali memasang judi togel. Tak pernah cukup untuk pengeluaran tambahan bila anda harus pergi kundangan ketika ada tetangga atau sanak keluarga punya hajatan. Tak pernah cukup untuk ongkos ketika anak bungsu anda yang berumur tujuh tahun masuk rumah sakit karena diare. Jadi, anda pun punya pembenar kenapa anda terpaksa ikut seorang juragan kayu kaya, pergi ke hutan menjadi tukang tebang sekaligus tukang pikul gelondongan-gelondongan kayu jati tersebut untuk dikumpulkan di gudang rahasia sang juragan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan teman saya yang ini memang penjarah hutan. Sebut sajalah namanya DR. Tiga tahun sudah ia keluar-masuk hutan di kawasan Kecamatan Melaya, Bali Barat. Tapi dia bukanlah seperti anda yang punya kebun sepetak walau hasilnya tak pernah cukup. Teman saya ini masih lajang. Belum kawin karena umurnya paling banter baru dua puluh dua tahun, dan, maaf, wajahnya sangat jauh dari sebutan ganteng. Ditambah lagi dia dan keluarganya hanya hidup menumpang di sepetak kebun gersang milik orang kota. Hanya menumpang. Rumahnya yang berdinding kelabang don nyuh (anyaman daun kelapa), tak lebih bagus dari gubuk-gubuk sementara para pengangon bebek (penggembala itik) musiman di sawah-sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR ditinggal mati oleh bapaknya yang sakit ginjal. Diwarisi hutang biaya berobat di Rumah Sakit Sanglah Denpasar sebelum akhirnya pergi selamanya. Diwarisi seorang ibu yang tak bisa berbuat apa-apa selain menanak nasi dan menganyam ingke (semacam piring atau talam dari lidi daun kelapa). Diwarisi lima orang adik yang masih kecil-kecil karena sang ibu dulu alergi alat kontrasepsi KB. Semua alat kontrasepsi sudah dicoba, tetapi sang ibu dulu sakit melulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekian warisan masalah, teman saya ini beruntung diambil dan diajak bekerja oleh seorang juragan kayu di Melaya. Badan dan semangatnya yang besar menjadi modal utama. Saban hari dia diajak masuk hutan, menebang dan mengangkut kayu. Sehari dia mendapat upah bisa sampai seratus ribu. Tapi sebelum menerima upah itu, DR diajak dulu main di kafe-kafe atau di sebuah lorong di kawasan Pelabuhan Gilimanuk atau pantai remang-remang  Delodberawah di selatan kota kabupaten. Keesokan harinya, upah baru diserahkan setelah dipotong uang minuman dan ongkos wanita penghibur semalam suntuk. Teman saya ini lalu pulang membawakan sang ibu uang antara sepuluh ribu hingga lima belas ribu rupiah buat biaya hidup dengan adik-adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun teman saya ini hidup dengan cara yang penuh resiko itu. Tapi dia mengaku bahagia dan puas. Maka saya tak pernah berani coba-coba menasehatinya agar misalnya berhenti menjarah hutan atau berhenti ke kafe dan membeli kesenangan dari perempuan penghibur. Saya biarkan dia, pun setiap ketemu dia masih saja minta rokok pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lalu, adalah pertemuan terakhir saya dengan DR. Malam-malam, kami sedang berkumpul bakar-bakaran ikan tongkol di sebuah rumah teman lain dekat bale banjar. Tiba-tiba seseorang menjemputnya. “Ada penting dari boss,” ujar orang yang menjemputnya itu dengan nada penuh tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, saya dengar DR sudah meringkuk di penjara. Dia didakwa memiliki satu truk kayu jarahan yang sedang diangkut entah menuju ke mana. Dan DR di-”sewa” oleh seorang boss untuk mengakui kayu-kayu yang tertangkap polisi itu adalah miliknya. Konon teman saya itu dijanjikan gaji lima puluh ribu perhari jika mau menggantikan sang boss masuk penjara selama satu tahun. DR menerima tawaran itu dengan senang hati demi kehidupan sang ibu dan kelima adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang pertama kali mendengarnya, juga tak merasa apa-apa. Saya dan teman-teman yang lain malah bersyukur dan memuji tindakan DR yang rela mengorbankan diri demi keluarga. Dengan gaji lima puluh ribu perhari, saya berharap keluarga itu sedikit akan bisa menolong hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari dan bulan-bulan berjalan. Saya dan teman-teman tak sempat lagi memikirkan DR yang meringkuk di penjara. Terlalu banyak yang harus kami ingat dan harus kami kerjakan untuk hidup kami sendiri. Sementara itu, peristiwa demi peristiwa juga terus mengepung hidup dengan begitu bertubi, menyerobot bahkan setiap celah tarikan nafas. Belum selesai satu peristiwa, yang lain telah menyusul. Dan di antaranya, penjarahan demi penjarahan isi hutan di kawasan Bali Barat itu terus pula terjadi secara ajaib dan penuh misteri. Bahwa jejak para penjarah itu jelas ada, tetapi sosoknya seolah tak tersentuh, seolah tak kasat mata.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dan belum lama ini, saya tak sengaja melewati rumah DR.  Hari sudah beranjak petang. Ketika melintas di halaman rumah gubuk yang belum diterangi cahaya lampu itu, saya melihat keadaannya sudah semakin kropos. Sepi. Dingin dan sekelam setiap yang bernama kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak melihat sang ibu ada di sana. Saya hanya melihat salah seorang adiknya yang berumur empat tahun sedang duduk melamun sendiri di emper depan. Anak lelaki kurus tanpa baju itu seperti sedang menunggu. Entah menunggu sang ibu dan saudara-saudaranya yang sedang pergi ke mana, atau sedang menunggu apa. Saya memberinya senyum, tapi dia bergeming. Lama kami bertatapan, tapi kami tak menemukan sepatah kata pun yang pantas diucapkan. Saya merogoh saku, mengulurkan selembar uang. Tapi anak itu menggeleng bahkan mundur beberapa langkah menuju pintu rumahnya yang gelap. Dan entah kenapa, saya juga ikut mundur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya segera beranjak pergi. Tetapi pikiran saya tak mau pergi dari halaman rumah itu. Sebuah pertanyaan terasa menggaruk-garuk tempurung kepala saya. Benarkah DR selama meninggalkan sang ibu di penjara telah menerima gaji yang dijanjikan sang boss kepadanya? Saya ragu, bahkan tak menemukan jawaban!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7594193672607778300?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7594193672607778300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/dr.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7594193672607778300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7594193672607778300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/dr.html' title='DR'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-6912698656786126082</id><published>2008-10-06T15:39:00.000+07:00</published><updated>2008-10-06T15:45:30.113+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Teringat Mbok Murni</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SOnPhogNN3I/AAAAAAAAAco/ldUQVSNI1pY/s1600-h/Sketsa-7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5253958617019529074" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SOnPhogNN3I/AAAAAAAAAco/ldUQVSNI1pY/s200/Sketsa-7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;maka engkau berangkat lebih dulu&lt;br /&gt;tak apa, di depanku selangkah&lt;br /&gt;bukanlah terlalu jauh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;SENJA&lt;/strong&gt; yang bergerimis itu tiba-tiba terasa kosong. Sebuah pesan pendek di handphone beberapa kali harus dibaca untuk meyakinkan bahwa: telah berpulang Gusti Ayu Kadek Murniasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu, 11 Januari 2006, hampir tiga tahun silam. Mbok Murni, demikian biasa teman-teman pelukis-pelukis muda Bali memanggil serta menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu, walau saya dan dia begitu jarang bertemu, telah memahat sesuatu yang lain di hati saya. Dia pernah “mengomeli” saya tentang bagaimana caranya mencintai kehidupan. “Lakukanlah sesuatu dengan iklas, sekemampuanmu, tanpa harus memaksakan diri untuk menjadi yang lain. Jadilah dirimu sendiri,” ujarnya suatu senja di studionya, di Ubud-Gianyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kalimat yang bagi orang kebanyakan sudah demikian klise sebenarnya. Tetapi ketika yang mengucapkannya adalah Murni, terlebih lagi kepada diri saya, kalimat itu terasa menjadi “baru” dan orisinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, di tengah kesibukan anak-anak bangsa saat ini untuk menjadi “hebat”, Murni memberi saya contoh bahwa “kehebatan” bukan sesuatu yang harus diburu dengan ngotot. Murni sendiri menjadi hebat hanya karena keiklasannya bersikap. Keiklasan untuk biasa-biasa saja. Belajar terus sekaligus bekerja sebagaimana biasa, tidak gembar-gembor untuk mencari popularitas, tidak munafik, hormat kepada siapa saja yang datang atau ditemuinya. Ya, Murni hebat, setidaknya di mata saya, karena dia seorang perempuan yang menjaga dirinya untuk biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hidup Murni adalah “hanya sebagai pelukis”, dia pun dengan sadar untuk hanya bicara tentang apa yang dipahaminya. Ketika kami bertemu tahun 2000 yang lalu, di mana saat itu situasi sosial politik di Tanah Air sedang panas-panasnya, di mana saat itu setiap orang sekonyong-konyong “menjadi negarawan” menjadi reformis, Murni tetap hanya menjadi dirinya sendiri. Banyak sekali pelukis (seniman) saat itu yang ikut berebut tempat serta kesempatan berbicara soal bangsa dan negara, soal-soal politik, soal-soal kekuasaan, tetapi Murni tetap hanya bicara soal: “Bagaimana kabarmu?” atau “Ada karya baru lagi apa belum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sederhananya dia. Tidak ikut dia berangan-angan misalnya kesenian, seniman dan kebudayaan agar lebih diakui dan dilindungi oleh negara dengan misalnya membuat kementerian khusus, tidak ikut dia berpropaganda bahwa bangsa dan negara ini akan lebih baik jika kesenian dan kebudayaan lebih diperlakukan dengan adil atau lebih dihormati. Murni tidak pernah latah. Tidak pernah makesiab dengan apapun yang terjadi. Dalam kesehariannya, Murni begitu biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena dia hanya seorang perempuan Bali yang tidak berpendidikan tinggi. Tidak tamat SMP, sehingga bagian kiri dan bagian kanan otaknya mampu bersinergi secara seimbang tanpa ada semacam kompetisi untuk saling menonjol. Artinya, dalam “keterbatasan” intelektualitasnya, Murni justru mampu memurnikan dirinya sebagai yang sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, (meminjam istilah abang saya), jangan-jangan Murni juga adalah “perempuan salah”. Maksudnya, di tengah-tengah kebangkitan para perempuan untuk merebut posisi yang sama dengan laki-laki, Murni justru kukuh bertahan pada keperempuanannya. Di tengah-tengah kesibukan perempuan Bali menjadikan dirinya semakin Bali dengan segala kenyinyiran budaya yang tiba-tiba mengkristal, Murni justru berada pada posisi “antara”. Sebagaimana yang selalu tak dikatakannya, tetapi dilakukannya, bahwa posisi tidak perlu direbut. Posisi itu lebih sebagai karunia alam dan ilahi bagi siapa yang pantas tanpa menghitung jenis kelamin dan asal-usul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyingung soal asal-usul, jika dikaitkan dengan kesenimanannya, Murni pun berasal dari “tempat yang salah” pula. Lahir dari keluarga miskin di Medewi – Jembrana, Murni kecil diajak orang tuanya bertransmigrasi ke Sulawesi dan otomatis putus sekolah. Tidak kerasan di daerah pemukiman transmigran, Murni ke kota Ujungpandang dan menjadi pembantu di sebuah keluarga Tionghoa. Sambil menjadi pembantu, dia sempat disekolahkan oleh majikannya. Tetapi hanya sampai kelas II SMP dia tidak kuat karena kelelahan. Lalu ikut diajak pindah ke Jakarta. Dari Jakarta kemudian dia minta pulang dan “nyasar” di Celuk Sukawati, Gianyar. Bekerja di perusahaan perhiasan perak selama dua tahun dan mulai “memberontak” dengan membuat disain-disain sesuai kreasinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan di Celuk, Murni pindah dan menetap di Ubud. Belajar melukis sebagaimana kebanyakan pelukis setempat dengan gaya Pengosekan-nya. Tetapi ketika menyadari bahwa sudah ada ribuan lukisan dengan gaya yang sama berserakan di sekelilingnya, Murni mencari bentuk yang lain untuk dirinya. Dan dia menemukannya dalam kesederhanaan yang begitu kanak-kanak. Sebuah kenaifan yang justru telah lama dilupakan orang. Dan di situlah Murni menempatkan diri sekaligus ditempatkan oleh alam dan kemauan ilahi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan kini dia sudah pergi. Masih begitu muda. Dan syukurnya, masih dalam kesederhanaan yang kukuh menggenggamnya. Dan saya tak tahu, di manakah dia mendapat tempat “di sana”? Tetapi saya tentu tak perlu memikirkan hal ini terlalu jelimet. Seperti yang selalu (tak) pernah dikatakan Murni kepada saya, bahwa: posisi atau tempat tidak perlu direbut. Tempat itu lebih sebagai karunia alam dan ilahi bagi siapa yang pantas. Selamat jalan, Mbok Murni!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#990000;"&gt;&lt;em&gt;sketsa: made suta kesuma&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-6912698656786126082?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/6912698656786126082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/teringat-mbok-murni.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6912698656786126082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/6912698656786126082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/teringat-mbok-murni.html' title='Teringat Mbok Murni'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SOnPhogNN3I/AAAAAAAAAco/ldUQVSNI1pY/s72-c/Sketsa-7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-2416802340091079189</id><published>2008-10-04T12:20:00.000+07:00</published><updated>2008-10-04T12:31:20.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SERAMBI SENJA'/><title type='text'>Ber-Salah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Barangkali bagian yang paling kurang menyenangkan dalam kehidupan manusia adalah ketika dia “ber-salah”. Beda sekali dengan misalnya dia “ber-punya”, “ber-untung”, “ber-cinta”, “ber-teman”, “ber-pangkat”, “ber-kuasa”, “ber-anak”, “ber-main”, “ber-sepatu”, “ber-pelukan”, “ber-canda”, “ber-titel”, “ber-tamu”, “ber-keluarga”, “ber-agama”, “ber-tuhan” dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa di antara sekian “ber”itu harus ada kata ber-salah? Adakah salah itu juga ciptaan Tuhan? Adakah ber-salah itu adalah ciptaan agama? Adakah ber-salah itu ciptaan kebudayaan? Adakah ber-salah itu hanyalah ciptaan manusia saja? Atau adakah ber-salah itu sesungguhnya hanya ciptaan seseorang saja? Apa sih ukuran ber-salah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana mulanya, bahwa bersalah lawannya adalah benar. (Saya tidak tahu apakah ada istilah “ber-benar”?). Apa sih ukuran benar itu? Adakah salah dan benar punya ukuran? Kalau ada, siapa yang membuat ukuran itu? Di mana ukuran itu berada? Seberapa akurat takarannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika seseorang dinyatakan bersalah, betapa kemudiam setiap orang yang ada di sekelilingnya langsung merasa benar. Setiap orang lantas bicara soal kebenaran. Setiap orang seketika menyodorkan ukuran kebenaran dari sudut pandang dan selera masing-masing. Setiap orang sekonyong-konyong memulai ucapannya dengan kata “seharusnya”. “Seharusnya dia begini!” “Seharusnya dia begitu.” “Sebagai anu, seharusnya dia tidak begitu tetapi seharusnya begini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada saat yang sama, adakah orang-orang yang merasa sedang benar itu teringat pula bahwa kebenaran yang dia pegang justru ada karena ada orang yang dia persalahkan? Tanpa adanya orang yang dipersalahkan itu, kebenaran apa pula yang dapat dipegang? Betapa sejatinya salah dan benar hanyalah sebuah keutuhan dari sebuah kelengkapan, tak terpisahkan, karena keberadaan yang satu dengan yang lainnya saling berkait dan berketergantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ironis, ketika seseorang dianggap bersalah, setiap orang lain tiba-tiba justru merasa bahagia. Dengan histeria, orang-orang bergunjing, berbisik-bisik, tertawa, di atas kesalahan yang dilakukan orang lain yang notabene kaumnya sendiri. Seolah-olah, dengan adanya seseorang bersalah, orang lain mendapat tenaga baru untuk membuat hidupnya lebih hidup. Sementara itu pula, dunia pun secara mendadak dirubah settingnya untuk menutup segala pintu masuk bagi orang yang dianggap bersalah itu. Dunia hanya milik mereka yang merasa benar dalam dirinya sendiri. Ia yang bersalah adalah mahluk asing yang bahkan tak pernah mereka kenal sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sini, betapa dunia dan kehidupan menjadi tak seimbang. Dunia diposisikan hanya sebagai tempat orang-orang benar. Dunia dikaburkan hanya dengan satu warna yang bernama kebenaran. Tapi logikanya, bagaimana sesungguhnya kita dapat bicara soal kebenaran bila di depan kita tak ada sekeping cermin pun untuk memantulkan cahaya kebenaran itu sendiri? Adakah yang merasa benar itu sadar bahwa cermin itu sendiri adalah apa yang mereka sebut kesalahan? Maka sejatinya, eksistensi itu sendiri adalah rangkaian tak terpisahkan dari salah dan benar. Karena saya percaya, saya tak dapat hidup hanya di salah satu ruang itu saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;nanoq da kansas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-2416802340091079189?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/2416802340091079189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/ber-salah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2416802340091079189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2416802340091079189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/10/ber-salah.html' title='Ber-Salah'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7729002328995897905</id><published>2008-09-29T14:03:00.001+07:00</published><updated>2008-11-25T10:56:10.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Selamat Idul Fitri</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SOCAKZTg_XI/AAAAAAAAAbg/Sr3T06T9TRQ/s1600-h/Idul+Fitri.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251338081593785714" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SOCAKZTg_XI/AAAAAAAAAbg/Sr3T06T9TRQ/s320/Idul+Fitri.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7729002328995897905?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7729002328995897905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7729002328995897905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7729002328995897905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/blog-post.html' title='Selamat Idul Fitri'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SOCAKZTg_XI/AAAAAAAAAbg/Sr3T06T9TRQ/s72-c/Idul+Fitri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-7252374776482541438</id><published>2008-09-26T17:21:00.001+07:00</published><updated>2008-09-26T17:30:46.283+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Beradab</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Bagian dari beradab dalam kehidupan manusia adalah ketika dia (manusia) menjadi pejabat atau pembesar tidaklah lantas mengedepankan sifat sok, merasa paling berkuasa, merasa harus selalu dipatuhi, merasa harus selalu dinomorsatukan sehingga akhirnya dalam setiap kesempatan harus dilayani oleh orang lain yang tidak menjadi pejabat atau pembesar. Manusia disebut beradab, maka ketika dia menjadi pejabat atau pembesar semacam presiden, gubernur, menteri, bupati, camat, kepala bagian, kepala kantor, anggota DPR, jaksa, hakim, kapolsek, kapolres, jendral, lurah, kepala desa dan seterusnya, tidaklah lantas merasa paling hebat, merasa menjadi manusia yang jauh lebih unggul dari yang lainnya sehingga dia dengan sadar tidak menggunakan jabatannya sebagai alat kekuasaan untuk mengatur serta memperlakukan orang lain sekehendak hatinya. Dia tidak gila hormat, sehingga apabila bertemu dengan manusia lain yang bukan sesama pejabat atau pembesar, dengan lapang hati mau menyapa duluan tanpa harus disapa duluan. Dia tidak memandang orang lain sebagai bawahan, tetapi setiap orang adalah rekannya yang sejajar walau dengan peran dan tugas serta nasib yang tidak sama. Dia selalu bisa memandang seorang petani, buruh, tukang ojek, tukang pikul karung di pasar, adalah sebagai para partner yang justru membantu dirinya di dalam melakukan tugas-tugas kehidupan. Soalnya, kalau tidak ada petani, buruh, tukang sapu jalanan, supir bemo dan yang lainnya, manalah mungkin seorang pejabat atau pembesar dapat bekerja melakukan tugas-tugasnya dengan aman dan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dari beradab dalam kehidupan manusia adalah ketika dia (manusia) menjadi dokter tidaklah lantas lupa pada tugas dan kewajiban mulianya sebagai tukang mengobati orang sakit. Dia tak peduli yang sakit itu siapa, tetapi yang diutamakan adalah bagaimana menyembuhkan orang itu dari penyakit yang dideritanya. Dia tidak peduli apakah pasiennya seorang bupati, polisi, tentara, tukang parkir, pengemis, pemabuk, penjahat atau yang lainnya, tetapi dia dengan sadar dan tulus hati serta cekatan memberi pertolongan dengan segala kemampuan untuk menghilangkan penyakit. Dia tidak peduli, entah harus pergi ke dusun-dusun terpencil, ke gang-gang kumuh, ke kompleks perumahan mewah, ke penjara, entah tengah malam, tengah hari, pagi, siang, sore, hujan atau panas, demi menolong orang sakit. Dia tidak peduli apakah pasiennya lelaki, perempuan, bencong, beragama atau komunis atau atheis, putih atau hitam, kecil atau besar, tua atau muda, cantik atau jelek, yang penting semuanya adalah sesama manusia. Soalnya dia juga dengan rendah hati sungguh menyadari bahwa eksistensinya sebagai dokter justru ada kerena orang sakit, bukan karena penyakit itu sendiri. Coba, apa gunanya dokter biar pun ada berjuta-juta macam penyakit tetapi tak satu pun ada orang sakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dari beradab dalam kehidupan manusia adalah ketika dia (manusia) menjadi polisi atau tentara tidaklah lantas petantang-petenteng sok jago di depan orang lain karena merasa punya senjata dan pemegang kuasa atas hukum. Biarpun misalnya dia seorang jendral, dia tetaplah rendah hati dan santun, ramah kepada setiap orang, gampang ditemui kalau diperlukan oleh masyarakat dari golongan manapun, tidak senantiasa curiga kepada orang lain yang kelihatan sedikit kumal, kucel, berpakaian dekil, urakan dan seterusnya. Dia akan senantiasa terbuka untuk diajak ngobrol, tidak senantiasa mengelus-ngelus pangkat dan bintang kepangkatan yang disandangnya sebagai berhala yang juga harus dipuja oleh orang lain yang bukan polisi atau tentara. Dia selalu sadar akan arti kehadiran orang lain, bahwa setiap orang, termasuk dirinya sendiri punya potensi yang sama untuk berbuat jahat atau berbuat baik. Dia selalu mengedepankan dialog, bukan asal bentak atau asal pukul atas orang yang dianggap bersalah. Soalnya, sebagai polisi atau tentara, sebenarnya dia semata-mata hanya diberikan bagian tugas oleh orang lain untuk menjaga keamanan dan ketertiban agar kehidupan bersama dapat berjalan normal dan wajar. Bukan justru untuk menciptakan kesan bahwa hidup ini penuh dengan syakwasangka dan kecurigaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dari beradab dalam kehidupan manusia adalah ketika dia (manusia) menjadi pendeta, peranda, biksu, ulama, pastur, kyai, pemangku, mpu, rsi, ustad, tidaklah lantas merasa sebagai orang yang paling suci di antara orang lain. Dia tidak suka mengklaim dirinya sebagai sumber kebenaran di dalam tata cara manusia berhubungan dengan tuhannya, apalagi lantas menganggap bahwa agama masing-masing yang dianutnya adalah sebuah kebenaran yang paling mutlak di atas bumi. Sebaliknya, dia justru mampu dengan rendah hati melihat realitas di sekelilingnya sebagai kesempurnaan ciptaan ilahi tanpa membanding-bandingkan perbedaannya apalagi lantas memberi penilaian berdasarkan keyakinannya sendiri. Dia juga tidak takut kehilangan pengikut, sisya, umat, kemudian dengan kotbah-kotbah yang absurd mempengaruhi orang lain agar senantiasa taqua justru dengan menjelek-jelekkan agama orang lain pula. Soalnya, yang bernama kepercayaan, yang bernama agama, aliran, atau sekte, toh juga masih senantiasa memerlukan tafsir, memerlukan terjemahan yang lebih riil, lebih manusiawi, karena yang sesungguhnya diurus oleh agama adalah manusia itu sendiri. Agama tidaklah mengurus Tuhan, karena Tuhan-lah yang menciptakan agama. Buat apa Tuhan repot-repot menurunkan agama jika hanya untuk mengurus diri-Nya sendiri? Jadi, orang yang dianggap atau diserahi tugas untuk mengelola agama, entah itu pendeta, peranda, biksu, ulama, pastur, kyai, pemangku, mpu, rsi, ustad, dan sebutan lainnya, kalau memang dia beradab pastilah orang yang justru rendah hati, lapang jiwa dan penuh sifat kemanusiawian, welas asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dari beradab dalam kehidupan manusia adalah ketika dia (manusia) menjadi pengelola media massa semacam wartawan, pemimpin redaksi, redaktur pelaksana dan jajarannya, tidaklah lantas dengan sewenang-wenang menggunakan penanya untuk membuat berita yang senantiasa menyalah-nyalahkan orang lain. Dengan rendah hati dia akan senantiasa menulis dan atau menurunkan berita sesuai etika yang disepakati pada bidangnya. Tidak melulu berpikir untuk membuat berita yang hebat-hebat dan besar-besar tetapi di dalamnya hanya tersusun kata-kata penghujatan, penghinaan, pemojokan, provokasi, agar beritanya diperhatikan orang dan korannya laku keras. Wartawan, pemimpin redaksi, redaktur pelaksana dan sejenisnya yang beradab, adalah orang-orang yang tahu dan sadar betul atas berita yang ditulisnya adalah sebagian besar untuk kemaslahatan bersama. Mereka senantiasa jujur luar dan dalam, tidak melulu menulis soal kejahatan dan perilaku buruk orang lain, tetapi sementara itu mereka sendiri secara sadar menggunakan penanya menjadi senjata untuk memeras orang lain yang dijadikannya sumber berita. Wartawan, pemimpin redaksi, redaktur pelaksana dan jajarannya yang beradab adalah orang-orang yang rendah hati, bisa memandang posisi orang lain bukan sebagai obyek untuk pendapatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dari beradab dalam kehidupan manusia adalah ketika dia (manusia) menjadi manusia yang manusiawi saja. Dan beradab itu tidaklah sulit.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#990000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-7252374776482541438?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/7252374776482541438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/beradab.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7252374776482541438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/7252374776482541438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/beradab.html' title='Beradab'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-2703993487350081861</id><published>2008-09-20T14:25:00.002+07:00</published><updated>2008-11-25T10:59:55.616+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAIN-LAIN'/><title type='text'>Mohon Doa Restu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SNSl0FzS9DI/AAAAAAAAAbY/T-p1ReM3yiM/s1600-h/3+bulan+Elang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248001780122580018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SNSl0FzS9DI/AAAAAAAAAbY/T-p1ReM3yiM/s320/3+bulan+Elang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-2703993487350081861?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/2703993487350081861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/mohon-doa-restu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2703993487350081861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/2703993487350081861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/mohon-doa-restu.html' title='Mohon Doa Restu'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SNSl0FzS9DI/AAAAAAAAAbY/T-p1ReM3yiM/s72-c/3+bulan+Elang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-1870098492424248826</id><published>2008-09-15T15:28:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T15:31:44.816+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAY'/><title type='text'>Puasa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Setiap bulan puasa beberapa tahun belakangan ini, saya selalu teringat Mbah Danu, Mbah Sinem, Mbah Wongso, Mbah Gareng, Mbah Bariah, Mbah Saido, Mbah Taridi dan mbah-mbah para tetangga kami yang Jawa tiga puluh tahunan lalu. Waktu itu saya masih kecil. Tetapi hampir setiap malam, mendengar suara mereka menembangkan Dhandanggula, Sinom atau Pangkur tidak jauh di seberang kali yang membatasi kampung kami. Saya dan orang tua tinggal di timur sungai – kampung orang Bali, sedang para mbah itu di barat sungai – kampung orang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbah Sinem sudah pulang dari langgar. Itu suaranya nembang pangkur,” demikian nenek memberi tahu saya atas tembang sayup-sayup yang dibawa angin malam itu. “Sekarang mereka pasti begadang sambil menunggu sahur,” lanjut nenek lagi. Dan benar, kalau saya tertidur beberapa jam kemudian, tembang yang sayup-sayup dari seberang sungai itulah yang mengiringinya. Kadang saya bermimpi jadi seorang raja seperti cerita dalam tembang pangkur itu. O ya, saya sejak kecil cukup fasih berbahasa Jawa. (Apalagi nenek saya. Ia berbahasa Jawa nyaris sempurna. Ya, karena rumah kami memang berbatasan dengan kampung Tetelan, kampungnya para Mbah Jawa itu). Jadi, cerita-cerita dalam beberapa tembang Jawa itu pun dapat saya mengerti. Dan keliaran imajinasi dalam kepala kecil saya itulah yang sering mengantar saya dalam mimpi-mimpi aneh tetapi indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, setiap bulan puasa, atau sepanjang bulan Ramadhan beberapa tahun belakangan ini saya selalu ingat para Mbah Jawa itu. Pertama karena kerinduan akan tembang-tembang mereka sepulang dari langgar sambil menunggu waktu sahur. Kedua, saya kangen pada cara hidup mereka yang begitu sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya tidak pernah melihat bulan puasa membuat orang sesibuk sekarang. Dulu, tiga puluh tahun yang lalu, saya kecil bahkan dapat merasakan bagaimana tenang dan damainya bulan puasa. Kendati berpuasa, para Mbah Jawa di seberang sungai itu tetap bekerja di kebunnya, sibuk dengan tanaman-tanaman jagung, ketela atau pisang-pisangnya. Memang tidak sehari penuh seperti biasanya. Tengah hari mereka tidur sebentar. Lalu sebagai petani tulen, sepanjang sore, mereka tetap mengerjakan hal-hal kecil seperti memperbaiki kurungan ayam, memperbaiki kungkungan (rumah lebah dari batang pohon pinang) yang mereka gantung berderet di pohon-pohon kopi seluas halaman rumah mereka, sambil menunggu maghrib saat berbuka lalu mereka sholat tarawih ke langgar. Dan sepulang dari langgar, begitulah mereka menghabiskan malam dengan tembang-tembangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kangen pada cara hidup mereka yang sederhana. Menjalani ibadah sepanjang bulan puasa, para Mbah Jawa itu tak pernah direpotkan oleh tetek bengek yang kini terkesan begitu berlebihan. Cobalah sekarang dengar obrolan para ibu rumah tangga yang menjalankan ibadah puasa.&lt;br /&gt;“Aduh Mbak Yu, nanti malem berbuka pakai apa ya?”&lt;br /&gt;“Saya masak opor ayam saja. Juga bikin kolak pisang. Tapi kok sulit ya nyari pisang yang baik?”&lt;br /&gt;“Kalau saya sih sudah bosan dengan kolak dan opor. Mungkin saya mau masak gule saja dan bikin es cendol. Anak-anak juga pada minta puding.”&lt;br /&gt;“Saya nanti beli di warung saja. Sekarang kan banyak warung yang menjual makanan buat berbuka. Tapi saya mau bikin kolak juga nih. Di mana ya nyari pisang?”&lt;br /&gt;“Saya masak soto dan sate daging sapi. Juga bikin kue lapis keju.”&lt;br /&gt;“Mbok ya pinjemi saya buku resep masakannya, Mbak Yu. Saya sudah bingung mau masak apa. Rasanya sudah semua jenis masakan saya coba.”&lt;br /&gt;“Eh, saya mau bikin ayam panggang bumbu rujak sama sop buntut. Soalnya nanti suami saya mau buka puasa bersama teman-teman kantornya di rumah. Minumnya pakai apa ya biar pas? Ah, es sirup markisa saja mungkin.”&lt;br /&gt;“Aduh, di mana ya nyari kelapa muda pakai buka puasa nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga! Sekarang saya sering bingung mendengar para ibu rumah tangga sepanjang bulan puasa ini. Entah kenapa bulan puasa tiba-tiba menjadikan mereka begitu sibuknya tentang masakan dan makanan. Bahkan tidak saja di kota, para ibu-ibu rumah tangga di kampung pun tak berbeda. Sekonyong-konyong mereka merasa begitu kebingungan tentang makanan dan berebut mencari buku resep masakan hanya agar bisa menghidangkan sesuatu yang istimewa saat berbuka puasa. Dan sepanjang bulan puasa ini, sebagian besar pikiran mereka justru terkuras hanya pada soal-soal makanan yang enak-enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu televisi juga tak kalah cerewetnya. Sebagian besar iklan dihabiskan oleh berbagai produk makanan yang ditawarkan dengan iming-iming “pas untuk berbuka puasa”. Kecap, penyedap rasa, ayam kentucky, roti, biskuit, susu, hingga es krim tiba-tiba menjadi ikut diistimewakan setingkat dengan keistimewaan bulan puasa itu sendiri. Padahal di saat yang sama pula, di televisi, para tokoh agama wanti-wanti bicara soal pengendalian hawa nafsu. Bahwa bulan puasa, sama sekali tak pernah disinggung para kiyai dan tokoh-tokoh agama lainnya adalah bulan yang mesti dilengkapi dengan berbagai hidangan istimewa di meja makan untuk berbuka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka begitulah saya teringat dengan para Mbah Jawa di sebelah kampung saya yang hidup tiga puluhan tahun silam. Kendati mereka menjalankan ibadah puasa, berbuka atau sahur bagi mereka bukanlah sesuatu yang mesti diistimewakan dalam hal menu makanannya. Saat berbuka, mereka tetap saja bersyukur dan bahagia dengan nasi jagung, sayur daun ketela dan tempe goreng serta singkong rebus yang memang sehari-hari sudah menjadi menu mereka. Waktu itu, kendati saya bukan muslim, saya kecil sering juga diajak makan bersama saat mereka berbuka puasa. Walau saat itu juga saya tak mengerti hakekat bulan puasa kecuali hanya bisa ikut merasakan ketenangan dan kedamaiannya. Sekarang saya kangen dengan mereka. Dengan kedamaian dan kesahajaan itu!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#990000;"&gt;nanoq da kansas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-1870098492424248826?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/1870098492424248826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/puasa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1870098492424248826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/1870098492424248826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/puasa.html' title='Puasa'/><author><name>Nanoq da Kansas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00077414442718167052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SP1jSug6rtI/AAAAAAAAAeY/0cOBiparN9A/S220/NANOQ-5b.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1399433578627318852.post-5621486765059571187</id><published>2008-09-12T13:14:00.000+07:00</published><updated>2008-09-12T13:29:05.301+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SMoL_pGjOzI/AAAAAAAAAbQ/Ue7pRiVK-40/s1600-h/Beerkabung.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245017904019356466" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Ex8mjbeuEQk/SMoL_pGjOzI/AAAAAAAAAbQ/Ue7pRiVK-40/s320/Beerkabung.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Saya sedang sedih. Anak anjing yang dulu saya temukan di tengah jalan raya dan ditinggal induknya lalu saya beri nama &lt;strong&gt;Bandit Juga&lt;/strong&gt;, telah mati kemarin, Kamis 11 September pagi. Dia mati setelah selama tiga hari menderita &lt;em&gt;distamper&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1399433578627318852-5621486765059571187?l=nanoqdakansas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/feeds/5621486765059571187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nanoqdakansas.blogspot.com/2008/09/saya-sedang-sedih.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1399433578627318852/posts/default/5621486765059571187'/><link rel='self' type='application/atom+x
